posaceh.com, Bireuen – Laga perempat final Piala Soeratin U-17 Aceh 2026 antara Adam Depok FC dan Young Warrior FC, diwarnai kontroversi. Presiden Adam Depok FC, Dedi Darwis, melontarkan protes keras terhadap kepemimpinan wasit Agus Munandar yang dinilainya merugikan timnya hingga gagal melaju ke babak semifinal.
Pertandingan berlangsung sengit dan berakhir imbang tanpa gol selama waktu normal. Pemenang kemudian ditentukan melalui adu penalti, yang mengakhiri perjuangan Adam Depok FC di ajang bergengsi kelompok usia tersebut, demgan skor akhir 7-6 (0-0) untuk kekalahan Adam Depok FC.
Namun, hasil pertandingan bukan menjadi sorotan utama. Dedi Darwis menilai terdapat keputusan krusial wasit pada menit ke-40 yang seharusnya menjadi titik balik bagi timnya. Saat itu, pemain Adam Depok FC bernomor punggung 12, Arsi, disebut telah berhasil melewati pemain lawan dalam situasi satu lawan satu di dalam kotak penalti sebelum dijatuhkan melalui tekel keras hingga lututnya mengalami luka.
Meski demikian, wasit Agus Munandar tidak meniup peluit maupun menunjuk titik putih. Keputusan itu langsung memicu kekecewaan kubu Adam Depok FC.

FOTO/ DOK ADAM DEPOK FC
“Kejadian di menit ke-40 sangat jelas. Pemain nomor punggung 12, Arsi, sudah melewati pemain lawan di dalam kotak penalti, kemudian ditekel hingga lututnya berdarah. Tetapi wasit membiarkan permainan berlanjut dan tidak memberikan penalti,” kata Dedi Darwis, di Lapangan Cot Gapu, Kabupaten Bireuen, Selasa (21/7/2026),
Ia menyebut keputusan tersebut menjadi momen yang sangat menentukan jalannya pertandingan dan mengaku sulit menerima hasil laga setelah insiden tersebut.
“Kami sangat kecewa dengan kejadian tadi. Jelas wasit memihak sebelah,” ujarnya.
Dedi bahkan melontarkan dugaan bahwa timnya tidak mendapat kesempatan yang sama untuk melangkah ke babak berikutnya karena berasal dari wilayah Aceh Barat Selatan.
“Seolah-olah kami dicekal untuk tidak boleh lolos ke semifinal karena kami tim dari Barat Selatan,” tegasnya.
Tak hanya menyampaikan protes, Dedi juga mendesak Asprov PSSI Aceh melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas kepemimpinan wasit dalam kompetisi usia muda.
“Kalau ingin sepak bola Aceh maju, Asprov harus mengevaluasi wasit. Wasit seperti itu sebaiknya tidak dipakai lagi meskipun sudah berlisensi nasional, karena keputusan seperti ini sangat merugikan tim,” pungkasnya.
Pihak media ini telah mencoba melakukan untuk menghubungi Asprov PSSI Aceh (Sekum PSSI Aceh) melalui telfon dan chat Whatsapp untuk mengkonfirmasi terkait perihal tersebut sejak dua jam terakhir. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Asprov PSSI Aceh terkait tudingan yang disampaikan Presiden Adam Depok FC. Redaksi masih menunggu konfirmasi dari kedua pihak untuk mendapatkan informasi yang berimbang.(Why)











