Nasional

Pakar Ungkap Strategi Jaga Pertumbuha EV tanpa bergantung insentif

28
×

Pakar Ungkap Strategi Jaga Pertumbuha EV tanpa bergantung insentif

Sebarkan artikel ini
Pengguna kendaraan listrik mengisi daya di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di PLN UP3, Kota Malang, Jawa Timur, Senin (13/4/2026). FOTO/ANTARA

posaceh.com, Jakarta – Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menilai pertumbuhan kendaraan listrik (EV) di Indonesia masih dapat dijaga meski insentif pemerintah berpotensi berubah selama didukung strategi tepat dari sisi harga, infrastruktur, dan ekosistem.

Ia menyebut terdapat sejumlah faktor yang dapat menggantikan peran insentif fiskal dalam menarik minat konsumen kendaraan listrik.
“Ada lima faktor yang potensial menggantikan insentif fiskal ya,” kata Yannes ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Kamis.

Ia menjelaskan faktor pertama adalah keunggulan biaya kepemilikan atau total cost of ownership (TCO) yang harus lebih ekonomis dibanding kendaraan berbahan bakar minyak (BBM).

Yannes mengungkapkan ketersediaan infrastruktur pengisian daya yang memadai, termasuk stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di berbagai lokasi strategis juga berperan penting dalam penciptaan ekosistem kendaraan listrik.

Faktor ketiga adalah stabilitas nilai jual kembali kendaraan yang perlu didukung garansi baterai jangka panjang.
Kemudian, Yannes menjelaskan faktor keempat didukung melalui skema pembiayaan inovatif seperti leasing khusus EV atau battery-as-a-service.

Kelima, diferensiasi produk melalui teknologi dan fitur yang tidak dimiliki kendaraan konvensional juga dapat menjadi daya tarik konsumen.

“Yang paling fundamental adalah harga BEV harus masuk zona Rp150 juta–200 jutaan agar menyentuh kelas menengah yang sesungguhnya,” katanya.

Selain itu, ia menilai kenaikan harga BBM dapat menjadi pendorong alami bagi adopsi EV.

“Setiap kenaikan Pertalite atau Pertamax Rp1.000/liter berpotensi mempercepat titik impas BEV satu sampai dua tahun,” ujarnya.

Namun demikian, ia menekankan pentingnya kesiapan infrastruktur sebagai faktor krusial.

Ia mencatat rasio SPKLU di Indonesia masih tertinggal dibanding standar internasional.

“Tanpa infrastruktur yang matang, range anxiety tetap jadi hambatan utama adopsi BEV ini,” katanya.

Untuk menjaga pertumbuhan berkelanjutan, Yannes juga mendorong pengembangan kendaraan listrik dengan harga terjangkau melalui peningkatan kandungan lokal serta produksi massal di dalam negeri.

Dengan langkah tersebut, pertumbuhan EV di Indonesia dinilai tetap dapat berlanjut secara lebih sehat dan berkelanjutan meski ketergantungan pada insentif berkurang.

“Strateginya paling baik adalah segera mendorong EV segmen Rp150 juta–200 jutaan via TKDN tinggi dan skala produksi massal di dalam negeri,” pungkasnya.(Muh/*)