“Laut membawa kabar. Tapi kadang, ia juga membawa pergi yang tak sempat kita jaga.”
Di ujung barat Sumatra, ketika mentari tenggelam di balik laut lepas dan angin menyentuh nyiur dengan bisikan masa lalu, ada duka yang tak tampak di permukaan. Aceh, tanah yang pernah berdiri sebagai mercusuar maritim, kini menyimpan cerita kehilangan yang senyap—pulau-pulau yang perlahan menghilang, bukan karena tsunami, bukan pula karena karam, tapi karena abai dan diam yang terlalu panjang.
Di selatan Aceh, tepatnya di Singkil, empat pulau kecil pernah berdiri sebagai titik penanda batas, sebagai ladang ikan, sebagai tempat perahu menepi dan nelayan berdoa: Pulau Panjang, Pulau Lipan, Pulau Mangkir Gadang, dan Pulau Mangkir Ketek. Nama-nama itu mengalir dari mulut ke mulut nelayan tua, ditulis di peta-peta kuno dan dikenal sebagai bagian dari Aceh sejak dahulu kala. Tapi hari ini, keempatnya telah berpindah tangan, masuk dalam administrasi Tapanuli Tengah, Sumatera Utara—tanpa dentang perang, tanpa suara rakyat.
Mereka tidak pergi jauh. Tapi mereka tak lagi menjadi milik Aceh.
Di Mana Kita Saat Mereka Pergi?
Di tengah gelombang modernisasi dan otonomi daerah, pulau-pulau kecil seperti itu menjadi taruhan. Ketika administrasi menjadi pertarungan dokumen dan rapat-rapat tertutup, kadang sejarah dan suara rakyat pesisir tak sempat bicara. Pulau-pulau itu mungkin kecil, mungkin sepi. Tapi mereka adalah garis hidup bagi banyak nelayan, tempat berpijak perahu saat badai datang, tempat laut memberi rezeki di tengah keterbatasan daratan.
Aceh Singkil pernah menatap keempat pulau itu sebagai bagian dari jantungnya. Tapi kini, dalam diam, mereka telah diberi kode pos baru, bendera kantor kecamatan baru, dan pelan-pelan, identitasnya pun akan ikut berganti.
Laut Masih Ingat, Tapi Kita?
Laut tak pernah lupa. Ia tahu siapa yang dulu menambatkan jangkar di pasirnya, siapa yang dulu menyebut nama-nama itu dengan aksen Aceh pesisir. Tapi di darat, ingatan kita terlalu cepat usang. Pulau yang tak ramai didatangi pelancong kerap dianggap tak penting. Padahal, setiap pulau adalah penjaga garis depan kedaulatan. Setiap pulau adalah jejak sejarah.
Kita sering terlalu sibuk mengurus pusat, lalu lupa pada pinggiran. Lalu ketika batas berubah, kita baru tersentak. Tapi pulau-pulau itu sudah pergi. Bukan karena mereka ingin, tapi karena tak ada yang menggenggam.
Menjaga Sisa Garis Pantai
Kita belum sepenuhnya kehilangan semuanya. Masih ada pulau-pulau lain yang setia menunggu perhatian. Mereka tidak bicara, tapi waktu terus berjalan. Jika kita tidak belajar dari hilangnya Panjang, Lipan, Mangkir Gadang dan Mangkir Ketek, maka bisa jadi nama-nama lain akan ikut lenyap, hanya tinggal dalam catatan sejarah atau ingatan para tetua kampung.
Kini saatnya kita kembali ke laut. Bukan untuk menyesali yang telah pergi, tapi untuk menjaga yang tersisa. Kita harus menulis ulang peta, bukan hanya di atas kertas, tapi di dalam hati. Supaya ketika anak cucu bertanya, kita tak lagi berkata, “Pulau itu dulu milik kita, tapi entah bagaimana, kini bukan lagi.”
“Pulau-pulau itu mungkin kecil,
tapi kehilangan mereka
adalah kehilangan arah kompas yang pernah kita abaikan.” (Hasnanda Putra)











