Banghas

Sabang dan Negeri Bawah Angin

3153
×

Sabang dan Negeri Bawah Angin

Sebarkan artikel ini
Kawasan wisata laut di Sabang FOTO/ DOKUMEN BGHAS

Raja-raja Aceh lebih senang menyebut diri dan negeri-nya dengan kalimat “Penguasa Negeri Bawah Angin”, sementara India dan anak benuanya sebagai Negeri Atas Angin.

Perairan Aceh termasuk yang paling menyusahkan bagi banyak penjelajah dunia, termasuk para pedagang dari India.

Sebuah catatan menyebutkan, ketika mereka ingin melakukan pelayaran ke timur itu atau melewati Aceh sangat tergantung angin monsun. Pola antara periode yang satu dan yang lain akan berlawanan yang berganti arah secara berlawanan setiap setengah tahun.

Kadang ketika mereka pulang, ada yang tidak sampai lagi ke negerinya. Sehingga banyak pedagang dari India akhirnya memilih menetap di Aceh. Jejak anak benua ini terlihat kental di beberapa pesisir Aceh, pengaruhnya juga terasa di banyak kuliner makanan dan kebiasaan sehari-hari.

Perairan Sabang
FOTO/ DOKUMEN BGHAS

Bagi yang ingin kembali, mereka harus menunggu berbulan-bulan jika ingin pulang ke India dengan menumpang embusan angin timur laut.

Air tawar dan pelaut

Sabang atau Pulau Weh yang dikenal zaman penjelajah, telah banyak diketahui tentang susahnya mencapai pulau yang disebut seorang penjelajah Eropa bernama De Graaf, banyak celengnya dan banyak pula kayu bakarnya.

Kenangan De Graaf di tempat ini sangat buruk karena kapalnya karam di sana dalam perjalanannya dari Malaka.

“Kami berlayar menyusuri tepi barat Sumatera dan nyaris kandas pada karang-karang Pulo Way dan seandainya laut pada waktu itu tinggi, rasa-rasanya kami tidak bakal bisa selamat,” sebut De Graaf. Saking bahaya kawasan perairan ini dengan angin yang tidak bisa diprediksi, beberapa penjelajah saling memperingatkan. Mereka menyebutkan jika mau sampai ke Malaka, sebaiknya menghindari Sabang dan pergunungan Lamuri yang menjorok ke dalam laut atau Lamreh sekarang ini karena arus di tempat ini kuat sekali.

Banyak penjelajah mendatangi Sabang, karena kebutuhan air tawar yang dibutuhkan selama perjalanan menuju Malaka atau negeri nusantara lainnya.

Dampier, utusan Portugis yang tiba di Aceh pada bulan oktober 1638 mula-mula sampai di pulau yang disebutnya “dos degradados”.

Beberapa catatan penjelajah, malah menyebut asal mula nama Weh adalah waih yang disebut sebagai kata-kata air. Pulau Waih adalah yang dapat didatangi untuk mencari air tawar, yang ada “tempat air tawar”nya. Pada salah satu tempat patokan pelaut yang digambar oleh juru mudi Beaulieu, terdapat sebutan “Pulau Encauy, atau Pulau Way pada peta-peta Belanda,”.

Posisi strategis Sabang dengan Teluk Aceh di dekat daratan Aceh, disebutkan dapat dimasuki melalui tiga “terusan” atau alur, sehingga terhindari pulau-pulau dan gosong-gosongnya. Yang satu dinamakan terusan Surat, yang dipakai kalau mau berlayar ke Gujarat. Kedua, terusan Benggali, untuk pergi ke pantai timur India. Yang ketiga, tidak mempunyai nama tertentu, untuk berlayar ke Malaka.

Uniknya lagi, biarpun jarak dari perairan Sabang dengan daratan Aceh yang disebut penjelajah Perancis Laksamana Beaulieu hanya 4 mil, namun memerlukan waktu delapan hari sebelum bisa mendarat. Penjelajah ini menyebutkan bahwa mereka akhirnya nekat ingin lewat terusan yang paling dekat dengan daratan dan terbuka, tetapi di terusan itu kapal-kapal mereka disambut angin-angin keras dari tenggara yang bertiup langsung dari haluan sehingga mereka kehilangan satu jangkar.

Negeri Para Aulia

Cerita angin bertiup kencang dan deru ombak laut yang besar di perairan Sabang, sering dikaitkan dengan kisah para aulia 44 di tempat ini. Para ulama atau orang-orang berilmu yang pertama sekali menghuni pulau ini, makamnya tersebar di beberapa tempat.

Sebagai tempat wisata yang terkenal, Sabang tidak hanya elok pasir putih pantai dan laut biro toska nya, negeri kepulauan ini juga memiliki banyak situs bersejarah, termasuk makam para ulama dan situs wisata peninggalan Eropa.

Sabang akan terus menjadi destinasi wisata andalan, dan perjalanan laut ke pulau ini selalu penuh kisah dan kenangan. Anggap saja goyangan ombak dan deru angin yang kadang-kadang dirasakan berat adalah kisah tersendiri untuk menikmati indahnya panorama, serpihan surga di ujung barat Indonesia. (Hasnanda Putra)