Kabut pagi menggantung di lembah Aceh Besar ketika langkah kaki sampai di halaman Mesjid Tuha Indrapuri. Di hadapan, bangunan tua bertingkat empat itu berdiri tenang, beratap kayu, bertiang batu. Dari kejauhan ia tampak sederhana, namun di bawah lantainya tersimpan sejarah panjang pertemuan antara masa Hindu, Islam, dan zaman kesultanan besar Aceh.
Jejak Kuno di Bawah Mihrab
Fondasi batu besar di bawah masjid ini bukan karya tukang abad ke-17. Arkeolog menemukan bahwa susunan batu itu adalah sisa candi kerajaan kuno yang berkaitan dengan Lamuri awal disebut dalam catatan Arab dan Tiongkok sejak abad ke-9. Lamuri, atau Lambri, adalah pelabuhan tua tempat rempah, doa, dan iman baru bertemu.
Ketika Islam mulai mengakar di tanah Aceh, bangunan lama itu tidak dihancurkan. Batu-batunya dipertahankan sebagai dasar masjid baru. Di sinilah keindahan sejarah Aceh tampak: agama tidak datang untuk meniadakan yang lama, tapi menenun makna baru di atas warisan lama.
Dari Candi ke Rumah Allah
Sejumlah sumber menyebut, Sultan Iskandar Muda (1607–1636) memerintahkan pembangunan masjid di atas reruntuhan candi itu sekitar tahun 1618. Ia dikenal sebagai raja besar yang memperkuat ilmu, hukum, dan arsitektur Islam di seluruh Aceh Darussalam.
Indrapuri menjadi titik dakwah penting di pedalaman Aceh Besar. Riwayat lisan menyebut masjid ini pernah menjadi tempat penobatan raja, menandakan posisinya bukan hanya rumah ibadah, tapi juga pusat spiritual dan politik pada zamannya.
Batu yang Bicara
Melihat dari dekat, kita akan kagum: fondasi batu candi menopang bangunan kayu ringan di atasnya perpaduan masa lalu dan masa kini yang langka. Atapnya bertingkat empat seperti pagoda, melambangkan perjalanan rohani: iman, Islam, ihsan, dan makrifat.
Saat cahaya senja menembus sela papan, ruangan masjid berubah teduh, seolah bernafas bersama zikir yang tak pernah berhenti sejak berabad lalu. Di dinding yang retak halus itu, kita seperti mendengar bisikan generasi yang datang dan pergi dengan doa yang sama.
Catatan dan Cerita
Catatan Belanda abad ke-19 menyebutkan, masyarakat Indrapuri memiliki “tempat ibadah kuno di atas reruntuhan bangunan lama.” Bagi rakyat, kisahnya lebih mistis: batu-batu besar masjid dibawa oleh pasukan Lamuri dengan doa yang kuat, dan fondasinya konon tak pernah retak meski dilanda banjir dan gempa.
Beberapa tetua percaya, siapa pun yang berdoa di bawah tangga masjid dengan hati bersih akan dikabulkan niat baiknya secepat gema azan dari menara kecil di atap.
Peluru dan Sujud
Saat perang Aceh melawan Belanda pecah pada abad ke-19, masjid ini tak luput dari kobaran perang. Ia dijadikan tempat perlindungan pejuang, menampung luka dan semangat. Peluru pernah menembus tiangnya, tapi tak meruntuhkan bangunannya. Usai perang, warga memperbaikinya dengan tangan sendiri, tanpa mengubah fondasi batu lama—seolah menjaga perjanjian suci antara masa lalu dan masa kini.
Menjaga dengan Cinta
Kini Mesjid Tua Indrapuri ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional, dikelola oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh. Namun penjaga sejatinya adalah warga sekitar. Mereka membersihkan masjid tiap Ramadan, mengganti atap, dan memperbaiki lantai dengan hati-hati, takut mengusik “napas sejarah” yang bersemayam di bawahnya.
Anak-anak berlari di pelataran, ibu-ibu menyiapkan bubur kanji, dan azan magrib berkumandang di bawah atap tua yang masih kokoh menatap langit.
Sujud Waktu
Mesjid Indrapuri adalah pengingat bahwa iman bisa tumbuh dari reruntuhan. Ia bukan sekadar bangunan tua, tapi simbol kesinambungan: dari candi ke masjid, dari batu ke doa, dari kerajaan ke rakyat.
(Hasnanda Putra)











