Olahraga

Motivasi Pendekar Aceh Raih Emas PON Papua

2730
×

Motivasi Pendekar Aceh Raih Emas PON Papua

Sebarkan artikel ini

Tiga pendekar Aceh, Ardila, Misran dan M Dipa dan pelatih Irwantoni (dua dari kanan) fose bersama usai menjalani latihan di aula sekretariat IPSI Aceh, komplek Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh. Foto : Sudirman Mansyur. 

Laporan : Sudirman Mansyur

Petang itu tiga pendekar Aceh, Muhammad Dipa, Misran, Ardila terlihat begitu serius dan fokus saling mengadu jurus-jurusnya dalam menyerang dan menghindar pada suatu sesi latihan di ‘padepokan’ komplek Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh.

Berlatih dan berlatih untuk meningkatkan tehnik, fisik dan mental serta konsentrasi, menjadi rutinitas setiap hari, pagi dan petang bagi tiga pesilat Aceh tersebut dalam pemusatan latihan daerah (Pelatda) yang sudah dijalani selama hampir dua tahun ini, guna menghadapi PON XX di Papua yang akan digelar 2 – 13 Oktober 2021.

Cucuran keringat yang setia menemani dalam setiap latihan, kian menyemangati para pendekar Aceh ini untuk menggapai prestasi terindah di Bumi Cendrawasih nanti.

Impian itupulalah, ketiga atlet tersebut menyisihkan rasa lelah dan jenuh yang tekadang menghampiri dalam masa menjalani penempaan di kawah candradimukanya Pelatda yang dilaksanakan KONI Aceh.

“Saya berusaha dan terus semangat berlatih demi meraih prestasi terbaik,” ujar Ardila yang juga mahasiswi semester enam jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala (FKIP USK) ini.

Tekad yang sama juga diutarakan Misran dan M Dipa, sehingga menjalani pemusatan latihan dengan tekun, serius dan penuh semangat.

Misran, M Dipa dan Ardila adalah atlet pilihan yang diandalkan Aceh, setelah berhasil meraih dua medali emas serta satu perunggu di Prakualifikasi PON (Pra PON) yang menjadi ajang penentuan bagi para pesilat untuk berlaga di PON Papua.

Prestasi medali emas yang diraih Misran dan M Dipa, serta perunggu oleh Ardila di Pra PON itu sebagai meretas jalan mencapai tujuan dan target utama medali emas di Papua.

Berusaha Raih Emas

Mempersiapkan tiga atlet melalui pemusatan latihan daerah, Pengurus Provinsi Ikatan Pencaksilat Seluruh Indonesia atau IPSI Aceh tidak ingin tanpa medali pulang dari PON Papua.

Bagi IPSI Aceh cukuplah pengalaman pahit PON XIX/2016 Jawa Barat, pulang dengan tangan kosong alias tanpa medali. Kegagalan itu menjadi cemeti untuk meraih medali di Papua, sekaligus mengembalikan tradisi medali sejak silat dipertandingkan PON VIII/1973 dan kejayaan di era 80-an.

Dua pesilat Aceh, M Dipa dan Ardila sedang berlatih tanding di Pelatda. Foto : Sudirman Mansyur. 

Silat cabang olahraga beladiri yang memang menjadi andalan Aceh meraih medali dalam setiap multi event olahraga empat tahunan di tanah air ini, bahkan menjadi primadona di tahun 80-an yang memiliki banya pesilat tangguh saat itu. Era emas berlanjut pada 2000 – 2004 dengan atlet Fachrurrazi dan Maimun.

Terbentuknya kepengurusan periode 2020 – 2024, lembaran baru pun dimulai. “Pengurus Provinsi (Pengprov) IPSI Aceh yang terbentuk pada Februari 2020, dibawah kepemimpinan Ketua Umum, Ir. H. Azhar Abdurrahman, yang merupakan Bupati Aceh Jaya dua periode, mulai berbenah dan mempersiapkan secara maksimal tiga pendekar yang akan bertarung di PON Papua,” ujar Sekretaris Umum IPSI Aceh, Maszuar kepada posaceh.com baru-baru ini.

Misran kelas C (60 Kg), Muhammad Dipa kelas I (85 – 95 Kg) masing-masing meraih medali emas dan Ardila kelas D putri (60-65 Kg) mendapat medali perunggu pada Pra PON yang digelar di Jakarta, November 2019.

Dasar prestasi di Pra PON, para pendekar tersebut masuk sebagai atlet prioritas satu dalam menjalani program Pelatda KONI Aceh.

