Opini

Rahmat Ramlan bin Kadiman: Darah Persaudaraan yang Terhubung dengan Perjuangan Perang Kelulum

184
×

Rahmat Ramlan bin Kadiman: Darah Persaudaraan yang Terhubung dengan Perjuangan Perang Kelulum

Sebarkan artikel ini
Syahrul Amin (Foto: Dok Pribadi)

Oleh Syahrul Amin*

Sejarah perjuangan melawan penjajahan tidak selalu tertulis lengkap di dalam buku sejarah. Sebagian di antaranya justru bertahan melalui cerita keluarga, kesaksian masyarakat, dan ingatan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Salah satu kisah yang hidup dalam keluarga saya adalah tentang Rahmat Ramlan bin Kadiman, seorang prajurit yang ikut berjuang melawan penjajah Belanda dalam Perang Kelulum di Gampong Sapik pada tahun 1926.

Dalam kisah yang diwariskan keluarga, perjuangan tersebut dipimpin oleh Panglimo Rajo Lelo, sementara pasukan kolonial Belanda dipimpin oleh Kapten J. Paris. Rahmat Ramlan bin Kadiman berada di tengah barisan perjuangan sebagai seorang prajurit.

Rahmat Ramlan bukan seorang pemimpin perang. Ia adalah seorang prajurit yang berdiri bersama para pejuang lainnya di medan pertempuran. Namun, sejarah perjuangan tidak hanya dibangun oleh mereka yang memegang komando. Di balik seorang pemimpin, selalu ada prajurit yang bersedia mempertaruhkan tenaga, keberanian, bahkan nyawanya.

Rahmat Ramlan kemudian gugur dalam perjuangan tersebut. Saat itu ia baru menikah dan belum memiliki keturunan. Kepergiannya meninggalkan seorang istri sekaligus meninggalkan sebuah cerita yang kemudian diwariskan oleh keluarga.

Yang membuat kisah ini memiliki hubungan khusus dengan saya adalah Rahmat Ramlan bin Kadiman merupakan kakak kandung dari Mat Dale bin Kadiman, yang menjadi leluhur biologis saya.

Setelah Rahmat Ramlan gugur, adiknya, Mat Dale bin Kadiman, kemudian menikahi istri yang ditinggalkan oleh kakaknya. Dari garis keturunan Mat Dale inilah kemudian lahir keturunan yang sampai kepada saya.

Secara biologis, saya bukan keturunan langsung Rahmat Ramlan. Garis keturunan saya berasal dari adiknya, Mat Dale bin Kadiman. Namun, Rahmat Ramlan tetap merupakan bagian dari garis keluarga saya melalui hubungan darah sebagai saudara kandung dari leluhur biologis saya.

Karena itu, ketika berbicara tentang “darah pejuang”, saya memaknainya bukan sebagai klaim bahwa saya adalah keturunan langsung Rahmat Ramlan. Lebih dari itu, saya melihatnya sebagai bagian dari sejarah keluarga yang memiliki seorang anggota keluarga yang pernah berdiri di medan perjuangan.

Rahmat Ramlan bin Kadiman adalah seorang prajurit. Mat Dale bin Kadiman adalah leluhur biologis saya. Keduanya adalah saudara kandung.

Hubungan itu membuat kisah perjuangan Rahmat Ramlan tidak terasa sebagai sejarah yang jauh. Ia menjadi bagian dari sejarah keluarga yang perlu dijaga dan diceritakan.

Perang Kelulum tahun 1926 mungkin telah berlalu hampir satu abad. Para pelakunya telah tiada. Medan pertempuran pun telah berubah oleh zaman. Tetapi pengorbanan orang-orang seperti Rahmat Ramlan tidak semestinya hilang hanya karena waktu terus berjalan.

Sebab sejarah bukan hanya tentang nama-nama besar yang tercatat dalam buku. Sejarah juga tentang para prajurit yang berdiri di barisan depan, menjalankan tugas, dan berani menghadapi risiko kematian tanpa mengetahui apakah nama mereka akan dikenang oleh generasi setelahnya.

Rahmat Ramlan mungkin tidak meninggalkan keturunan biologis. Namun, ia meninggalkan jejak perjuangan.

Dan bagi keluarga kami, jejak itu adalah bagian dari identitas sejarah yang patut dirawat.

Saya tidak ingin menjadikan kisah ini sekadar kebanggaan karena memiliki seorang pejuang dalam lingkaran keluarga. Justru sebaliknya, kisah Rahmat Ramlan menjadi pengingat bahwa kemerdekaan dan kehidupan yang kita nikmati hari ini tidak datang begitu saja.

Ada orang-orang yang pernah meninggalkan rumahnya.

Ada yang meninggalkan keluarga yang dicintainya.

Dan ada pula yang akhirnya meninggalkan dunia ini di medan perjuangan.

Salah satunya adalah Rahmat Ramlan bin Kadiman, prajurit yang menurut kisah keluarga ikut berjuang dalam Perang Kelulum di Gampong Sapik pada 1926.

Tugas generasi hari ini bukan mengagungkan masa lalu tanpa dasar, melainkan merawat ingatan, menelusuri fakta, dan memastikan kisah perjuangan para leluhur tidak hilang ditelan zaman.

* Syahrul Amin, S.Sos., anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Aceh.