Di taman yang rindang di jantung Banda Aceh, berdiri Gunongan—sebuah bangunan kecil mirip mahkota putih yang dibangun Sultan Iskandar Muda untuk permaisurinya, Putri Kamaliah atau dikenal sebagai Putroe Phang. Letaknya tenang di tepi sungai, dikelilingi pepohonan dan aroma masa lalu. Tapi tak jauh dari sana, di kompleks pemakaman, terdapat satu nama yang selalu membuat sejarah Aceh berdebar: Meurah Pupok, putra sultan sendiri—yang mati di tiang eksekusi karena cinta.
Namun sebelum tragedi itu tercatat dalam sejarah, Sultan Iskandar Muda lebih dulu menorehkan jejak sebagai perebut tahta. Ia bukan putra mahkota yang ditunjuk secara langsung. Ketika raja mangkat, sebenarnya bukan dia yang naik tahta. Dan di sinilah cerita dimulai: seorang bangsawan muda yang cerdas, ambisius, dan haus kekuasaan, mulai memainkan permainan politiknya.
Dibantu oleh ibunya yang merupakan putri bangsawan penting, Iskandar Muda menggalang kekuatan. Pada 1607, dengan segala intrik dan strategi, ia diangkat sebagai raja setelah kematian mendadak raja yang juga pamannya. Dengan dukungan militer dan elite istana yang tak puas dengan pemerintahan yang stagnan, ia dengan cepat memulihkan kekuasan dan menata pemerintahan baru. Dengan usia muda sekitar 20-an, ia sudah menduduki takhta dengan satu pesan jelas: ia tidak datang untuk berkompromi.
Antara Singgasana dan Pedang
Kita tumbuh mengenal Iskandar Muda sebagai kebanggaan Aceh. Ia menaklukkan Johor, menyerang Malaka, membentuk sistem hukum yang tegas, dan mengundang ulama dari berbagai negeri. Tapi sejarah bukan hanya tentang kemenangan dan ekspansi. Di balik kejayaan itu, ada kisah-kisah yang jarang diajarkan di sekolah.
Catatan dari pelaut Portugis dan laporan dagang Belanda menyebutkan bahwa siapa pun yang berani menentang sang sultan, bisa dihukum pancung di depan umum. Beberapa dihukum di tiang gantungan sampai diinjak gajah. Bangsawan yang mencoba menyimpan ambisi pribadi dilucuti kekuasaan atau dihilangkan nyawanya.
Dalam laporan François Valentijn, seorang tokoh VOC abad ke-18, Iskandar Muda dijuluki “de tiran van Atchin”—tiran dari Aceh. Tapi bagi rakyatnya, tirani itu sering kali dibaca sebagai “keadilan”. Karena dalam kerajaan, garis antara keadilan dan kekejaman sering kabur, tergantung siapa yang memegang pedang.
Meurah Pupok: Cinta yang Menjadi Maut
Namun tidak ada kisah yang menggambarkan wajah keras Iskandar Muda sekuat tragedi Meurah Pupok—anak kesayangan, calon pewaris takhta, yang jatuh cinta pada seorang gadis istana tanpa restu ayahnya. Sebuah hubungan terlarang. Ketika cinta melampaui batas hukum istana, maka hukumlah yang bicara.
Sultan tak memberi ampun. Meurah Pupok dihukum mati atas nama disiplin dan kehormatan kerajaan. Rakyat terdiam. Sejarawan lokal menyebut, eksekusi itu dilakukan di hadapan para bangsawan, sebagai pesan bahwa hukum berlaku bagi siapa pun, termasuk darah daging sultan sendiri.
Taman Ghairah, tempat gadis itu konon sering menunggu sang pangeran, kini jadi tempat peziarah. Tapi kisah cinta itu tetap hidup di udara Banda Aceh—kisah tentang raja yang begitu kuat, hingga mampu menaklukkan kerajaan lain, namun tak mampu menaklukkan hatinya sendiri.
Wajah Ganda Seorang Raja
Iskandar Muda, dalam satu sisi, adalah reformis. Ia merombak sistem feodalisme lama, membentuk birokrasi kerajaan, dan memberantas perompak laut. Tapi semua itu dibayar dengan sistem kekuasaan yang sangat terpusat dan tangan besi.
Apakah ia kejam? Atau hanya realistis dalam dunia di mana kelembutan berarti kehancuran?
Mungkin jawabannya ada di antara keduanya. Kekuasaan, seperti sejarah, tidak pernah hitam putih. Kita bisa mengagumi kejayaan Aceh di bawah kepemimpinannya, sekaligus bergidik melihat bayang-bayang kelam yang mengiringinya. Karena sejarah, sejatinya, adalah cermin: ia menunjukkan wajah kita—tanpa sensor.
Hari ini, nama Iskandar Muda adalah pahlawan nasional diabadikan sebagai bandara, jalan raya dan universitas. Ia tetap jadi ikon Aceh. Tapi sesekali, ketika angin dari Taman Sari berhembus lembut, kita mungkin teringat: ada darah yang tertumpah di jalan menuju kejayaan.
Dan di balik mahkota seorang raja, selalu ada cerita yang tak selesai. (Hasnanda Putra)











