Oleh Teuku Hafid Hasan*
Kontestasi pemilihan Ketua Umum BM PAN tahun 2026 menghadirkan dinamika menarik di tubuh organisasi kepemudaan Partai Amanat Nasional. Sejumlah nama tampil dengan berbagai gagasan, strategi, dan pendekatan politiknya masing-masing. Namun di antara figur yang muncul, sosok Slamet Ariyadi hadir dengan cara yang berbeda: sederhana, membumi, dan dekat dengan denyut kehidupan rakyat kecil.
Momentum pendaftaran Slamet Ariyadi sebagai calon Ketua Umum BM PAN menjadi perhatian banyak kader di berbagai daerah. Ia tidak datang dengan kemewahan ataupun iring-iringan elite semata. Slamet justru hadir mengenakan sarung, jaz BM PAN, dan kaos bergambar Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan. Penampilan itu terlihat sederhana, tetapi menyimpan pesan politik yang kuat.
Dalam perspektif budaya politik, pendekatan seperti ini sejalan dengan pemikiran Gabriel Almond dan Sidney Verba dalam The Civic Culture yang menekankan pentingnya kedekatan antara aktor politik dan kultur masyarakat sebagai bagian dari penguatan demokrasi partisipatif. Politik yang dekat dengan simbol sosial masyarakat dinilai lebih mudah membangun kepercayaan publik, terutama di kalangan generasi muda.
Bagi banyak kader BM PAN, simbol-simbol tersebut bukan sekadar gaya berpakaian. Sarung mencerminkan kedekatan dengan tradisi masyarakat bawah dan kultur pesantren yang menjadi bagian penting wajah Indonesia. Sementara kaos bergambar Ketua Umum PAN menunjukkan loyalitas terhadap partai sekaligus kesinambungan perjuangan kader muda PAN. Dalam dunia politik anak muda yang sering dipenuhi pencitraan modern dan formalitas berlebihan, langkah Slamet Ariyadi justru tampil autentik dan membumi.
Yang paling menarik perhatian publik adalah kehadiran para pelaku UMKM, pedagang bakso, penjual siomay, kopi starling, pedagang asongan, hingga pengemudi ojek online yang ikut mengiringi proses pendaftarannya. Tidak hanya itu, komunitas seni budaya seperti marching band dan cosplay karakter Power Rangers serta Naruto juga ikut memeriahkan suasana.
Bagi sebagian orang, suasana tersebut mungkin terlihat tidak lazim dalam tradisi politik organisasi kepemudaan partai. Namun di mata kader BM PAN, langkah itu justru menunjukkan keberanian menghadirkan politik yang lebih inklusif dan dekat dengan realitas generasi muda hari ini.
Power Rangers dimaknai sebagai simbol solidaritas dan keberanian dalam kepemimpinan, sedangkan Naruto melambangkan semangat perjuangan tanpa menyerah. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa Slamet Ariyadi memahami cara berkomunikasi dengan generasi muda tanpa kehilangan substansi perjuangan organisasi.
Dalam teori komunikasi politik modern, pendekatan simbolik dan budaya populer memang menjadi bagian penting dalam membangun keterhubungan emosional dengan generasi muda. Pemikiran Henry Jenkins tentang participatory culture menjelaskan bahwa generasi muda lebih mudah terhubung dengan gerakan yang menggunakan simbol budaya populer secara kreatif namun tetap memiliki substansi sosial dan politik.
Di luar momentum pendaftaran tersebut, Slamet Ariyadi sebenarnya bukan figur baru di lingkungan BM PAN nasional. Selama menjabat sebagai Sekretaris Jenderal DPP BM PAN, ia dikenal aktif membangun komunikasi lintas daerah serta memperkuat konsolidasi organisasi hingga tingkat wilayah dan cabang.
Kehadirannya dalam berbagai agenda kepemudaan PAN memperlihatkan kapasitas kepemimpinan yang tidak hanya organisatoris, tetapi juga politis. Ia mampu menjembatani aspirasi kader muda dengan arah perjuangan partai secara nasional. Kemampuan seperti ini menjadi modal penting bagi seorang calon pemimpin organisasi kepemudaan.
Tidak hanya berkiprah di BM PAN, Slamet Ariyadi juga memiliki akar kuat dalam tradisi gerakan mahasiswa dan kepemudaan Islam. Ia merupakan kader PMII dan saat ini dipercaya sebagai Ketua PB IKA PMII hasil Munas VII. Posisi tersebut memperlihatkan bahwa Slamet memiliki jejaring luas di kalangan aktivis muda, intelektual, dan alumni gerakan mahasiswa Islam di Indonesia.
Profil Singkat Slamet Ariyadi
Slamet Ariyadi lahir di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur. Ia menempuh pendidikan dasar di SD Gunung Rancak 1, kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Robatal dan SMA Nazhatut Thullab Sampang.
Pendidikan sarjananya diselesaikan di Program Studi Psikologi Universitas Trunojoyo Madura. Setelah itu, ia melanjutkan studi Magister Ilmu Politik di Universitas Nasional Jakarta. Latar pendidikan tersebut memperkuat kapasitas akademik dan pemahamannya terhadap dinamika sosial-politik nasional.
