Ekbis

Suzuki Siapkan Ragam Teknologi Baru: dari Turbo hingga REEV

21
×

Suzuki Siapkan Ragam Teknologi Baru: dari Turbo hingga REEV

Sebarkan artikel ini
Suzuki e Sky. FOTO/Carscoops

posaceh.com, Jakarta – Suzuki mulai menyiapkan strategi untuk menghadapi perkembangan industri otomotif dalam satu dekade ke depan.

Pabrikan asal Jepang ini mengembangkan sejumlah teknologi baru, mulai dari mesin bensin turbo, mild-hybrid, sistem hybrid, hingga mobil listrik.

Suzuki juga ingin menggunakan lebih banyak komponen yang bisa dipakai bersama pada berbagai jenis kendaraan.

Cara ini diharapkan membuat pengembangan mobil baru menjadi lebih cepat dan efisien.

Salah satu teknologi yang tengah dikembangkan adalah sistem e-Axle 3-in-1 yang saat ini digunakan pada mobil kei listrik Suzuki e Sky.

Ke depan, sistem tersebut akan dikembangkan menjadi unit 6-in-1 dengan dimensi yang sama.

Teknologi ini nantinya bisa digunakan pada mobil listrik murni maupun mobil hybrid.

Untuk mobil listrik perkotaan seperti e Sky, Suzuki akan menggunakan motor listrik depan dengan tenaga 94 hp.

Khusus varian 4WD, akan ditambahkan motor listrik belakang berdaya 13 hp.

Sementara untuk model yang lebih besar, Suzuki menyiapkan motor listrik utama dengan tenaga 174 hp.

Sistem tersebut juga bisa dipadukan dengan motor listrik belakang berdaya 40 hp untuk sistem penggerak 4WD.

Suzuki juga ingin mengurangi penggunaan material yang mengandung unsur tanah jarang berat pada motor listriknya.

Langkah tersebut dilakukan agar motor listrik lebih mudah didaur ulang ketika sudah tidak digunakan.

Hybrid dan Range Extender Selain mobil listrik, Suzuki juga masih mengembangkan teknologi hybrid.

Untuk model-model berukuran kecil, perusahaan menyiapkan sistem mild-hybrid baru yang ditargetkan mampu mengurangi emisi karbon sebesar 15 persen.

Pengurangan tersebut setara dengan 150 kg CO2 untuk setiap jarak tempuh 10.000 km. Suzuki juga tengah mengembangkan sistem Series HEV yang lebih canggih.

Teknologi ini ditargetkan mampu memangkas emisi karbon hingga 29 persen, atau setara dengan pengurangan 300 kg CO2 setiap 10.000 km.

Pada sistem ini, mesin bensin tidak langsung menggerakkan roda. Mesin digunakan untuk menghasilkan listrik, kemudian listrik tersebut digunakan untuk menggerakkan kendaraan.

Teknologi tersebut nantinya bisa dikembangkan menjadi sistem range extender ringan atau REEV Light.

Caranya dengan menambahkan kemampuan pengisian baterai dari luar dan menggunakan baterai dengan kapasitas yang disesuaikan kebutuhan.

Suzuki menyebut sistem range extender ini tidak membutuhkan baterai berukuran besar.

Teknologi tersebut juga diharapkan bisa mengurangi kekhawatiran konsumen soal jarak tempuh kendaraan listrik. Mengutip Carcoops, Rabu (30/9/2026), model Suzuki yang diperkirakan menjadi pengguna awal sistem Series HEV adalah hatchback Baleno dan SUV Fronx.

Selain kedua model tersebut, S-Cross, Vitara, Grand Vitara, dan Victoris juga berpotensi menggunakan teknologi yang sama.

Mesin Turbo Baru Meski tengah memperluas teknologi elektrifikasi, Suzuki belum sepenuhnya meninggalkan mesin bensin.

Pabrikan Jepang tersebut sedang mesin bensin turbo baru dengan sistem penyemprotan bahan bakar langsung untuk pasar seperti India.

Mesin tersebut kemungkinan juga akan tersedia dalam versi CNG. Suzuki memiliki target jangka panjang untuk meningkatkan efisiensi mesin bensin.

Saat ini, mesin tiga silinder 1,2 liter Z12E memiliki efisiensi termal sebesar 40 persen.

Ke depan, angka tersebut ditargetkan meningkat menjadi 50 persen. Untuk mencapai target tersebut, Suzuki akan menggunakan sejumlah teknologi untuk membuat proses pembakaran lebih efisien, mengurangi panas yang terbuang, menggunakan oli dengan tingkat kekentalan rendah, serta mengoptimalkan kerja mesin.

Bobot Mobil Dipangkas

Suzuki juga tetap mempertahankan salah satu karakteristik produknya, yakni bobot kendaraan yang ringan.

Padahal, aturan keselamatan dan emisi yang lebih ketat mulai 2030 dan seterusnya diperkirakan akan menambah bobot setiap kendaraan hingga 80 kg.

Untuk mengimbangi penambahan tersebut, Suzuki menargetkan pengurangan bobot kendaraan sebesar 100-120 kg pada seluruh lini produknya.

Pengurangan bobot tersebut akan dilakukan tanpa mengorbankan aspek keselamatan.

Upaya tersebut masuk dalam program S Light. Salah satu caranya adalah menggunakan baut M8 dengan kepala yang lebih kecil.

Meski penghematannya hanya 1 gram per baut, jumlah pengencang yang digunakan pada satu mobil mencapai lebih dari 2.000 unit.

Suzuki juga akan menggunakan baja dengan kekuatan sangat tinggi, mencapai 1.470 MPa, pada bagian kendaraan yang berperan penting dalam melindungi penumpang saat terjadi tabrakan.

Di sisi teknologi, Suzuki juga memperkenalkan konsep SDV Lite, yakni sistem komputer dan perangkat lunak kendaraan yang dibuat lebih sederhana.

Untuk keselamatan, Suzuki ingin mengembangkan sistem yang dapat mengarahkan komponen berat menjauh dari penumpang ketika terjadi kecelakaan.

Perusahaan juga berencana menggunakan sistem bantuan berkendara atau ADAS secara lebih luas pada kendaraan masa depan.

Mulai 2031, Suzuki akan menggunakan Central Zone ECU, yakni satu pusat pengendali elektronik yang mengatur berbagai fungsi kendaraan.

Sistem tersebut ditargetkan dapat memangkas biaya elektronik sebesar 30 persen dan bobot modul sebesar 15 persen.

Waktu Pengembangan Dipangkas

Suzuki juga ingin mempercepat proses pengembangan kendaraan.

Targetnya, waktu pengembangan bisa dipangkas setengah menjadi 24 bulan pada 2030.

Strategi tersebut dilakukan untuk mengikuti siklus pengembangan yang lebih cepat dari pabrikan otomotif China.

Untuk mencapainya, Suzuki menargetkan peningkatan efisiensi pengembangan sebesar 30 persen dan efisiensi produksi sebesar 50 persen di pabrik Manesar, India.

Peningkatan tersebut akan dilakukan dengan memanfaatkan perangkat digital dan komponen yang bisa digunakan bersama pada berbagai model.

Selain itu, Suzuki menargetkan kapasitas produksi tahunannya di India mencapai 4 juta unit pada 2030.(Muh/*)