Banghas

Tsunami dan Hari-hari Perpisahan

2544
×

Tsunami dan Hari-hari Perpisahan

Sebarkan artikel ini

Sebuah acara setelah pernikahan kami di Masjid Raya Baiturrahman pada tanggal 9 Desember 2004 digelar di kediaman kami Gampong Blang Oi di Banda Aceh. Saat itu yang menjadi KUA Meuraxa sekaligus membawa khutbah nikah adalah Dr. H. IQBAL, S.Ag., M.Ag yang saat ini menjabat sebagai Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh.

Di Gampong Blang Oi selepas acara pernikahan, sebuah pelaminan kecil dipasang dan undangan makan untuk seluruh rombongan Linto (pengantin pria) dan tetangga sekitar rumah Dara Baro (pengantin perempuan).

Pernikahan Hasnanda Putra dengan Diana Maimun pada 9 Desember 2004, dengan KUA Kec Meuraxa dan ikut memberi khutbah nikah Dr. H. IQBAL, S.Ag., M.Ag yang saat ini menjabat sebagai Ka Kanwil Provinsi Aceh.

Ketika makan siang itu, penulis mulai merasakan tanda-tanda tidak biasanya namun sulit diungkapkan. Mungkin ini sebagai tanda-tanda perpisahan.

Malam hari nya group Seulaweut anak muda dari Gampong Lamteumen tampil memeriahkan hari pernikahan kami itu.

Lantunan Seulaweut, diselingi lagu-lagu Aceh mendayu di Lampoh Goeng Lorong satu malam itu. Seakan-akan alunan itu mengirim “pesan” bahwa perpisahan sudah sangat dekat.

Penulis masih ingat bagaimana antusias warga mendengarkan lagu-lagu dalam syair Aceh itu.

Hari terus berjalan, tiba-tiba saja pada hari Sabtu 25 Desember 2004 Ibunda tercinta Diana meminta kami untuk segera bergerak ke Medan agar besoknya minggu dapat melaju via Belawan ke Malaysia. Kami sempat berdiskusi untuk bergerak hari Senin saja, namun demikianlah tanda-tanda perpisahan itu seakan tidak kompromi dengan waktu.

“Tajak laju ngen Nyak Kak singeh, (berangkat terus besok sekalian ada kawan dengan nenek sebelah),” kata Ibunda pada 24 Desember 2004, sambil bergegas menyiapkan perlengkapan baju pakaian untuk kami bawa.

Ibunda Diana terus menambah kain-kain dalam tas koper kami, saya sempat berkata pada Diana. “Terlalu banyak baju dan kain yang kita bawa, ada baiknya kita tinggalkan sebagian tapi jangan tahu Ibunda,” kata saya.


Setelah 16 Tahun kami jaga sejarah dan ingatan bersama keluarga.

Besok hari di 25 Desember 2004, kami diantar dengan angkot “Labi-labi” khas Ulee Lheue bertuliskan Nadia di belakang, dan sang ayah menjadi supir. Ikut serta beberapa tetangga kaum ibu dan anak-anak Lampoh Goeng.

Lagi-lagi “aroma” perpisahan terbaca sekali sejak dalam perjalanan sampai lambaian terakhir sang ibunda di Terminal Seutui ketika kami sudah dalam Bus Kurnia.

Singkat cerita besok subuh 26 Desember 2004 kami tiba di Kota Medan. Dalam perjalanan di sekitar Kota Medan menuju terminal terjadilah gempa, walaupun kami tidak merasakan karena di dalam bus, namun kami melihat serentak warga Kota Medan keluar dari toko dan rumah ke halaman depan masing-masing.

Saat itu di pagi 26 Desember 2004 kami tidak pernah berpikir bahwa gempa besar yang dirasakan di Kota Medan itu adalah gempa Aceh. Kami sempat berupaya menghubungi rumah beberapa kali, namun tidak tersambung.

Siangnya, kami terus saja melaju Malaysia dengan kapal cepat dari Belawan tujuan Kota Penang Malaysia. Tak ada informasi tentang Aceh dan hubungan komunikasi ke Aceh yang terputus sama sekali membuat kami tidak mendapat informasi keadaan pasca gempa di Aceh.

Begitulah hari itu Gempa disusul Tsunami melanda dan meluluhlantakan hampir seluruh bangunan di Gampong Blang Oi dan Meuraxa. Kawasan paling dekat dengan lautan dan dikenal sampai kini sebagai Zero Tsunami Aceh.

Sang ayah, ibunda mertua dan seluruh penumpang angkot “Labi-labi” yang mengantar kami tidak pernah ditemukan sampai hari ini, begitu juga bangunan rumah dengan kamar pengantin dan persiapan pesta pernikahan kami hilang tak berbekas. Innalilahi wainnailaihi raji’un.

Kini 16 tahun sudah berlalu. Lorong kecil yang dulu “tak bernyawa” kini telah hidup kembali bersama putra-putri tercinta kami. Diana sang ibu dari putra-putri kami terus tegar mendidik buah hati yang beranjak dewasa: Sultan, Kaisar, Azka dan perempuan kecil kami Nadiva.

Musibah itu adalah ingatan paling bersejarah dalam hidup kami dan warga di Kota Banda Aceh. Sebuah musibah yang membuat dunia datang berduyun-duyun memberi dan mengantar bantuan. Suatu masa ketika dunia bergandengan tangan untuk kemanusiaan.

Hari-hari air mata dan duka, bencana kehilangan terbesar dalam sejarah Aceh. Semoga Allah tempatkan para syuhada, orang-orang tua kami dalam surga yang indah di sisi Nya, amin ya rabbal alamin. (Hasnanda Putra)