Menurut Miriam Budiardjo dalam Dasar-Dasar Ilmu Politik, organisasi politik membutuhkan kader yang memiliki kombinasi kapasitas intelektual, pengalaman organisasi, dan kemampuan komunikasi publik agar mampu menjalankan fungsi kaderisasi secara efektif. Dalam konteks itu, pengalaman akademik dan organisasi Slamet Ariyadi menjadi modal penting dalam kepemimpinan organisasi kepemudaan.
Sejak masa mahasiswa, Slamet aktif dalam organisasi dan gerakan kepemudaan. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura serta aktif dalam organisasi PMII. Kiprah organisasinya terus berkembang hingga dipercaya memimpin berbagai organisasi kepemudaan, seperti Ketua Umum Gerakan Pemuda Sampang periode 2017–2019, Sekretaris Jenderal DPP Barisan Pemuda PAN, dan Sekretaris Umum Ikatan Keluarga Alumni Universitas Trunojoyo.
Karier politik Slamet Ariyadi juga terbilang cemerlang. Ia merupakan anggota DPR RI dua periode dari daerah pemilihan Jawa Timur XI yang meliputi Bangkalan, Pamekasan, Sampang, dan Sumenep. Di DPR RI, ia pernah bertugas di Komisi IV dan Komisi I yang membidangi pertahanan, luar negeri, komunikasi dan informatika, serta intelijen.
Kombinasi pengalaman organisasi, politik nasional, dan latar akademik menjadikan Slamet Ariyadi sebagai salah satu figur muda PAN yang dinilai memiliki kapasitas kepemimpinan yang kuat.
Bagi kader BM PAN, organisasi kepemudaan tidak cukup hanya menjadi pelengkap struktural partai politik. BM PAN harus hadir sebagai ruang aktualisasi anak muda yang mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat. Organisasi kepemudaan harus mampu hadir di tengah persoalan sosial, ekonomi, budaya, dan pendidikan yang dihadapi generasi muda hari ini.
Dalam konteks itu, gagasan Slamet Ariyadi terasa relevan. Pernyataannya bahwa BM PAN harus peduli terhadap UMKM, seni budaya, kesejahteraan pengemudi ojek online, dan masyarakat kecil menunjukkan bahwa organisasi kepemudaan harus lebih progresif dan responsif terhadap perubahan sosial.
Pandangan tersebut sejalan dengan konsep politik partisipatoris Samuel P. Huntington dalam Political Order in Changing Societies yang menegaskan bahwa organisasi politik harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan sosial masyarakat agar tetap relevan dalam kehidupan demokrasi modern.
Selain itu, Robert D. Putnam dalam Making Democracy Work menjelaskan bahwa keberhasilan organisasi sosial dan politik sangat ditentukan oleh kemampuan membangun modal sosial, kepercayaan publik, dan solidaritas masyarakat. Pendekatan yang ditampilkan Slamet Ariyadi memperlihatkan upaya membangun modal sosial tersebut di tengah generasi muda PAN.
Anak muda hari ini membutuhkan organisasi yang tidak hanya berbicara tentang politik elektoral, tetapi juga mampu menghadirkan solusi sosial dan ekonomi. Politik kepemudaan tidak bisa lagi dibangun dengan pola lama yang eksklusif dan elitis. Anak muda membutuhkan ruang gerakan yang lebih kreatif, terbuka, dan dekat dengan masyarakat.
Dalam konteks Indonesia, pemikiran Azyumardi Azra tentang kepemudaan dan demokrasi juga menegaskan bahwa generasi muda harus menjadi motor perubahan sosial yang mampu menghubungkan nilai keislaman, kebangsaan, dan modernitas secara seimbang. Pendekatan seperti inilah yang mulai terlihat dalam gaya komunikasi politik Slamet Ariyadi.
Dukungan dari berbagai DPW BM PAN daerah juga menunjukkan bahwa Slamet Ariyadi bukan sekadar kandidat simbolik. Dukungan yang terus tumbuh dari berbagai wilayah menjadi tanda bahwa semangat perubahan di tubuh BM PAN mulai bergerak dari bawah.
Sebagai mantan Ketua BM PAN Aceh, saya melihat BM PAN membutuhkan figur pemimpin yang mampu merangkul seluruh kader, membangun energi kolektif anak muda, dan membawa organisasi lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. Organisasi kepemudaan partai harus mampu menjadi jembatan antara idealisme gerakan dan realitas politik nasional.
BM PAN membutuhkan pemimpin yang hadir di tengah masyarakat, mendengar suara akar rumput, dan mampu membangun gerakan yang kreatif namun tetap ideologis. Dalam berbagai momentum yang ditampilkan, Slamet Ariyadi memperlihatkan upaya ke arah itu.
Tentu, siapa pun yang terpilih nantinya memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga marwah organisasi dan memperkuat posisi BM PAN sebagai wadah kaderisasi politik anak muda PAN. Namun satu hal yang patut diapresiasi, kontestasi kali ini menghadirkan warna baru dalam dinamika politik kepemudaan PAN.
Dan di mata banyak kader, Slamet Ariyadi hadir bukan hanya sebagai calon ketua umum, tetapi juga sebagai simbol semangat baru BM PAN yang lebih dekat dengan rakyat, kreatif, berpengalaman, intelektual, dan berjiwa muda.
* Teuku Hafid Hasan, Mantan Ketua DPW BM PAN Aceh.











