Opini

Koperasi Nelayan Merah Putih dan Pengetahuan yang Terlupakan

38
×

Koperasi Nelayan Merah Putih dan Pengetahuan yang Terlupakan

Sebarkan artikel ini
Derita Julianto (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh Derita Yulianto*

Tahun ini pemerintah mengalokasikan Rp 2,2 triliun untuk membangun 100 Kampung Nelayan Merah Putih. Setiap kampung memperoleh dukungan sekitar Rp 22 miliar untuk fasilitas seperti tambatan kapal, cold storage, pabrik es, SPBN, bengkel, dan sentra kuliner. Program ini layak diapresiasi karena menyentuh kebutuhan nyata masyarakat pesisir: infrastruktur, kelembagaan, rantai pasok, dan lapangan kerja.

Namun ada satu pertanyaan penting yang belum cukup dibicarakan: dari investasi sebesar itu, berapa yang sungguh-sungguh diarahkan untuk membangun pengetahuan nelayan tentang lautnya sendiri?

Pertanyaan ini penting karena persoalan nelayan tidak selalu berhenti pada kapal, alat tangkap, bahan bakar, atau modal. Semua itu penting, tetapi ada satu faktor produksi yang sering terlupakan: kemampuan membaca perubahan laut.

Suatu pagi di pesisir Aceh, seorang nelayan senior menatap laut lalu memutuskan tidak jadi melaut. “Laut hari ini lain,” katanya. Bukan karena cuaca buruk atau kapal rusak. Ia hanya membaca tanda-tanda yang telah dikenalnya selama puluhan tahun.

Hari itu ia merasa laut tidak akan memberinya ikan. Ia benar. Nelayan muda yang tetap berangkat pulang dengan tangan kosong. Cerita ini bukan tentang keberuntungan, melainkan tentang pengetahuan.

Kita hidup dalam paradoks kelautan. Data oseanografi Indonesia tumbuh pesat. Citra satelit suhu permukaan laut, prakiraan gelombang, informasi arus, angin, dan cuaca semakin mudah diakses. Namun di saat yang sama, banyak nelayan masih mengandalkan ingatan, intuisi, dan kabar dari sesama untuk menentukan ke mana mereka akan berlayar.

Indonesia semakin kaya data laut, tetapi sebagian nelayan masih miskin akses terhadap informasi yang dapat digunakan. Kesenjangan ini bukan semata-mata soal teknologi. Ini soal jembatan pengetahuan yang belum cukup kuat dibangun.

Di sinilah Koperasi Nelayan Merah Putih memiliki peluang lebih besar dari sekadar menjadi lembaga ekonomi. Ia dapat berkembang menjadi rumah pengetahuan laut.
Nelayan bekerja di ruang yang tidak pernah diam. Berbeda dengan petani yang dapat melihat sawahnya setiap hari, nelayan menghadapi laut yang berubah dari waktu ke waktu. Angin bergeser. Arus berubah. Daerah ikan berpindah. Musim tidak selalu datang seperti yang dulu mereka kenal.

Dalam berbagai diskusi lapangan di pesisir Aceh, dari Lampulo hingga Lambada Lhok, persoalan ini sering muncul. Tidak sedikit nelayan memiliki kapal dan alat tangkap memadai, tetapi tetap menghadapi ketidakpastian tinggi ketika menentukan lokasi penangkapan. Mereka tidak hanya membutuhkan bantuan ekonomi. Mereka membutuhkan informasi yang mudah dipahami, dekat dengan pengalaman, dan berguna untuk mengambil keputusan.

Karena itu, cold storage dan kapal baru saja tidak cukup. Infrastruktur fisik menjawab apa yang terjadi setelah ikan ditangkap. Tetapi pertanyaan yang lebih menentukan adalah: ke mana harus berlayar, kapan waktunya tepat, dan di mana ikan berkumpul hari ini?

Nelayan senior memiliki cara membaca laut yang dibangun lintas generasi. Mereka memperhatikan warna air, perilaku burung laut, arah angin sore, pola gelombang, hingga kehangatan arus yang menyentuh tangan. Ini bukan takhayul, melainkan sistem pengamatan yang lahir dari ribuan hari di laut.

Sementara itu, Ilmu Oseanografi membaca laut dengan sensor satelit, data arus, peta klorofil, suhu permukaan laut, dan model prakiraan cuaca. Keduanya membaca kenyataan yang sama dari sudut berbeda. Tantangan kita bukan memilih salah satu, melainkan mempertemukannya.

Pengalaman nelayan dapat membantu memvalidasi apa yang dibaca mesin. Sebaliknya, teknologi dapat membantu nelayan melihat pola yang melampaui jangkauan pengamatan manusia. Ketika keduanya bertemu, keputusan melaut dapat menjadi lebih baik dan risiko menghadapi ketidakpastian dapat berkurang.

Karena itu, pengetahuan perlu diperlakukan sebagai infrastruktur. Jika Kampung Nelayan Merah Putih ingin menjadi fondasi baru ekonomi pesisir, maka pengetahuan laut harus ditempatkan sama pentingnya dengan dermaga, gudang, akses permodalan, dan sarana produksi lainnya.

Bayangkan jika setiap koperasi nelayan memiliki tiga fungsi sekaligus: sebagai lembaga ekonomi yang mengelola rantai pasok dan permodalan; sebagai repository pengetahuan yang mendokumentasikan pengalaman nelayan senior sebelum hilang bersama waktu; dan sebagai jembatan informasi yang menyampaikan prakiraan kondisi laut dalam bahasa yang mudah dipahami, dengan dukungan perguruan tinggi, penyuluh, dan lembaga teknis.

Keberhasilan Koperasi Nelayan Merah Putih tidak semestinya hanya diukur dari jumlah kampung yang terbangun atau besarnya serapan anggaran. Angka-angka itu penting, tetapi belum cukup. Yang juga perlu diukur adalah sejauh mana koperasi menjadi ruang belajar bersama: berapa banyak pengalaman nelayan senior terdokumentasi, seberapa sering anggota memperoleh informasi laut yang membantu keputusan, dan seberapa kuat hubungan koperasi dengan sekolah, kampus, penyuluh, serta lembaga teknis.

Koperasi yang kaya modal tetapi miskin pengetahuan akan tetap menghadapi ketidakpastian yang sama. Sebaliknya, koperasi yang anggotanya mampu membaca laut, memahami musim, dan mengambil keputusan berbasis informasi akan lebih siap menghadapi perubahan iklim dan dinamika pesisir.

Laut terus berubah. Namun keinginan nelayan untuk memahaminya tidak pernah berubah. Karena itu, masa depan nelayan Indonesia tidak hanya bergantung pada kapal yang lebih besar atau modal yang lebih banyak, tetapi juga pada kemampuan kita membangun pengetahuan bersama tentang laut.

Sebab laut tidak pernah berjanji kepada siapa pun. Namun kita selalu datang untuk memahaminya.

* Dr. Ir. Derita Yulianto, M.Si., Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala, Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Pesisir Terpadu dan Doktor Matematika & Aplikasi Sains; Anggota Dewan Pakar Himpunan Ahli Pengelola Pesisir Indonesia (HAPPI) Nasional.