posach.com, Damaskus – Milisi Suriah yang sudah berperang sejak 2011 enggan melawan Israel yang terus menggempur wilayah itu sejak Bashar Al Assad digulingkan pada Minggu (8/12/2024). Pemimpin milisi Hayat Tahrir Al Sham (HTS) yang kini menguasai Suriah, Abu Mohammed Al Julani telah menyatakan negaranya terlalu lelah untuk menghadapi konflik bahkan perang baru, termasuk melawan Israel.
Hal itu diutarakan Julani saat ditanya soal tanggapannya terkait manuver Israel yang memanfaatkan situasi kacau Suriah dengan mengerahkan pasukan untuk menduduki lebih banyak wilayah di Dataran Tinggi Golan. Kawasan itu telah menjadi rebutan Israel, yang menduduki sebagian besar Dataran Tinggi Golan sejak 1981.
“Israel jelas telah melanggar garis pemisahan di Suriah, yang berpotensi memicu eskalasi baru yang tidak dapat dibenarkan di kawasan ini,” ujar Julani yang kini menggunakan nama aslinya, Ahmed Al Sharaa, seperti dikutip AFP pada Sabtu (14/12/2024). Dalam pernyataan di saluran Telegram kelompok tersebut, Julani menambahkan keletihan umum di Suriah setelah bertahun-tahun perang dan konflik tidak memungkinkan untuk memasuki konflik baru.
Julani juga meminta masyarakat internasional untuk campur tangan dan membantu menghentikan serangan Israel yang makin menggila di wilayahnya. Dalam wawancara pada Sabtu (14/12/2024) di TV Suriah yang berbasis di Istanbul, Ahmad al-Sharaa, yang lebih dikenal dengan nama samaran, berbicara tentang Israel untuk pertama kalinya sejak mengambil alih negara tersebut.
Kelompok pemberontak yang dipimpin oleh HTS melancarkan serangan terhadap pasukan Suriah pada bulan November, merebut kota-kota besar dan maju menuju Damaskus. Setelah runtuhnya militer Suriah, Mantan Presiden Bashar Assad melarikan diri dari negara tersebut dan diberikan suaka di Rusia.
Al-Julani mengatakan argumen Israel telah menjadi lemah dan tidak membenarkan pelanggaran mereka baru-baru ini. Pemimpin HTS itu menekankan Israel telah melewati batas keterlibatan di negara tersebut, yang mungkin mengancam eskalasi di wilayah tersebut.
Awal pekan ini, Israel melancarkan operasi besar, yang dilaporkan menyerang gudang senjata dan kapal angkatan laut milik tentara Assad sebelum kelompok oposisi bersenjata menguasai negara tersebut. Pasukan Israel juga tetap berada di zona penyangga yang dipatroli PBB antara Israel dan Suriah, dengan mengklaim itu sebagai zona pertahanan steril sementara di Suriah selatan untuk mencegah ancaman teroris.
Berbicara kepada Channel 4, seorang juru bicara HTS tidak langsung mengutuk serangan Israel, hanya menyatakan kelompok itu ingin semua orang” menghormati kedaulatan Suriah baru. “Al-Julani meminta masyarakat internasional campur tangan dalam situasi ini dan memikul tanggung jawabnya terhadap eskalasi ini,” katanya.
Pernyataan Julani itu muncul setelah pasukan Israel memasuki zona penyangga yang diawasi PBB di Dataran Tinggi Golan saat Presiden Bashar Al Assad digulingkan milisi pada 8 Desember lalu. Israel juga telah melakukan ratusan serangan udara terhadap aset militer Suriah, menurut laporan pengamat perang.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa pihaknya menghancurkan kemampuan strategis yang mengancam Negara Israel. Zona penyangga PBB memisahkan wilayah Dataran Tinggi Golan milik Suriah kini dan yang masih diduduki Israel. Langkah Israel tersebut, menurut PBB, melanggar perjanjian gencatan senjata Israel-Suriah pada 1974.
Israel, yang telah menduduki sebagian besar dataran tinggi strategis itu sejak 1974, menyatakan tindakannya merupakan upaya membela diri di tengah ketidakpastian politik di negara tetangga di timur lautnya.(Muh/*)
