Pada suatu masa, ketika laut masih setia membawa rempah Aceh ke seluruh penjuru dunia, dan langit belum muram oleh sejarah berdarah, hidup seorang pemuda bernama Meurah Pupok—putra mahkota Kesultanan Aceh, anak lelaki tunggal dari Sultan paling agung yang pernah menginjakkan kaki di tanah rencong: Iskandar Muda.
Ia dilahirkan dari rahim kemuliaan, tumbuh di tengah harapan dan doa rakyat yang menggantungkan masa depan pada pundaknya. Wajahnya terang bagaikan fajar, suaranya halus seperti angin lembah, dan pikirannya tajam melebihi pedang perang ayahandanya. Bila berjalan, rakyat menunduk bukan karena takut, tapi karena cinta. Bila menatap, istana serasa bersujud pada masa depan yang gemilang.
Namun, seperti bunga yang mekar terlalu dini, nasib Meurah Pupok ditulis dengan tinta pahit.
Pagi itu, langit Banda Aceh mendung, seolah tahu bahwa sesuatu akan pecah. Di ruang takhta yang dingin dan berat, Sultan Iskandar Muda menerima kedatangan seorang perwira kepercayaannya. Lelaki itu gemetar, bukan karena takut kepada raja, tapi karena hatinya hancur. Dengan suara parau yang patah-patah, ia melapor:
“Tuanku… ampun. Istriku… telah disentuh oleh paduka anakanda sendiri, Meurah Pupok.”
Waktu seolah berhenti.
Darah raja mendidih. Mata Iskandar Muda menatap kosong ke depan. Di antara cintanya sebagai ayah dan tanggung jawabnya sebagai raja, terbentang jurang tak berdasar. Ia bukan hanya dikhianati jika tuduhan itu benar—tetapi kehormatan kerajaannya diinjak oleh darah dagingnya sendiri.
Tak ada pengadilan. Tak ada ruang maaf. Tak ada pelukan terakhir.
Yang ada hanyalah sebuah titah: Meurah Pupok harus mati. Dan Aceh, yang selama ini bernapas lewat doa rakyat untuk sang pangeran, tiba-tiba tercekat.
Di halaman istana, rakyat berkumpul dalam senyap. Mereka tidak datang untuk menyaksikan hukuman, tapi untuk menyampaikan rasa kehilangan yang belum sempat dimulai. Meurah Pupok berjalan tenang, mengenakan pakaian putih, mata teduhnya tidak menampakkan dendam. Hanya luka. Luka dari ayah yang dulu menggendongnya dalam gelak tawa, kini menjadi tangan yang menandatangani kematiannya.
Ia tidak menangis. Tapi langit menangis untuknya. Gerimis jatuh perlahan seperti air mata bumi.
“Ayahanda,” katanya lirih sebelum suaranya tenggelam oleh gema genderang eksekusi, “jika ini harga dari kesalahan yang tak sempat kubela, maka biarlah aku pergi membawa cinta bukan dendam.”
Dan pedang pun jatuh. Membelah sejarah. Membelah cinta. Membelah satu-satunya harapan Aceh.
Setelah hari itu, Sultan Iskandar Muda tetap memerintah. Ia tetap menaklukkan musuh, mengukir kejayaan, dan membangun peradaban. Tapi rakyat tahu, ia tidak lagi sepenuhnya hidup. Setiap malam, di kamarnya yang sunyi, ia menatap tempat kosong di sebelah tempat tidurnya. Tak ada lagi tawa Meurah Pupok. Tak ada lagi suara langkahnya. Hanya bisikan-bisikan masa lalu yang datang membawa sesal dan penyesalan.
“Bukan musuh yang menghabisinya,” keluh rakyat, “tapi kekuasaan yang penuh intrik dan adu domba.”
Hari ini, makam Meurah Pupok sunyi, namun tak pernah sepi. Letaknya memang tidak beruntung, terbujur di antara kuburan Belanda permakaman Kerkhof Peucut. Orang-orang datang diam-diam. Menabur bunga, menyentuh nisan, dan berbisik lirih:
> “Ampun, tuanku… engkau mati bukan karena salah, tapi karena terlalu mencintai dalam dunia yang tak memberi ruang bagi kelembutan.”
Meurah Pupok tidak pernah menjadi sultan. Tapi ia menjadi legenda. Sebuah puisi hidup tentang cinta yang kalah oleh ambisi. Tentang seorang anak yang gugur bukan karena aibnya, tapi karena kesucian hatinya tak mampu bertahan di tengah badai kekuasaan.
Dan seperti segala yang tragis, kisah Meurah Pupok akan terus hidup bersama luka dalam cerita yang tak pernah terungkap dengan terang. (Hasnanda Putra)











