Angin laut Ulee Lheue bertiup lirih pagi itu. Ombak menggulung perlahan, seolah menyembunyikan luka yang tak lagi bisa disembunyikan. Di tepi dermaga, seorang perempuan renta berdiri tegak. Matanya yang telah buram masih memancarkan api yang tak padam. Ia adalah Cut Nyak Dhien, srikandi yang namanya pernah membuat Belanda gemetar. Kini, tubuhnya rapuh, giginya tanggal, dan penglihatannya nyaris hilang. Namun harga diri itu… tetap kokoh, seperti karang yang menantang ombak.
Hari itu, di suatu senja 1906, ia akan dibawa pergi. Aceh—tanah yang ia cintai, tanah tempat darah suaminya, Teuku Umar, tertumpah—akan ditinggalkan. Bukan karena ia menyerah, tapi karena dikhianati oleh keadaan. Seorang pengikutnya, tak tahan melihat sang ibunda tua merintih lapar dan sakit di tengah hutan, akhirnya melapor kepada Belanda.
Di Dermaga Ulee Lheue
Tentara KNIL mendekat. Bayonet terhunus. Mereka menggiringnya ke sebuah kapal uap Belanda yang berlabuh di dermaga. Suara besi berdenting, tali-temali ditarik, dan mesin kapal meraung.
Cut Nyak Dhien menoleh sejenak. Gunung-gunung Aceh berdiri jauh di kejauhan. Hutan-hutan yang dulu menjadi benteng perjuangan, kini seperti menatap pilu. Ia menarik napas dalam, menyimpan aroma laut Aceh dalam dada yang semakin rapuh. Mungkin ini yang terakhir.
Perjalanan di Lautan – Antara Luka dan Doa
Kapal itu bergerak meninggalkan Ulee Lheue. Angin laut menampar wajahnya, seolah menghapus jejak perjuangan. Namun dalam hatinya, ia terus melantunkan doa. “Ya Allah, jangan biarkan Aceh tunduk.”
Hari-hari di atas kapal adalah hari-hari yang panjang. Gelombang kadang mengguncang keras, tapi tidak lebih keras dari guncangan di hatinya. Ia teringat Teuku Umar. Terbayang putrinya, Cut Gambang, yang ia tinggalkan di pedalaman. Ia teringat malam-malam ketika ia memimpin pasukan, suaranya lantang memecah sunyi hutan. Kini, semua itu tinggal kenangan.
Para serdadu Belanda sesekali mencuri pandang. Mereka tahu, perempuan tua ini adalah legenda. Mereka menangkap tubuhnya, tapi tidak akan pernah bisa menaklukkan namanya.
Batavia – Dari Laut ke Penjara
Setelah berhari-hari menyeberangi samudra, akhirnya kapal merapat di Batavia. Kota itu ramai, panas, dan asing. Cut Nyak Dhien digiring ke sebuah penjara. Di balik jeruji besi, ia duduk diam. Tubuhnya lemah, tetapi kepalanya tetap tegak. Ia tidak pernah meminta ampun, tidak pernah menangis di hadapan lawan.
Bagi Belanda, ia adalah simbol perlawanan yang berbahaya. Mereka takut ia akan membangkitkan semangat Aceh jika dibiarkan dekat. Maka, setelah beberapa lama, diputuskan: Cut Nyak Dhien harus diasingkan jauh dari tanah rencong.
Sumedang – Buangan yang Sunyi
Perjalanan kembali dimulai. Dari Batavia, ia dibawa jauh ke pedalaman Priangan, Jawa Barat. Sumedang. Di sanalah ia akan menghabiskan sisa hidupnya, jauh dari laut Aceh, jauh dari aroma kopi Gayo, jauh dari gemuruh takbir para pejuang.
Di Sumedang, ia tinggal di sebuah rumah sederhana di pinggir kota. Masyarakat setempat menghormatinya, tapi tidak ada yang tahu, di balik keriput wajah itu, ada samudra duka yang tak bertepi. Ia mengajar mengaji anak-anak, membagi hikmah, seolah menenangkan jiwanya sendiri.
Dan di suatu hari yang sunyi, 6 November 1908, perempuan perkasa itu berpulang. Bukan di tanah kelahirannya, tapi di tanah rantau yang asing. Namun, semangatnya tetap kembali ke Aceh, terbang bersama angin yang membawa doa para syuhada.
Hari ini, di Sumedang, pusaranya masih ada. Dan setiap orang yang menatap namanya, akan tahu:
Cut Nyak Dhien tidak pernah kalah. Ia hanya pergi, untuk menang dengan cara yang lain. (Hasnanda Putra)











