Internasional

Saling Serang Iran Vs Amerika Ketika Masih Berlaku Gencatan Senjata

17
×

Saling Serang Iran Vs Amerika Ketika Masih Berlaku Gencatan Senjata

Sebarkan artikel ini
BBC World. FOTO/

posaceh.com, Jakarta – Amerika Serikat (AS) dan Iran masih dalam fase gencatan senjata sejak diterapkan pada 7 April 2026 lalu. Namun demikian, kedua negara tetap terlibat saling serang.

Berdasarkan catatan detikcom, Minggu (10/5/2026), perselisihan kedua negara di tengah gencatan senjata dimulai oleh AS. Pihak Iran menuding AS melanggar kesepakatan gencatan senjata setelah menyerang kapal tanker milik Iran.

Dilansir AFP, Jumat (8/5), pihak Iran mengatakan AS telah menargetkan sebuah kapal tanker minyak Iran yang bergerak dari perairan pesisir Iran di wilayah Jask menuju Selat Hormuz, serta kapal lain yang memasuki Selat Hormuz di seberang Pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab.

Pihak Iran dalam sebuah pernyataan yang dikutip televisi pemerintah mengatakan AS juga melakukan serangan di tempat lain di selatan. Iran menyebut AS bekerja sama dengan beberapa negara di kawasan itu.

Keterangan komando pusat militer Iran mengatakan pasukan Iran telah menyerang kapal-kapal militer AS sebagai tindakan balasan.

Dilansir BBC, kantor berita Iran, Fars, melaporkan bahwa beberapa ledakan juga terdengar di dekat kota Bandar Abbas, Iran. Fars menyatakan bahwa asal dan lokasi pasti suara tersebut masih belum diketahui.

Laporan dari Fars menambahkan bahwa investigasinya menunjukkan adanya “baku tembak” antara angkatan bersenjata Iran dan “musuh”, dengan bagian komersial dermaga di Qeshm – pulau terbesar di Teluk – menjadi “target”.

Sementara itu, kantor berita Tasnim mengatakan beberapa ledakan terdengar di dekat Pulau Qeshm dan Bandar Abbas.

Tasnim juga mengatakan masih belum ada informasi pasti, tetapi menambahkan bahwa beberapa sumber mengatakan suara tersebut terkait dengan operasi Angkatan Laut IRGC yang tengah memperingatkan beberapa kapal tentang jalur yang tidak sah melalui Selat Hormuz.

Ledakan juga terdengar di Teheran, menurut media lokal. AS belum berkomentar tentang situasi tersebut sejauh ini.

AS Hancurkan Kapal Iran di Selat Hormuz
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump buka suara usai tentara AS menyerang kapal tanker Iran di Selat Hormuz. Trump mengatakan serangan itu sebagai bentuk balasan.

Dilansir CNN International dan AFP, Jumat (8/5/2026), Trump menyebut Iran lebih dahulu menyerang tiga kapal militer AS yang tengah melintas di perairan Hormuz. Serangan itu, kata Trump, memantik respons balasan dari tentara AS.

“Tiga Kapal Perusak Amerika Kelas Dunia baru saja melintasi Selat Hormuz dengan sangat sukses, di bawah tembakan. Tidak ada kerusakan pada ketiga kapal perusak tersebut, tetapi kerusakan besar terjadi pada penyerang Iran,” tulis Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social.

“Mereka hancur total bersama dengan banyak kapal kecil yang digunakan untuk menggantikan Angkatan Laut mereka yang telah sepenuhnya hancur,” tambah Trump.

Trump menyebut kapal AS menjadi sasaran serangan drone dan rudal dari pasukan Iran. Namun, ia mengklaim serangan udara itu bisa dipatahkan.

“Rudal ditembakkan ke kapal perusak kita, dan dengan mudah dijatuhkan. Demikian pula, drone datang, dan hangus terbakar di udara,” jelas Trump.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan serangan rudal dan drone skala besar terhadap kapal-kapal militer Amerika Serikat (AS) di dekat Selat Hormuz pada Jumat (8/5). IRGC menuduh AS terlebih dahulu melanggar gencatan senjata dengan menggempur kapal tanker dan area sipil di wilayah Iran bagian selatan.

