Daerah

Pemkab: 90 Persen Sawah di Aceh Timur Gunakan Benih Inpari 32

11
×

Pemkab: 90 Persen Sawah di Aceh Timur Gunakan Benih Inpari 32

Sebarkan artikel ini
Jajaran Pemkab Aceh Timur melakukan panen padi di Aceh Timur, Rabu (14/10/2026). FOTO/ANTARA/HO-Humas Pemkab Aceh Timur

posaceh.com, Aceh Timur – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Timur melalui Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura menyatakan sebanyak 90 persen sawah di daerah itu menggunakan benih padi Inpari 32 dalam mendukung produktivitas pertanian di tengah risiko banjir saat musim penghujan.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Aceh Timur, Erwin Atlizar di Aceh Timur, Jumat (30/10/2026) menyebutkan penggunaan benih Inpari 32 menjadi pilihan petani untuk menjaga produktivitas sawah, terutama di kawasan berada dekat aliran sungai, di antaranya Krueng Jambo Aye.

“Sebanyak 90 persen sawah di Kabupaten Aceh Timur menggunakan benih Inpari 32, terutama yang lahannya dekat aliran sungai. Sawah dekat aliran sungai memiliki risiko terdampak luapan air ketika curah hujan meningkat, sehingga pemilihan varietas padi menjadi pertimbangan dalam menghadapi musim tanam,” katanya.

Erwin Atlizar menyebutkan total luas lahan persawahan di Kabupaten Aceh Timur mencapai 19.453 hektare.

Pemilihan benih tersebut disesuaikan dengan kondisi lahan pertanian yang di sejumlah wilayah rentan terendam banjir.

Dari sisi produktivitas, kata dia, hasil panen padi Inpari 32 dapat berkisar enam hingga tujuh ton per hektare.

Capaian tersebut juga menjadi pertimbangan petani dalam memilih varietas karena mampu mendukung kebutuhan pangan dan pendapatan keluarga.

“Meski demikian, pemilihan benih tetap perlu disesuaikan dengan kondisi lahan dan karakteristik wilayah masing-masing. Petani di kawasan rawan genangan perlu mempertimbangkan risiko banjir, ketersediaan air, serta waktu tanam agar proses pertumbuhan padi dapat berlangsung optimal,” katanya.

Selain Inpari 32, kata Erwin Atlizar, sebagian petani di Kabupaten Aceh Timur memilih menanam padi gogo, terutama di kawasan perbukitan yang memiliki potensi lebih kecil terdampak banjir.

Varietas ini menjadi alternatif untuk lahan yang berbeda karakteristik dengan persawahan di dataran rendah.

Penanaman padi gogo memungkinkan petani memanfaatkan lahan tidak bergantung pada sistem persawahan beririgasi.

Pemilihan jenis padi yang sesuai dengan kondisi lahan diharapkan dapat membantu petani mempertahankan produksi sekaligus mengurangi risiko kerugian akibat kondisi cuaca yang tidak menentu.

“Melalui pemilihan varietas yang sesuai dengan karakteristik lahan, kami berharap produktivitas pertanian tetap terjaga.

Petani juga diharapkan mempertimbangkan kondisi cuaca dan potensi banjir sebelum memulai musim tanam agar hasil panen dapat lebih optimal,” kata Erwin Atlizar.(Muh/*)