Maszuar menyebutkan, selama 2020 hingga bertanding di PON, ketiga atlet dipersiapkan melalui Pelatda yang dilaksanakan KONI Aceh.

katanya, walau dalam kondisi corona virus desease 2019 (Covid-19) para atlet semangat dan serius menjalani latihan. Motivasi meraih prestasi terbaik untuk mengubah kondisi hasil PON sebelumnya, para atlet dalam latihan terus diarahkan ke peformance terbaik.

Dalam menjalani Pelatda, sebut Maszuar, para atlet yang ditangani pelatih Irwantoni, Mansur dan dirinya menangani bagian tehnik, hari ke hari menampakan progres.

“Insya Allah peluang mendulang medali terpampang di depan mata, namun hal tersebut pastinya tidak lepas dari dukungan segenap masyarakat Aceh,” ujar Maszuar yang meraih medali perunggu pada PON XVII/2008 di Samarinda, Kalimantan Timur.

Sebutnya, usaha terus dilakukan dan doa dari masyarakat Aceh merupakan hal terbesar dalam mengembalikan kejayaan silat bagi Serambi Mekah tercinta ini.

Ada Peluang

Seorang Pelatih Pelatda PON silat Aceh,

Irwantoni menyebutkan, kemajuan atau progres yang dicapai Misran, M Dipa dan Ardila makin bagus dari hari ke hari.

Para atlet menjalani latihan setiap hari, terutama tehnik dan latih tanding di hall silat di komplek Stadion Harapan Bangsa (SHB) Banda Aceh. “Mereka begitu semangat, serius dan fokus latihan fisik maupun tehnik,” ujar Toni sapaan akrab Irwantoni yang menyandang predikat pelatih nasional pada 2010.

Pendekar putri Aceh, Ardila fokus dan konsebtrasi jalani Pelatda PON. Foto : Sudirman Mansyur. 

Disebutkan, selama Pelatda para atlet mengikuti latihan fisik dan tehnik. “Setelah subuh, mulai pukul 06.00 WIB anak-anak mulai latihan fisik selama dua jam. Dilanjutkan petang, latihan tehnik selama dua jam juga. Namun pada Pelatda lanjutan 2021 ini lebih banyak latihan tehnik,” ujar Toni yang pernah menjadi pelatih di Inggris 2010.

“Kemampuan tehnik para atlet di PON nanti sama, ini diketahui ketika Pra PON. Namun itu tidak bisa jadi pegangan semata, karena bisa berupah. Atlet kita tentu akan tampil dengan gaya atau style tersendiri, sehingga ada peluang kita meraih medali,” ulas mantan pesilat Aceh di PON XIII/1993 dan PON XIV/1996 Jakarta.

Sekilas Sang Primadona

Maszuar sekilas menuliskan pencak silat sebagai cabang olahraga beladiri yang juga asset budaya bangsa Indonesia ini, perkembangan prestasinya bagi Aceh terjadi pasang-surut.

PON VIII tahun 1973 di Jakarta pencak silat pertama kali resmi dipertandingkan. Dalam dunia olahraga prestasi adalah sebuah tuntutan, prestasi ini diukur dengan perolehan medali pada suatu pertandingan.

Atlet silat Aceh berdoa usai jalani latihan. Foto : Sudirman Mansyur. 

Katanya, era 80-an silat menjadi suatu cabang olahraga primadona bagi Aceh, karena ukiran prestasi para pendekar yang membawa nama harum Tanah Rencong di kancah nasional bahkan internasional saat itu.

Sebutnya, pasang surutnya prestasi olahraga bela diri ini bagi Aceh memang dirasakan, ini disebabkan berbagai faktor. Namun pada PON XV/2000 di Surabaya, Jawa Timur, satu-satunya medali emas Aceh diperoleh dari pencak silat melalui perjuangan Fachrurrazi. Selain itu juga meraih dua medali perunggu melalui M. Jam Harun dan Zulbaedah.

Selanjutnya, PON XVI/2004 di Palembang, Sumatera Selatan prestasi sedikit menurun dibandingkan dengan PON sebelumnya, namun masih mampu meraih satu medali emas melalui Maimun.

Prestasi kian menurun, pada PON XVII/2008 di Samarinda, Kalimantan Timur, dari dua atlet yang lolos, hanya satu yang meraih medali perunggu yaitu Maszuwar.

Pada PON XVIII/2012 di Riau dengan perolehan dua perunggu dari Sahru Mubarak dan Dewi Hijjah Wulandari. Hal yang lebih miris adalah ketika PON XIX/2016 Jawa Barat, harus pulang dengan tangan kosong.

Lembaran Baru dimulai, Pengprov IPSI Aceh yang terbentuk pada Februari 2020, dibawah kepemimpinan Ir. H. Azhar Abdurrahman, yang merupakan Bupati Aceh Jaya dua periode, mulai berbenah untuk menggapai prestasi di PON dan sekaligus mengembalikan kejayaan. (*).