Daging-daging segar bergantungan, pedagang sudah menyiapkan lapak sejak semalam dan pembeli mulai menyerbu kawasan ini sejak pagi selepas subuh. Saya bersama Diana- isteri melihat langsung suasana Uroe Meugang ini sambil juga mencari daging pilihan dengan mengunjungi kawasan Pecinan Peunayong ini, Sabtu (23/5/2020).
Meja-meja di bawah teratak berjejeran di sepanjang Jalan lapangan SMEP, Peunayong. Terlihat orang dalam jumlah banyak berada di tempat ini. Itulah tradisi Meugang atau hari makan daging bersama yang tetap dilaksanakan di tengah darurat Covid-19, jatuh pada sabtu atau hari terakhir bulan Ramadhan 1441 H.
Tradisi Meugang–seperti hari raya makan daging bersama, yang diolah dengan beraneka ragam masakan khas Aceh. Tradisi ini tentu tidak murah, namun warga tetap tidak peduli dengan harga daging yang melambung tinggi. Biasanya memang di Meugang harga daging bisa naik hingga 50 persen dari harga biasanya.
Pedagang memotong daging ketika pembeli telah memilih daging pilihannya. Selain daging lembu juga dijajakan daging kerbau. Kedua jenis daging ini sedikit berbeda pada tekstur dan tentu saja rasanya.
**
Sejarah Meugang
Meugang atau Makmeugang adalah tradisi kuate yang sudah dilakukan sejak zaman kerajaan Aceh. Di masa kerajaan, Sultan biasanya memerintahkan disembelih ribuan kerbau dan dagingnya kemudian dibagi kepada warga. Tradisi Aceh bisanya dicantumkan dalam UU Kerajaaan tertinggi, Qanun Meukuta Alam.
Warga tetap melaksanakan tradisi Meugang turun temurun ini, sebuah warisan leluhur yang bernilai tinggi. Di sini tidak terlihat kaya miskin, semua dapur hari Meugang tetap beraroma kuah daging, hanya saja barangkali porsi jumlah berbeda-beda sesuai kemampuan.
**
“Padup sikilo, bang?,” tanya seorang warga.
“150 ribu rupiah,” Pedagang menjawab dan setelah pembeli sepakat, pisau tajam segera memotong irisan daging untuk ditimbang. Di sini warga dapat membeli daging menurut kesukaannya, sekaligus bisa langsung memastikan kelembutan dan kualitas daging dengan memegang daging yang digantung.
Sebagian daging itu dipotong semalam, di tempat pemotongan hewan di Gampong Pande. Biasanya daging yang disembelih di rumah potong hewan (RPH) ini lebih terjamin karena standar baku yang diterapkan untuk menjamin kehalalannya dan lebih bersih.
Sebagian pembeli terlihat memakai masker, mengikuti anjuran WHO dan kewajiban pakai masker juga sudah diperkuat dengan Perwal Banda Aceh. Tinggal lagi bagaimana kesadaran warga dan pedagang untuk patuh pada protokol kesehatan. Memang untuk standar jaga jarak belum semuanya patuh, karena ribuan warga yang tumpah-ruah di Pasang Meugang Peunayong ini tidak sebanding dengan tempat tersedia.
Peunayong menjadi pasar pagi paling lengkap di Banda Aceh. Selain memiliki pasar ikan segar, pasar daging dan pasar sayur, juga setiap momen hari Meugang disediakan khusus pasar daging. Di sini puluhan pedagang siap menjajakan daging terbaiknya. Warga menyukai daging sapi lokal Aceh karena lebih renyah dan nikmat.
Hari Meugang ikut menghentikan aktivitas lain. Para nelayan yang biasa melaut juga libur merayakan tradisi ini.
“Lam sithon hana tiep beuleun, maka jih tanyo menghormati tradisi nyo sebagai uroe pajoh sie ngen keluarga,” kata seorang pembeli ketika penulis mengajaknya berbincang.
Di sudut jalan, ibu-ibu menjual bumbu. Pembeli tinggal memesan bumbu yang ingin dimasak. Terlihat beberapa pembeli memesan bumbu bervariasi.
“Mak, pesan bumbu rendang dan kuah merah,” kata Diana. Setelah itu kami berjalan kaki sepanjang jalan H. T. Daudsyah yang tembus ke pasar sayur.
Selepas semuanya beres, kami segera bergegas meninggalkan Peunayong. Kondisi pandemi ini harus pandai menjaga diri apalagi berada dalam kerumunan warga. Kami tetap pakai masker dan berupaya menjaga jarak semampunya.
Begitulah tradisi yang tetap terlaksana di tengah pandemi, sehari sebelum hari raya idul fitri.(Hasnanda Putra)
