Oleh banyak orang Belanda, Letnan Kolonel Wilhelm Bernhard Johann Antoon Scheepens dikenang sebagai salah satu perwira penting yang membantu menutup babak panjang Perang Aceh. Namun di Aceh, namanya justru terpatri dalam sebuah ironi sejarah: seorang komandan yang lolos dari hutan gerilya, hujan peluru, dan kerasnya ekspedisi militer, tetapi akhirnya tumbang oleh sebilah rencong di ruang pengadilan Sigli.
Kisah itu terjadi ketika perang besar secara resmi dianggap hampir berakhir.
Tahun 1913, Aceh memang tidak lagi seperti dekade-dekade awal setelah pecahnya perang pada 1873. Benteng-benteng utama telah jatuh, para sultan dan panglima besar telah diburu, sementara jaringan militer kolonial menancap dari Kutaraja hingga pedalaman. Namun “damai” versi Belanda sesungguhnya hanya tampak di atas laporan resmi. Di bawah permukaan, bara perlawanan masih hidup.
Scheepens adalah anak zaman kolonial itu. Lahir di Ambon pada 1868, ia meniti karier militer melalui pendidikan Koninklijke Militaire Academie di Breda, Belanda. Dalam catatan militer Hindia Belanda, ia dikenal sebagai perwira lapangan yang tangguh. Bertahun-tahun ia bertugas di Aceh dan Gayo, terlibat dalam operasi-operasi penumpasan yang keras. Ia beberapa kali terluka serius, bahkan harus menjalani perawatan panjang di Eropa. Namun luka-luka itu justru mengangkat reputasinya. Scheepens menerima Militaire Willems-Orde, penghargaan militer tertinggi Belanda, dan dipandang sebagai simbol keberhasilan kolonial dalam “menjinakkan” Aceh.
Ketika ditempatkan di Sigli sebagai gezaghebber—penguasa sipil sekaligus militer—ia bukan sekadar komandan. Ia adalah wajah hukum kolonial.
Namun justru di ruang hukum itulah ajal menunggunya.
Pada Oktober 1913, sebuah perkara lokal dibawa ke sidang di Sigli. Seorang rakyat biasa dituduh memukul putra uleebalang Titeu, seorang bangsawan lokal berpengaruh. Bagi masyarakat Aceh yang masih sangat menjunjung kehormatan keluarga dan status, perkara itu bukan sekadar penganiayaan biasa. Ada martabat yang dianggap tercoreng.
Teuku Ben Titeu, sang uleebalang, menuntut hukuman berat.
Namun Scheepens memilih jalur hukum kolonial: hanya tiga bulan penjara.
Bagi pemerintah Hindia Belanda, putusan itu mungkin terlihat moderat, rasional, bahkan adil. Tetapi bagi Teuku Ben Titeu, keputusan tersebut adalah penghinaan terbuka terhadap kehormatan keluarganya.
Di ruang sidang itu, ketegangan meledak dalam hitungan detik.
Rencong tercabut.
Scheepens, perwira yang selama bertahun-tahun selamat dari perang besar, ditikam di hadapan aparatnya sendiri. Serangan itu begitu cepat, begitu dekat, begitu Aceh. Polisi kolonial segera menembak mati penyerang, tetapi luka di tubuh Scheepens terlalu parah.
Secepat itu pula berita tiba di Kutaraja. Sebagaimana ditulis Is Norman dalam Acehkini, pemerintah kolonial segera mengirim ahli bedah kenamaan, dokter Dubinsky, ke Sigli dengan sebuah kereta api express.
Atjeh Tram itu melaju dari Kutaraja menuju Sigli menempuh jalur sekitar 100 kilometer di atas rel sempit. Hari itu kereta tersebut dipercaya memecahkan rekor perjalanan tercepat dalam sejarah perkeretaapian Aceh. Konon, sang masinis sampai diikat dengan tali pada lokomotif agar tidak terlempar keluar ketika kereta dipacu dalam kecepatan tinggi, membawa dua dokter meluncur menuju Sigli. Ketika kereta dan para dokter itu tiba, sore itu juga Scheepens langsung dioperasi.
Pada 17 Oktober 1913, Scheepens meninggal dunia.
Berita kematiannya mengguncang Hindia Belanda. Seorang pahlawan kolonial, penerima medali tertinggi, gugur bukan di medan perang, melainkan di pusat administrasi kekuasaan yang ia pimpin. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Peutjut Kerkhof, Banda Aceh, kompleks pemakaman militer Belanda yang sunyi—di antara ribuan nama serdadu lain yang datang untuk menaklukkan Aceh.
Kematian Scheepens menjadi penanda penting bahwa perang mungkin berubah bentuk, tetapi tidak benar-benar selesai. Belanda boleh menguasai wilayah, membangun garnisun, dan menulis laporan kemenangan, tetapi mereka tak pernah sepenuhnya menaklukkan batin perlawanan rakyat Aceh.
Dalam historiografi kolonial, insiden seperti ini sering disebut bagian dari Atjeh-moorden—serangan-serangan mendadak orang Aceh terhadap pejabat kolonial.
Scheepens datang ke Aceh sebagai penutup perang.
Tetapi di Sigli, sejarah justru menuliskan akhir berbeda: bahwa tanah ini mungkin dapat diduduki, tetapi semangatnya tidak pernah sepenuhnya tunduk. Sebilah rencong di ruang sidang menjadi pengingat, bahwa senjakala Perang Aceh bukanlah penyerahan total—melainkan perubahan wajah perlawanan. (Hasnanda Putra)











