Ekbis

Sri Mulyani: Tingkat PDB Indonesia Kembali ke Posisi Sebelum Covid-19

1559
×

Sri Mulyani: Tingkat PDB Indonesia Kembali ke Posisi Sebelum Covid-19

Sebarkan artikel ini
Foto : Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani Indrawati

posaceh.com, Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mencatat bahwa tingkat Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia telah kembali ke posisi sebelum Covid-19. Capaian ini lebih baik dibandingkan dengan negara-negara lainnya.

Menurut data yang ditampilkan Sri Mulyani, baru ada lima negara yang tingkat PDB-nya sudah kembali ke posisi sebelum Covid-19. Ini mengacu pada tingkat PDB pada 2019 lalu. Namun, masih ada tujuh negara lainnya yang masih berada di bawah kondisi sebelum pandemi.

“Kita sudah lihat momentum pemulihan ekonomi cukup baik, dan ini yang akan kita jaga. Kalau kita lihat dari indeks GDP (Gross Domestic Products) real perekonomian, Indonesia termasuk dari sedikit negara yang telah mencapai GDP precovid level di 101,1 sudah di atas 100 di atas pre covid-nya 100,” katanya dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI, Kamis (27/1/2022).

Lima negara yang sudah mencapai posisi pra pandemi di antaranya Brasil, Rusia, Indonesia, Vietnam dan China.Rinciannya, China mengungguli dengan mencatatkan PDB 110,5 persen, Vietnam 104,9 persen, Indonesia 101,1 persen, Rusia 101,1 persen, dan Brasil 100,5 persen.

Sementara itu, India, Afrika Selatan, Saudi Arabia, Malaysia, Meksiko, Thailand, dan Filipina masih berada di bawah PDB pra pandemi.

Rinciannya, India tercatat baru mencapai 98,7 persen, Afrika Selatan 98 persen, Saudi Arabia 97,7 persen, Malaysia 96,4 persen, Meksiko 96,3 persen, Thailand 94,4 persen, Filipina 94,3 persen.

Optimis Jaga Penerimaan Negara

Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati optimis Indonesia mampu menjaga penerimaan negara di 2022, dengan kondisi perkembangan pemulihan ekonomi dan upaya reformasi struktural yang dilakukan oleh pemerintah.

Hal itu disampaikan pada pertemuan World Economic Forum Davos: Global Economic Outlook, pada (21/1/2022).

“Penerimaan negara (2021) dikontribusikan oleh kuatnya permintaan yang didukung oleh adanya pemulihan. Walaupun Indonesia sempat terhantam varian Delta, ternyata pertumbuhan di kuartal III masih berada di 3,7 persen. Jika covidnya dapat ditangani dengan baik, seluruh sektor pulih dengan kuat, saya optimis di 2022 penerimaan negara akan tetap kuat,” kata Menkeu, dikutip dari laman Kemenkeu.go.id, Senin (24/1).

Menkeu menjelaskan, di tahun 2021 dunia mengalami kenaikan harga komoditas yang turut mendorong penerimaan perpajakan. Namun, jika harga komoditas tahun 2022 sudah kembali normal, Indonesia memiliki sektor manufaktur, sektor perdagangan, maupun teknologi informasi yang juga menunjukkan kinerja dan rebound yang kuat.

Reformasi struktural pun sebutnya memegang peranan penting menopang pemulihan di 2022. Indonesia akan mengembangkan industri hilir agar dapat menambah nilai hasil komoditas yang ada. (merdeka.com)