IRGC dalam pernyataannya, seperti dilansir Anadolu Agency, Jumat (8/5), mengatakan bahwa operasi terhadap kapal militer AS dilancarkan setelah apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran gencatan senjata oleh Washington.

Juru bicara markas besar militer Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, mengatakan bahwa AS menargetkan sebuah kapal tanker minyak Iran yang bergerak dari perairan pesisir Iran di dekat pelabuhan Jask menuju ke Selat Hormuz, serta kapal-kapal Iran lainnya di dekat pelabuhan Fujairah di Uni Emirat Arab.

Zolfaghari juga menuduh AS menyerang area sipil di Bandar Khamir, Sirik, dan Pulau Qeshm di Iran bagian selatan, dengan kerja sama “beberapa negara regional”.

Dia mengatakan Angkatan Bersenjata Iran segera merespons dengan menyerang kapal-kapal militer AS di sebelah timur Selat Hormuz dan sebelah selatan pelabuhan Chabahar. Diklaim oleh Zolfaghari bahwa serangan-serangan tersebut menyebabkan “kerusakan signifikan”.

IRGC, dalam pernyataannya, menyebut pasukan Angkatan Lautnya melancarkan “operasi gabungan skala besar dan presisi” menggunakan rudal balistik, rudal jelajah anti-kapal, dan drone peledak yang menargetkan kapal-kapal perusak AS.

Ditambahkan juga bahwa penilaian intelijen Iran menunjukkan bahwa sejumlah kapal militer AS mengalami “kerusakan signifikan” dan tiga kapal perusak AS lainnya mundur dari area Selat Hormuz.

Laporan media-media lokal Iran, termasuk Tasnim News Agency, menyebut kapal-kapal militer AS bergerak mundur menuju ke Laut Oman. Sedangkan stasiun penyiaran negara Iran, IRIB, melaporkan bahwa “unit-unit musuh” yang menjadi target serangan mengalami kerusakan dan terpaksa mundur.

Tak berhenti sampai di situ, Militer Amerika Serikat (AS) mengerahkan jet tempur yang melepas tembakan untuk melumpuhkan dua kapal tanker berbendera Iran pada Jumat (8/5) waktu setempat. Washington menuduh kedua kapal tanker Iran itu berusaha melanggar blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Teheran.

Dengan insiden terbaru itu, seperti dilansir AFP, Sabtu (9/5/2026), maka AS sejauh ini telah menghentikan secara paksa empat kapal, yang menurut mereka mencoba melanggar blokade laut di sekitar Selat Hormuz, yang diberlakukan sejak 13 April lalu.

Komando Pusat AS (CENTCOM), yang mengawasi operasi militer AS di Timur Tengah, mengumumkan bahwa sebuah jet tempur F/A-18 Super Hornet milik Angkatan Laut AS telah melumpuhkan kapal M/T Sea Star III dan M/T Sevda dengan “menembakkan amunisi presisi ke cerobong asap mereka, mencegah kapal-kapal yang tidak patuh tersebut memasuki Iran”.

CENTCOM menyertakan rekaman video yang menunjukkan momen serangan terhadap kedua kapal tersebut.

Usai saling balas serangan, Trump lalu menegaskan bahwa gencatan senjata antara AS dan Iran masih berlaku. Trump menilai serangan-serangan Teheran terhadap kapal-kapal perang Washington sebagai “hal sepele”.

Saat ditanya wartawan apakah gencatan senjata AS dan Iran masih berlaku meskipun ada serangan, seperti dilansir AFP, Sabtu (9/5/2026), Trump menjawab: “Iya, masih berlaku.”

“Mereka (Iran) mempermainkan kita hari ini. Kita menghancurkan mereka. Mereka mempermainkan kita. Saya menyebut itu hal sepele,” kata Trump saat berbicara kepada wartawan di sela-sela kunjungan melihat renovasi Lincoln Memorial Reflecting Pool di Washington DC pada Kamis (7/5/2026) waktu AS.

Penegasan Trump itu disampaikan setelah militer AS dan Iran saling serang di Selat Hormuz, dengan kedua negara saling menuduh satu sama lain sebagai yang terlebih dahulu melanggar gencatan senjata.(Muh/*)