Internasional

Tangis Pilu Tim Rescue Korban Gempa Turki, Disebut Lebih Buruk dari Pemboman Syria

1762
Bangunan ambruk akibat gempa 7,8 magnitudo di Turki, Senin (6/2/2023). - Istimewa

posaceh.com – Gempa dahsyat berkekuatan magnitudo 7,8 mengguncang Turki dan Suriah pada Senin (6/2). Gempa yang terjadi pada pukul 04:17 waktu setempat ini getarannya bahkan terasa sampai Lebanon, Siprus, Yunani dan Israel.

Akibat gempa tersebut, begitu banyak bangunan yang runtuh dan menyebabkan setidaknya ribuan orang diperkirakan tewas di kedua negara. Tim penyelamat dari berbagai negara pun masih terus berusaha mengevakuasi korban dari reruntuhan bangunan.

Tak sedikit dari para tim penyelamat yang menangis pilu melihat kondisi korban gempa dahsyat itu. Bahkan, efek gempa bumi ini disebut-sebut lebih buruk dari pemboman Syria.

Melansir dari Al Jazeera, Kamis (9/2), berikut tangis pilu tim penyelamat korban gempa Turki saat mengevakuasi para korban.

Tangis Pilu Tim Penyelamat Korban Gempa

Melansir dari akun YouTube Al Jazeera English, terlihat bagaimana seorang pria dari salah satu tim penyelamat menangis pilu di antara reruntuhan. Ia menangis saat mengevakuasi para korban yang terjebak dalam reruntuhan akibat gempa dahsyat yang menimpa.

“Seperti yang kamu lihat, bangunan berguncang dan sekarang orang-orang terjebak di bawahnya,” ujar salah seorang tim penyelamat dengan menangis pilu.

“Berapa banyak yang terluka?,” tanya pria ini.

“Kamu tidak dapat menghitungnya. Aku bersumpah, kamu tidak dapat menghitungnya,” jawabnya masih menangis pilu.

Melonjak Tajam

Dijelaskan, pemerintah kota telah mendirikan beberapa tenda pengungsi untuk para korban berlindung. Akan tetapi diungkapkan tidak ada bantuan yang sampai ke mereka. Bahkan mereka tidak bisa menemukan toko roti untuk membeli dan mengonsumsinya.

“Saya berkeliling ke seluruh kota mencari makanan untuk anak-anak kami dan tidak dapat menemukan apa pun kecuali biskuit dan samoon (sejenis roti) dan itu juga mahal,” jelasnya.

Ibu dari 4 anak ini mengatakan jika harga segala sesuatu menjadi melonjak, bahkan hingga 2-3 kali lipat. Bahkan, kini Ia membeli lilin untuk penerangan di malam hari harus merogoh kocek 15 Turki Lira, di mana sebelumnya hanya 4 Turki Lira.

Padahal, di area tersebut masih belum ada aliran listrik, air mengalir, gas dan bahan bakar.(Merdeka.com)

Exit mobile version