posaceh.com, Banda Aceh – Korban banjir di Dataran Tinggi Gayo (DTG) dari Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues hingga Aceh Tenggara dihadapkan dengan krisis logistik setelah sepekan bencana banjir dan longsor menerjang daerah itu.
Terputusnya jalur darat ke wilayah itu membuat daerah ini terisolir total dan hanya bisa ditembus melalui udara.
Apalagi di Bener Meriah jumlah pengungsi yang mencapai 10 ribu jiwa terancam kelaparan. Hal itu juga terjadi di wilayah parah dan terisolir seperti sebagian di Aceh Utara, Aceh Tamiang, Gayo Lues hingga Aceh Singkil.
Bupati Bener Meriah Tagore Abubakar mengatakan stok logistik di daerah itu hanya bisa bertahan 2 hari ke depan. Jika bantuan tidak datang dikhawatirkan akan bertambah korban jiwa.
“Jika bantuan dalam 2 hari lagi belum juga mendapatkan logistik makanan, maka stok makanan saat ini tidak dapat mencukupi seluruh kebutuhan warga,” kata Tagore dalam keterangannya, Minggu (30/11/2025).
Apalagi di Bener Meriah jumlah pengungsi yang mencapai 10 ribu jiwa terancam kelaparan. Hal itu juga terjadi di wilayah parah dan terisolir seperti sebagian di Aceh Utara, Aceh Tamiang, Gayo Lues hingga Aceh Singkil.
Sementara itu Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga menyampaikan bahwa daerahnya menghadapi krisis logistik dan kemanusiaan yang mendesak.
Sebab, bantuan yang diminta untuk diselesaikan ke Pemerintah Aceh dan Pusat tidak segera datang. Sementara korban mulai jatuhan.
“Daerah terisolir kini kekurangan logistik. Ditambah lagi, seluruh stok BBM di kabupaten kami telah habis. Ini sangat menghambat upaya mobilisasi tim penolong,” kata Haili Yoga kepada wartawan, Minggu (30/11/2025).
Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah juga mengungkapkan kekecewaannya terkait upaya pengiriman bantuan dari luar daerah.
Bantuan logistik yang sangat dibutuhkan, yang sudah tiba di Banda Aceh dilaporkan belum berhasil menjangkau Aceh Tengah.
“Kami terus memohon agar bantuan logistik segera tiba. Kami mendapat informasi bahwa upaya penerbangan helikopter untuk menyampaikan bantuan hari ini gagal mendarat di wilayah Aceh Tengah,” katanya.
Melansir CNN, seorang warga Kecamatan Tanah Pasir, Aceh Utara, Amran mengatakan kondisi warga di pengungsian cukup memprihatinkan karena logistik belum juga datang.
Ia khawatir jumlah korban akan terus jatuh bukan karena banjir tapi kelaparan.
“Jangan sampai warga yang masih hidup ini meninggal bukan karena terseret banjir, tapi kelaparan,” kata Anwar.
Data terbaru yang dihimpun BNPB per Sabtu (29/11/2025) pukul 17.40 WIB, mencatat banjir dan longsor di wilayah Aceh telah menyebabkan 47 korban meninggal dunia, 51 orang hilang, dan 8 luka-luka.
Korban terbanyak berasal dari Bener Meriah, Aceh Tenggara, dan Aceh Tengah. Korban meninggal juga terdapat di Pidie Jaya, Bireun, Gayo Lues, Subulussalam dan Lhokseumawe.
Sementara jumlah pengungsi yang terdampak di wilayah Aceh mencapai puluhan ribu jiwa.
BNPB sementara itu masih terus berupaya menjangkau lokasi terdampak banjir dan tanah longsor di wilayah Provinsi Aceh.(Muh/*)











