News

Suapan Nasi Terakhir Kepada Kedua Anak Kami Sebelum Tsunami Datang

865
Kondisi kawasan Baet, Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar pada 5 Januari 2005 tanpa bangunan seusai dihantam tsunami 26 Desember 2004. FOTO/DOK. BEDU SAINI

Pada hari Minggu, 26 Desember 2004 pagi di kawasan Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar tampak masih tenang dengan cuaca cerah, tanpa ada tanda-tanda akan datangnya sebuah bencana maha dahsyat yang akan dikenang selamanya. Kami sekeluarga, saya, istri dan dua anak kami berusia tiga dan satu tahun, serta dua adik sepupu yang berkunjung ke rumah tetap beraktivitas seperti biasa seusai shalat Subuh.

Pada pagi itu, istri saya menggoreng nasi untuk makan bersama. Kedua sepupu saya yang merupakan adik-abang asal Rantau Peureulak, Aceh Timur, Bakhtiar (22) dan Basri (19) sarapan pagi bersama saya dan istri saya memberi suapan nasi kepada kedua anak kami.

Ternyata, itulah suapan terakhir dari seorang ibu yang sangat mencintai kedua putranya yang masih balita, meninggalkan dirinya selama-selamanya. Sebelum tsunami datang, istri saya bersama kedua anak kami dan dua sepupu masih di rumah, sedangkan saya yang saat itu masih sebagai jurnalis Hr Serambi Indonesia sudah keluar rumah untuk meliput kegiatan gerakan penghijauan Kantor Cabang BRI Banda Aceh di kawasan Ulee Lheue yang akhirnya tidak bisa diliput karena lebih dulu tsunami datang.

Tiba-tiba, istri saya bernama Warnita Sari (32) mendengar teriakan ‘Air laut naik … air laut naik, cepat selamatkan diri.” Dia sempat bingung mendengar teriakan itu, karena kedua sepupu kami masih dalam rumah. Dengan suara keras, dia meminta mereka keluar rumah.

Pertama, keluar Basri sambil menggendong anak pertama kami, M Nowval sambi membawa piring nasi anak kami. Tetapi, Bakhtiar, abangnya tidak juga keluar rumah. Untuk beberapa saat, istri saya bersama adik sepupu masih menunggunya di luar, walau tetangga sudah duluan menyelamatkan diri.

Karena terlalu lama menunggu, istri saya yang menggendong Hafidz Aulia dan Basri lari ke jalan belakang rumah di Dusun Meriam Patah, Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar, salah satu kawasan paling parah dihantam tsunami. Dia bersama Basri sempat berhenti sebentar di depan pintu pagar rumah besar dua lantai, milik Haji Basri yang terletak di belakang rumah kami.

Istri saya sempat meminta Basri masuk ke dalam rumah besar itu, tetapi terkejut melihat ketinggian gelombang air laut di atas pohon kelapa menghantam rumah dan mendengar suara menggelegar, dia langsung berlari ke arah belakang, sambil tetap menggendong Hafidz.

Tetapi, tiba-tiba tersirat dalam pikirannya, tidak mungkin bisa lari jauh lagi, karena arus gelombang air laut tetap tegak tanpa jatuh sangat kencang. Dia akhirnya memegang ujung pagar rumah dengan membelakangi arus gelombang tsunami dengan harapan tidak terbawa arus.

Saat gelombang air laut menghantamnya, Hafidz terlepas dari gendongannya bersama dirinya terbawa arus air laut. Tetapi, saat Hafidz terlepas sempat terdengar suaranya memanggil “Mamak…mamak.” Setelah itu, dia hilang ditelan kuatnya gelombang air laut. Istri saya langsung tenggelam di bawah pusaran gelombang tsunami yang ikut serta membawa kusen, pintu, jendela dan bagian lain dari bangunan rumah.

Tidak ada yang bisa dilihatnya di bawah air, kecuali warna hitam pekat. Di tengah putaran gelombang air laut, istri saya timbul-tenggelam dan berusaha berenang, walau sebenarnya tidak bisa berenang. Kayu dan bahan bangunan silih berganti melewatinya dan kadang-kadang menolak kusen rumah sekuatnya, tetapi hantaman kayu ke badannya tidak bisa dihindari.

