Banghas

RATU, KISAH SEJARAH DAN POS ACEH

2906
Ilustrasi

 

Tulisan ini ditulis untuk menghormati sebuah tulisan sejarah, karena tanpa itu sungguh kita akan dianggap sedang mendongeng. Pentingnya literasi sejarah menjadi alasan utama hadirnya kolom *Banghas* di Pos Aceh.

 

Seringkali kita mendengar cerita dongeng yang terus hidup di Jawa, misalnya. Karena terus diceritakan, kadang kita menganggap itu sebuah fakta atau sejarah, padahal hanya cerita rakyat yang berkembang. Sebalinya di Aceh, banyak sejarah karena tidak ditulis dan tidak lagi diceritakan akhirnya dianggap dongeng belaka. Hal ini sering penulis temukan ketika bercerita sejarah, banyak anak-anak muda terlihat tidak begitu yakin. Tentu ini bukan salah mereka, namun kita tidak menjaga atau menghidupkan cerita tersebut.

 

Lebih kurang istilahnya bagaimana literasi sejarah menjadi penting, agar sebuah cerita akan terus hidup sepanjang zaman.

 

Cukeh Banghas menganggap penting literasi sejarah, biarpun kadang penulis mencoba mengangkat cerita dari sisi berbeda. Fakta sejarah tidak berubah, hanya bumbu alur kita atur agar mudah dipahami.

 

Seperti kisah berikut yang menggambarkan kondisi Aceh sewaktu zaman seorang ratu. Sekali lagi, ini bukanlah dongeng.

 

**

 

Dari Nikobar, seorang pelaut Inggris mengadakan pelayaran heroik ke Aceh, suatu hari di 1688. Sebelumnya sang kapten ini ditinggalkan oleh awak kapalnya tanpa bekal sedikit pun di Kepulauan Nicobar, India yang terletak di barat teluk Aceh.

 

William Dampier tiba dari arah Ulee Lheue, dan menelusuri perjalanan ke darat melalui Krueng Aceh. Menurut beberapa sejarawan, pelabuhan Aceh berada di antara pulau Weh dan pulau Aceh, atau apa yang disebut sebagai Teluk Aceh. Pernyataan ini cukup masuk akal bahwa sejatinya tidak ada pelabuhan atau bandar di daratan Aceh, karena infrastruktur pelabuhan baru terlihat ketika Belanda membangunnya di Ulee Lheue.

 

Kedatangan Dampier ke Aceh guna memulihkan kesehatan maupun mengembalikan sedikit keuangannya, namun hal ini juga dimanfaatkannya untuk mempelajari sebuah kerajaan yang dipimpin seorang perempuan.

 

Dalam buku Sumatera Tempo Doeloe, karya Anthony Reid, diceritakan rekam perjalanan tertulis sang kapten Inggris ini diterbitkan dalam sebuah buku sekitar tahun 1699. Karya ini mengangkat nama Dampier dengan promosi memimpin pelayaran HMS Roebuck ke pantai utara Australia dan sekitar New Guinea.

 

Kota Aceh

 

Kota Aceh atau Dampier menulisnya Achin (Banda Aceh sekarang) adalah ibukota kerajaan Aceh. Disebutkan kota ini terletak di tepi sungai, hampir di ujung barat daya pulau, sekitar 3 kilometer dari laut. Bila dibaca berdasarkan catatan ini, maka inilah yang disebut Daruddunia, istana megah di Kutaradja. Letak istana diperkirakan berada di area lahan Meuligoe atau Pendopo Gubernur Aceh dengan asrama Keraton dan Taman Putroe Phang.

 

Kota istana itu terdiri dari 7000 atau 8000 rumah, dan di dalamnya ada banyak sekali pedagang asing, dari Inggris, Belanda, Denmark, Portugal, Cina, Gujarat, dan lain-lain. Pedagang Inggris sangat diterima di Aceh dan kadangkala mereka leluasa berdagang tanpa membayar cukai layaknya pedagang asing lainnya. Perlakuan istimewa ini bukan tanpa alasan, karena kerjasama kedua negera telah terbangun beberapa periode sebelumnya.

 

Sebelumnya telah ada kerjasama erat kerajaan Aceh dengan Inggris, sejak zaman kakek Sultan Iskandar Muda (Ala Ad-Din Ri’ayat Syah) dan Sir James Lancaster yang membebaskan bea masuk untuk pedagang Inggris.

 

Kehidupan sehari-hari di negeri Aceh kala itu cukup menarik karena begitu banyaknya budak di pelabuhan. Budak dari luar ini tidak hanya di kota tapi juga sampai menggarap sawah dan pertambangan di pelosok pendalaman.

 

Saat itu kerajaan pelabuhan ini dipimpin Ratu terakhir Aceh Sri Ratu Sultanah Kamalat Syah Zinat al-Din (1688-1699 M). Dampier menulis, konon Ratu Aceh adalah seorang perawan tua yang dipilih dari keluarga kerajaan.

 

Walaupun dipimpin seorang perempuan, namun warga kota nyaris tidak pernah melihat sosok sang Ratu ini. Ketika mengendarai gajah pun, tempat duduk ratu ditutupi kain seperti rumah kecil, begitupun tamu yang menghadap ke istana hanya mendengarkan suaranya saja.

 

Begitulah kisah sebuah zaman ketika Aceh dipimpin seorang ratu, dan begitu banyaknya para budak yang dipekerjakan saat itu. Semua pekerjaan dilakukan budak-budak, karena para penjelajah menyebut orang-orang di Aceh sangat malas bekerja di sawah dan termasuk menggunakan tenaga budak di perkebunan dan pertambangan.

 

Nah, bagaimana para budak-budak itu akhirnya, apakah mereka dibebaskan. Kalau budak-budak itu tidak kembali ke negaranya, di manakah kemudian mereka tinggal di Aceh. Demikianlah, selalu saja ada misteri yang tak semua akan terungkap.

 

Jangan berhenti meningkatkan literasi sejarah, agar cerita terus hidup sepanjang masa. Selamat milad Pos Aceh dalam momentum istimewa bulan hari lahir Baginda Rasulullah. Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad.

(Hasnanda Putra)

Exit mobile version