Banghas

Peunayong: Pecinan dan Harmoni Keberagaman di Aceh

1186
×

Peunayong: Pecinan dan Harmoni Keberagaman di Aceh

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi suasana keberagaman Peunayong dengan tradisi Cina dan keseharian masyarakat Aceh dan berbagai etnis lainnya.

Di jantung pusat kota Banda Aceh, ada sebuah kawasan yang sejak lama menjadi saksi percampuran budaya dan harmoni antaretnis: Peunayong. Kawasan ini dikenal sebagai Pecinan Aceh, tempat komunitas Tionghoa hidup berdampingan dengan masyarakat Aceh dan etnis lainnya sejak ratusan tahun lalu.

Asal Mula Pecinan di Peunayong

Keberadaan orang Tionghoa di Aceh bukanlah hal baru. Catatan sejarah menunjukkan bahwa interaksi antara Aceh dan Tiongkok telah terjadi sejak zaman Kerajaan Samudera Pasai (abad ke-13) dan Kesultanan Aceh (abad ke-16). Kapal-kapal dagang dari Tiongkok membawa sutra, keramik, dan rempah-rempah, sementara pedagang Aceh menawarkan lada dan emas.

Menurut cerita orang-orang zaman, Peunayong berasal dari kata “Peumayong” atau “peu payong”, bermakna memayungi atau melindungi. Dulunya disebut Peunayong ini merupakan tempat Sultan Iskandar Muda menyediakan kawasan khusus yang dilindungi untuk menjamu tamu kerajaan yang datang dari Eropa dan China.

Komunitas Tionghoa mulai menetap secara lebih permanen di Aceh pada masa kolonial Belanda. Pada akhir abad ke-19, Belanda membangun Peunayong sebagai kawasan pemukiman bagi para pedagang dan pekerja keturunan Tionghoa. Lokasinya yang strategis, dekat dengan Sungai Krueng Aceh dan pelabuhan, menjadikannya pusat aktivitas ekonomi.

Berbeda dengan komunitas Tionghoa di daerah lain di Indonesia, banyak keturunan Tionghoa di Peunayong justru fasih berbahasa Aceh, bahkan ada yang lebih lancar daripada bahasa leluhur mereka.

Seiring waktu, Peunayong berkembang menjadi pusat perdagangan yang ramai.

Keberagaman dan Harmoni di Peunayong

Meski awalnya dihuni oleh komunitas Tionghoa, Peunayong tidak hanya menjadi milik satu kelompok saja. Sejak dulu, kawasan ini telah menjadi tempat interaksi berbagai etnis Aceh, Melayu, Arab, dan India.

Tempat Ibadah yang Berdampingan

Salah satu simbol keberagaman di Peunayong adalah keberadaan Vihara Dharma Bhakti, yang telah berdiri sejak lebih dari seabad lalu. Vihara ini menjadi tempat peribadatan utama bagi warga Tionghoa yang menganut ajaran Buddha dan Konghucu. Tak jauh dari vihara, terdapat masjid dan gereja, mencerminkan harmoni dalam keberagaman beragama di Aceh.

Kuliner Perpaduan Budaya

Peunayong juga dikenal sebagai pusat kuliner khas yang mencerminkan percampuran budaya. Bakmi, kwetiau, dan nasi goreng Tionghoa menjadi favorit warga Banda Aceh, yang sering menikmati makanan ini di warung-warung tua yang masih bertahan hingga kini.

Identitas Cina Peunayong: Aceh dalam Jiwa, Tionghoa dalam Tradisi

Meski berbaur dalam budaya Aceh dan fasih berbahasa Aceh, orang Tionghoa di Peunayong tetap menjaga tradisi leluhur mereka.

Perayaan Imlek tetap diadakan, dengan pagelaran Barongsai dan lampion-lampion yang menghiasi kawasan Peunayong setiap tahun.

Namun, mereka juga merayakan kehidupan dengan cara yang khas Aceh. Banyak yang memakai pakaian khas Aceh dalam acara resmi, ikut serta dalam kenduri (jamuan makan tradisional Aceh), bahkan beberapa di antaranya menikah dengan orang Aceh dan membentuk keluarga multikultural.

Peunayong di Masa Kini

Hari ini, Peunayong tetap menjadi kawasan penting di Banda Aceh. Meski modernisasi mengubah wajah kota, jejak sejarah masih terasa di bangunan-bangunan tua dan lorong-lorong kecil yang dipenuhi toko-toko tradisional.

Namun, tantangan tetap ada. Banyak generasi muda Tionghoa memilih merantau ke luar Aceh, sementara beberapa bangunan bersejarah mulai tergantikan oleh gedung-gedung baru. Meski demikian, Peunayong tetap menjadi simbol keberagaman dan toleransi di Aceh—sebuah tempat di mana berbagai budaya hidup berdampingan dalam harmoni.

Kisah Peunayong adalah cerminan bagaimana keberagaman bisa menjadi kekuatan dalam sebuah komunitas. Dari pusat perdagangan masa lalu hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Banda Aceh, Peunayong membuktikan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan untuk saling menguatkan. (Hasnanda Putra)