Banghas

Mansa Musa dan Emas Seulawah

5680
×

Mansa Musa dan Emas Seulawah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mansa Musa, Raja Mali Afrika yang kaya raya.

Mansa Musa tiba di sebuah kampung dekat Seulawah, orang ramai berbondong-bondong mendatanginya. Sesepuh adat segera saja menggelar tikar dan melempar padi-padian dan air yang diberkahi dengan doa-doa. Sebilah rencong bersarung emas diselipkan di pinggang pria berkulit hitam ini. Namun Mansa bukannya senang, dilepasnya sarung yang terbuat dari emas murni itu.

“Ambilah kembali, tidak pantas kalian memberikan kepada pemimpin apalagi tamu seperti aku dengan emas permata, sementara rakyatmu hidup serba melarat,” kata Mansa.

Pemimpin lah yang harusnya memberimu permata, emas dan kemakmuran. Mansa kemudian mengeluarkan bongkahan warna kuning dan dibaginya merata ke penduduk Seulawah.

“Ambilah hadiah dariku untuk kalian yang tidak punya pekerjaan, orang tua yang tak berdaya, janda-janda yang menghidupi anak yatim, fakir miskin yang tak tahu makan apa hari ini,” ujar Mansa dengan penuh haru.

Orang ramai berteriak riang, serentak mereka memuja-muji orang asing yang baru dijumpainya namun mereka tidak mengenalnya sama sekali.

“Engkaulah yang kami rindukan jadi pemimpin, telah melepaskan kami dari jeratan riba para rentenir, memudahkan kebutuhan hari-hari, memberi kemakmuran setahun lebih hingga kami tak perlu takut maka apa besok pagi,” puji warga.

Segera saja Mansa memberi tanda untuk berhenti memujinya.

“Jangan kalian memuji orang yang memberimu hadiah, pujilah Rabbi sang pemberi. Tahu kah kalian emas yang kuberikan berasal dari bumi mu sendiri, aku tidak membawa emas dari negeri lain namun baru saja menambang bukit permata di puncak Seulawah,”

Rakyat ramai makin heran, lelaki berpakaian bangsawan menyebut asal muasal emas yang dibagikan ternyata berasal dari tanah mereka sendiri, Seulawah.

“Bukankah raja negeri kita berkata, Seulawah hanya hutan biasa. Tak ada yang berharga di gunung besar ini kecuali kayu bakar dan kera-kera saja,” kata mereka serempak.

“Pemimpin yang sibuk melihat sanak saudaranya, rumah gedung dan tanah yang yang terus dikuasainya, tak akan memberi kabar ada emas di Seulawah,” kata Mansa.

“Mereka akan mendapatkan apa yang mereka cari, harta pribadi dan kebahagian anak isteri. Sedang kalian terus saja terbuai pada janji dan tidur dalam mimpi-mimpi kosong,” lanjut Mansa.

Tersentak lah warga ramai dan mereka baru menyadari bahwa bertahun-tahun telah terbuai janji dan mimpi.

Tiada disadari kemudian, orang asing itu telah pergi. Mereka mencari kemana orang asing tadi dan siapa gerangan sang dermawan ini.

Ini hanyalah kisah imajiner, sebuah gambaran kehidupan merindukan pemimpin kaya raya namun dermawan, sesuatu yang langka di abad modern.

Mansa Musa adalah raja Afrika yang menjadi contoh teladan dunia bagaimana pemimpin membagikan “kemakmuran” kepada warganya. Tak ada emas yang ditimbun atau perhiasan yang disimpan sebagai tanda mata. Semuanya dibagi untuk rakyat di mana saja, karena mereka lebih membutuhkan untuk hidup. Sampai-sampai disebut Mansa Raja Afrika ini pernah kehabisan emas simpanan karena terus saja membagikan harta nya.

Ya, Mansa Musa dari Afrika telah mengubah pandangan, siapa orang paling kaya derwaman di dunia yang tercatat dalam sejarah.

Sebelumnya dalam daftar miliuner Forbes yang dirilis 2019 menyebut Jeff Bezos, pendiri Amazon sebagai orang terkaya di dunia. Memiliki kekayaan senilai kurang lebih USD131 miliar Rp1,87 kuadriliun, ia disebut adalah orang terkaya dalam sejarah dunia modern.

Berapa jumlah kekayaannya?Sejarawan ekonomi satu suara bahwa kekayaannya tak mungkin diejawantahkan ke dalam angka.

Dermawan kaya bernama Mansa Musa ini, penguasa Afrika Barat di abad ke-14 ini saking kaya raya, sampai-sampai sedekah yang ia berikan menghancurkan perekonomian negeri Mesir ketika suatu waktu singgah dalam perjalanan haji nya.

Rudolph Butch Ware, guru besar sejarah di Universitas California, kepada BBC mengatakan bahwa jumlah kekayaan Musa jika dihitung di masa kini sungguh luar biasa sampai-sampai hampir mustahil untuk benar-benar memahami betapa kaya dan berkuasanya ia saat itu.

Mansa Musa “lebih kaya daripada apa yang orang bayangkan”, ujar Jacob Davidson yang menulis tentang raja Afrika tersebut untuk situs Money.com tahun 2015 lalu.

Pada tahun 2012, situs web AS Celebrity Net Worth memperkirakan jumlah kekayaan Musa berada di angka US$400 miliar atau sekitar Rp5,72 kuadriliun.

Sebelumnya, negerinya Mali tidak dikenal dunia. Walaupun Kerajaan Mali menjadi sumber emas, kerajaan tersebut tidak banyak dikenal. Hal ini berubah ketika Mansa Musa, seorang Raja Muslim yang taat, memutuskan untuk berhaji ke Mekah, melalui Gurun Sahara.

Sang raja dikabarkan berangkat dari Mali bersama dengan rombongan berisi 60.000 orang.

Ia membawa serta seluruh pejabat dan hakim-hakim kerajaan, pasukan tentara, penghibur, pedagang, penunggang unta dan 12.000 budaknya, juga serombongan kambing dan sapi untuk persediaan makanan.

Rombongannya tampak seperti sebuah kota yang bergerak melalui gurun, tulis BBC dalam Siapa Mansa Musa, orang ‘terkaya’ sepanjang masa.

Memang rombongannya tidak pernah sampai di Seulawah, karena ekspedisi saudara laki-lakinya Mansa Abu-Bakr juga gagal mengelilingi dunia dan hilang selamanya dalam obsesi menaklukan Samudera Atlantik dan segala sesuatu yang ada di baliknya.

Andai pun pernah tiba, jangan-jangan Mansa juga terjebak di negeri ini, terbuai dalam mimpi dan janji-janji. Dan baru sadar ketika harta benda telah habis dibagi namun rencana tak pernah terwujud. “Peng kabeh, lon ka sadar,”. Entahlah. (Hasnanda Putra)