Banghas

Tangse dan Baret Merah Shahputra

2395
×

Tangse dan Baret Merah Shahputra

Sebarkan artikel ini
Sumber Foto : Google

Dalam konflik Aceh banyak kisah belum semuanya terungkap. Selain meninggalkan cerita pilu, haru, sebagian lain menyimpan kisah lucu bercampur ketakutan.

Salah satu kisah adalah tentang sosok seorang perwira satuan Komando yang dianggap “hantu kematian” paling mengerikan dalam sejarah konflik Aceh.

Namanya Shahputra, pria gempal tak banyak senyum ini cukup dikenal di periode tahun 1991/1992, di Tangse, Pidie.

Kebenaran nama tersebut juga sulit dibuktikan karena institusi yang menaunginya adalah korps elit komando, sarat dengan kerahasiaan.

Tangan Besi

Shahputra nama misteri dari satuan komando yang melekat dalam ingatan warga Tangse sepanjang waktu.

Shahputra sangat mendambakan kebersihan dan keindahan, dan untuk menciptakan suasana itu dia melakukan dengan berbagai cara. Kekerasan tak dapat dihindari, dia melakukan sangat serius dengan tangan besi.

Shahputra ibarat anak muda beringas dalam film India, tak peduli bandit atau orang biasa. Selama dianggap tidak mendukung yang dilakukannya maka bersiap-siaplah menerima ganjaran.

Hukuman tidak hanya diberikan untuk warga dewasa laki-laki, tapi juga untuk kaum ibu dan anak-anak sekolah. Gilanya lagi sikap kasar ini juga menimpa aparat lainnya di luar korps yang dia pimpin.

Seperti dialami seorang personil polisi yang disuruh mengambil puntung rokok yang dibuang ke tanah dengan mulutnya sendiri.

Ada yang direndam di sungai dari jam delapan malam sampai dini hari dalam suasana dingin menusuk.

Namanya benar-benar ibarat hantu kematian, maka membuatnya tersenyum adalah salah satu cara untuk selamat.

Shahputra tidak pernah terlihat memakai pakaian dinas, wajahnya yang garang berbalut baju preman makin membuat sosok ini penuh misteri.

Kadang perwira ini muncul tiba-tiba di tengah kerumunan warga. Kemampuan menyamar dan kadang terlihat seperti orang biasa yang linglung, menunjukkan dirinya potret utuh seorang komando dalam perang gerilya.

“Asai katrok meutuah nyan, jantong meudhup-dhup dan tinggai doa sagai,” sebut warga mengenang zaman itu.

Hampir tidak ada warga Tangse yang tidak mengenal sosok Shahputra kala itu, sebagian besar pernah mengalami kesialan masuk parit, ditampar sampai disuruh mandi dalam kubang di tengah dingin malam.

Atap rumah

Selain menegakkan kebersihan dengan tegas dia juga sering memunculkan ide gila atau tidak biasanya.

Suatu hari dia kembali buat gebrakan, tiba-tiba saja memerintahkan agar di setiap atap rumah warga (tampong) dicat putih.

Maka kala itu hampir sebagian besar atap-atap rumah bercat putih, mungkin kalau dilihat dari atas dengan heli atau teknologi drone sekarang bisa menghasilkan gambar yang rapi indah luar biasa.

Perintah lainnya Shahputra yang melegenda adalah seperti meminta semua warga membuat pagar bambu juga bercat putih.

Seorang Shahputra melekat namanya dalam kenangan warga Tangse sampai kini, malah di Gampong Pulo Mesjid 1 terdapat sebuah Lorong yang diberi namanya. Lorong itu dibuka atas jasanya, malah, dengan pelepasan peluru.

Tangan besi penegakan kebersihan itu cukup berhasil, kala itu dikenal program Tangse Bersinar atau bersih, indah, aman dan ramah.

**

Kini, tidak ada lagi ‘tampong’ Rumoh bercat putih karena hilang seiring waktu dan hampir tidak ada lagi yang buat pagar dari bambu berganti beton dan pagar berduri.

Tangse memang selalu penuh cerita di balik kemolekan alamnya yang luar biasa. Negeri di tengah rimba yang pernah menjadi “istana” kedua kolonial Belanda setelah Kutaradja.

Kita akan terus mengenang Tangse bersinar atau bersih, indah, aman dan ramah. Untuk membuatnya kembali bersinar, tentu tanpa harus ada Shahputra lagi. (Hasnanda Putra).