Banghas

Laut Cerita dan Ekspedisi Prancis

2783
Ilustrasi kapal Prancis zaman dulu

Angin kuat menghempas kapal Express Bahari, yang kami tumpangi melayari perjalanan Sabang ke Banda Aceh. Gelombang laut sesekali menunjukan dirinya, membuat kapal cepat ini bergoyang hebat. Saya memilih duduk di lantai dua anjungan luar kapal. Sesekali terhuyung dan berupaya terus merapikan rambut yang disapu angin timur.

Pemandangan indah terlihat terang, dari jalur kanan terlihat pulau-pulau berderet. Bak lukisan alam di bawah langit Pulo Aceh. Pantas saja penjelajah dunia berlama-lama di perairan ini, tidak hanya sekedar mengambil air tawar namun juga rehat sejenak sebelum kembali berlayar.

Sambil melepaskan pandangan ke laut yang bergejolak, pikiran saya mulai terbayang pada zaman ketika perairan antara daratan Sumatera dan Pulau Weh ini ramai dengan kapal-kapal dagang.

Suatu waktu pada 26 juli 1602, sebuah ekspedisi Prancis singgah di Aceh melewati Sabang dan tiba untuk selanjutnya diterima syahbandar pelabuhan.

Kapal itu dipimpin Jenderal Frottet de la Bardeliere bersama kapal Corbin mencapai Sumatera lewat Ceylon dan Nikobar, sebagaimana ditulis Denys Lombard dalam buku Kerajaan Aceh Darussalam.

Kapal lain yang ukuran besar dan dipimpin para jenderal angkatan lautnya, adalah Saint Louis yang tiba sekitar tahun 1613. Dalam buku Denys Lombard, disebutkan kapal Prancis kedua yang sampai di Aceh itu kepunyaan Montmorency, sebuah perusahaan dagang yang mencakup pedagang Perancis dan dari daerah Vlaanderen dan yang telah diatur kembali oleh Laksamana de Montmorency. Namun menurut Beaulieu, seorang Laksamana Perancis yang datang kemudian, menyebutkan ekspedisi itu mencapai Aceh untuk membeli batu-batu mulia dan dibunuh atas perintah Sultan.

Ekspedisi ketiga Prancis yang dianggap paling berhasil ke Aceh adalah yang dipimpin Agustin de Beaulieu. Ia berangkat dari Honfleur dengan tiga kapal (Montmorency, Espérance dan Hermitage); laksamananya terpaksa menghadapi bangsa Belanda yang bermusuhan. Salah satu kapalnya dibakar orang Belanda di pelabuhan Batavia dan satu lagi ditangkap bersama muatannya. Beaulieu pulang dengan satu kapal saja yang bermuatan lada dari Sumatra, dan mencapai Le Havre, kota di utara Prancis pada tanggal 1 Desember 1622.

Kapal komando di bawah kendali Beaulieu adalah Montmorency. Berbobot 450 ton, diperkirakan membawa ratusan prajurit dan puluhan meriam. Kapal besar ini dikawal dua kapal lainnya, telah mengarungi samudera menjelajahi separuh dunia dari negeri Prancis di Eropa.

Dari catatan Beaulieu inilah kita kemudian bisa mendapatkan sejumlah gambaran bagaimana majunya pelabuhan Aceh dengan segala kelebihan. Sebuah kota yang digambarkan kosmopolit dan lautan dunia yang paling sibuk pada masa-nya.

Aceh dengan dua lautan dunia paling strategis, Selat Malaka dan Samudera Hindia menjadikan posisinya sangat penting. Pernah menjadi pusat perdagangan dengan jalur laut yang ramai di lintasan Nusantara. Aceh adalah negeri yang dikenal sebagai pintu dunia pintu Nusantara.

Angin masih saja bertiup, kapal cepat ini telah melalui gelombang laut yang bergemuruh dengan kenangan zaman yang luar biasa, kami bergegas masuk ke ruang penumpang untuk bersiap turun. Terdengar klakson kapal berbunyi, petanda telah tiba di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh. (Hasnanda Putra)

Exit mobile version