Istri saya terus terombang-ambing di dalam air dan kala muncul ke permukaan, dia sempat memanggil kedua anaknya, “Nowval… Hafidz…” dengan suara seadanya, karena nafasnya tinggal satu-satu. Tidak ada yang dilihatnya, kecuali mendengar jeritan anak-anak pada hantaman gelombang pertama.

Istri saya sempat memegang pohon jambu, tetapi dilepasnya, karena juga ikut tenggelam. Saat timbul-tenggelam, dia melihat daun kelapa dan memegang seadanya agar tidak terbawa arus, karena air laut masih di atas pohon kelapa. Tiba-tiba, kembali terdengar suara dentuman keras, ternyata air laut kedua dengan gelombang lebih besar lagi datang dibandingkan pertama dan dia kembali timbul-tenggelam, tanpa bisa menemukan benda apa pun di atas air.

Saat berada di dalam air dengan nafas terakhir tersisa, istri saya berdoa kepada Allah SWT agar diberi keselamatan. Dan ketika muncul lagi ke permukaan dengan nafas tersengal-sengal, di depannya telah ada kasur kecil dan seekor ular kecil di atasnya yang tampak sengaja memberi kasus kepada istri saya.

Tilam itu pun langsung dipeluknya erat-erat, tanpa ada rasa takut sedikit pun di pikirannya akan adanya ular. Tak dinyana, ular itu pun pergi dan tak terlihat lagi. Istri saya dengan tilam di pelukannya berenang ke arah tumpukan kayu tinggi dan melalui bantuan seorang pemuda, istri saya masuk ke satu rumah lantai dua yang telah dipenuhi orang-orang yang menyelamatkan diri di Rukoh, Darussalam.

Istri saya memperkirakan, dia berjuang selama dua jam lebih di dalam air, karena sekitar pukul 11.00 WIB baru merasa aman di rumah tersebut. Tetapi, takut air laut naik lagi, seluruh penghuni rumah turun dan beranjak ke Darussalam, kawasan komplek Unsyiah, kini bernama USK.

Pakaian istri saya terkoyak-koyak dihantam tsunami dan seorang pemuda yang berasal dari dusun kami, memberinya pakaian. Kemudian berjalan bersama ke Masjid Unsyiah untuk menenangkan diri sekitar pukul 12.00 siang. Saya yang berhasil menyelamatkan diri sempat datang ke tempat kami tinggal dan bertemu dengan sejumlah tetangga yang selamat sekitar pukul 11.00 WIB dan mendatangi rumah dua lantai, tempat tetangga saya menyelamatkan diri.

Mereka mengatakan istri saya tidak ada disana, sehingga saya memutuskan untuk mencari ke lokasi lain dan akhirnya tiba di Masjid Unsyiah Darussalam. Di tempat ini, saat mondar-mandir mencari istri saya, bertemu dengan tetangga saya saat tinggal di Lamgugop, yang memberitahu bahwa istri saya selamat.

Tanpa menunggu lama, saya langsung berkeliling ke seluruh area masjid, termasuk ke tempat pengungsi terlihat. Akhirnya, jelang azan shalat Maghrib, saya bertemu istri yang dalam keadaan badannya kesakitan, karena ada juga luka-luka di sekujur tubuhnya. Kami saling berpelukan dan dia menangis mengingat kedua putranya yang dibawa arus gelombang tsunami, apalagi Hafidz masih dalam keadaan menyusui.

Dengan perawatan seadanya dari tim muda Fakultas Kedokteran Unsyiah, kami malam itu tidur di lantai masjid beralaskan kertas koran yang sempat saya ambil di kantor Harian Serambi Indonesia sebelum menyelamatkan diri ke Blang Bintang, Aceh Besar. Ada ratusan korban selamat tsunami yang tidur bersama, dengan kondisi berbagai macam, hampir seluruhnya dari kawasan Kajhu.

Pada akhirnya, kami mengetahui, kedua putra kami tidak selamat, termasuk sepupu bernama Basri yang saat itu kuliah di PG2SD Unsyiah. Sedangkan abangnya, Bakhtiar selamat seusai memanjat pohon, walau sempat terombang-ambing dihantam gelombang air laut.(Muhammad Nur)

 

*Tsunami Aceh Getarkan Dunia

Exit mobile version