Daerah

Mentan Optimistis Pangan Aman Hadapi El Niño

16
×

Mentan Optimistis Pangan Aman Hadapi El Niño

Sebarkan artikel ini
Sejumlah mesin panen padi berada di area persawahan saat panen model PM-AAS di Subang, Jawa Barat. FOTO/Kementan

posaceh.com, Subang – Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman optimistis pangan nasional tetap aman menghadapi El Niño.

Optimisme itu disampaikan meski BPS memproyeksikan produksi beras Januari-Oktober 2026 turun tipis 0,08 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan produksi beras Januari-Oktober 2026 mencapai 31,41 juta ton.

Angka tersebut turun dari sekitar 31,44 juta ton pada periode sama 2025.

Produksi padi dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG) juga diproyeksikan mencapai 54,52 juta ton. Angka tersebut turun 0,08 persen dibandingkan periode Januari-Oktober 2025.

Amran menilai proyeksi penurunan tersebut perlu dilihat secara proporsional terhadap total produksi nasional. Dengan basis produksi sekitar 34,7 juta ton, penurunan 0,08 persen hanya setara sekitar 30 ribu ton.

“0,08 persen itu hanya 30 ribu ton, kecil sekali dibandingkan 34,7 juta ton,” kata Amran. Ia menyampaikan pernyataan tersebut usai panen padi model PM-AAS di Subang, Jawa Barat, Rabu 2 September 2026.

Amran mengatakan Indonesia masih berada dalam kondisi surplus pangan. Ia menyebut surplus sekitar empat juta ton tercatat pada tahun lalu dan kembali terjadi pada tahun ini.

Pemerintah tetap mencermati tantangan produksi akibat kondisi iklim ekstrem. Kementerian Pertanian memperkuat berbagai langkah mitigasi untuk menjaga produksi pangan nasional.

“Makanya kami turun, pasang pompa-pompa, kita tidak boleh menyerah,” ujar Amran. Pemerintah memastikan petani mendapat dukungan menghadapi keterbatasan air akibat El Niño.

Kementan memperkuat pompanisasi dan irigasi untuk menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian. Pemerintah juga meningkatkan produktivitas dan mendorong penggunaan benih yang lebih tahan terhadap kekeringan.

Amran mengatakan langkah mitigasi telah disiapkan pemerintah jauh sebelum dampak El Niño terjadi. Strategi tersebut mencakup pompanisasi, penguatan irigasi, peningkatan produktivitas, dan penggunaan benih adaptif.

“Nah sekarang El Niño dampaknya insyaallah kita mitigasi, kenapa? Kita sudah persiapan jauh sebelumnya,” ucapnya. Pemerintah juga mendorong peningkatan produktivitas melalui penerapan teknologi budidaya.

Amran mencontohkan model PM-AAS yang mampu meningkatkan produktivitas padi secara signifikan. Produktivitas yang sebelumnya sekitar lima hingga enam ton ditargetkan meningkat menjadi 10 hingga 11 ton per hektare.

BPS menegaskan produksi Oktober 2026 yang disampaikan masih berupa angka potensi atau proyeksi. Realisasi produksi masih dapat berubah mengikuti kondisi pertanaman dan perkembangan panen hingga Oktober.

Amran menegaskan pemerintah akan terus hadir mendampingi petani menghadapi tantangan iklim. Berbagai intervensi sejak dini diharapkan menjaga produksi sekaligus memastikan kebutuhan pangan masyarakat tetap aman.(Muh/*)