posaceh.com, Banda Aceh – Banjir bandang Siklon Senyar yang melanda Aceh pada 26 November 2025 telah menimbulkan dampak dahsyat pada pemukiman warga dan fasilitas umum di 18 kabupaten/kota di Aceh. Korban bencana berharap dilakukan percepatan proses rehab-rekon (RR) Aceh.
Hingga menjelang tiga bulan bencana berlalu, kondisi di lapangan belum tertangani dengan maksimal. Lumpur tebal masih menimbun rumah, lahan pertanian hingga fasilitas umum.
Kondisi tersebut mendorong Presiden Prabowo Subianto membentuk Satuan Tugas Khusus (Satgassus) Garuda untuk percepatan penangananan dampak banjir di Aceh, Sumatera.
Michael Angelo Langie, Ketua Satgassus Garuda untuk percepatan penangananan dampak banjir di Aceh, sudah beberapa kali datang ke Aceh untuk memantau langsung capaian rehab-rekon Aceh pascabanjir.
Michael sudah mengelilingi daerah-daerah terdampak banjir untuk dasar mengambil tindakan percepatan penanganannya. “Seluruh daerah terdampak banjir di Aceh sudah saya datangi. Kemarin saya pergi lagi ke Pidie Jaya bersama Ketua Kosgoro Aceh, Jamaluddin Jamil,” ungkapnya.
Dalam rangka menemukan tindakan tepat percepatan penanganan dampak banjir, Michael juga melakukan pertemuan dengan beberapa stakeholders di Aceh, mulai Gen Z hingga tokoh-tokoh yang pernah terlibat dalam proses rehab-rekon Aceh pascatsunami 2004.
Pada Senin (16/02/2026) siang, Michael Angelo Langie, mengadakan pertemuan dengan mantan pekerja pada Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) Aceh-Nias di Banda Aceh. Pertemuan berlangsung santai sambil menikmati kopi nira khas Aceh di sebuah café di kawasan Pango, Banda Aceh.
Pertemuan dengan alumni BRR ini difasilitasi oleh Jamaluddin Jamil ST MM, aktivis yang telah berulang kali mengantar bantuan kepada korban bencana banjir di seluruh Aceh.
BRR Aceh-Nias sebagai Model
Mantan pekerja BRR Aceh-Nias berbagi pengalaman mengenai kerja pembangunan kembali Aceh setelah diterjang gempa dan tsunami 2004 di bawah komando Dr Ir Koentoro Mangkusubroto.
Pemerintah Indonesia dinilai berhasil dalam memperkenalkan model rehab-rekon atas bencana skala besar melalui pendirian lembaga BRR Aceh-Nias.
“Presiden SBY kala itu memutuskan membentuk BRR Aceh – Nias dan menunjuk Koentoro sebagai kepalanya. Pada April 2005, saya mendapat telepon secara dadakan untuk hadir ke istana negara guna dilantik sebagai Deputi Agama, Sosial dan Budaya pada BRR bersama Koentoro,” kata Prof Fuad Mardhatillah memulai cerita.
“BRR itu lembaga yang sangat dinamis. Ia memiliki kewenangan sebagai penanggungjawab sekaligus pelaksana rehab-rekon Aceh salama empat tahun. Semua kegiatan rehab-rekon, termasuk yang dilakukan lembaga asing, harus berada di bawah koordinasi BRR,” sambung Fuad.
“BRR bertanggungjawab langsung kepada Presiden RI. Visi build back better (membangun lebih baik dari sebelumnya, red) tercapai dengan sempurna dalam tempo empat tahun,” sebut Fuad.
Sementara Juanda Djamal, Juru Bicara BRR Aceh-Nias, bercerita tentang gerak cepat BRR dalam menangani berbagai persoalan yang dihadapi oleh korban tsunami.
“Semua persoalan yang dihadapi korban tsunami ditampung untuk kemudian dipresentasikan dalam rapat pimpinan terjadwal setiap pekan. Para pimpinan mengambil kebijakan yang cepat untuk menanganinya,” ungkap Juanda Djamal yang dikenal sebagai aktivis resolusi konflik di Asia Tenggara.
Alumni BRR berharap Pemerintah Pusat dapat meniru pola-pola rehab-rekon yang pernah dilakukan oleh BRR Aceh-Nias pascatsunami 2004 untuk diadopsi dalam penanganan dampak banjir Aceh 2025, dengan berbagai modifikasi tentunya.
Dari alumni BRR tampak hadir Dr TM Zulfikar (manager sosial), Irfan Sofni (Direktur Keuangan), Dr Insa Ansari (Kepala Layanan Hukum), Teungku Akmal Abzal (manager partisipasi publik), Nurdin Hasan (manager komunikasi), dan Hasan Basri M Nur PhD (Direktur Agama).
Michael Angelo Langie menyampaikan terima kasih kepada alumni BRR yang berkenan berbagi pengalaman rehab-rekon Aceh pascatsunami.
Michael berjanji akan melakukan kajian dan akan melaporkan bentuk penanganan yang tepat dan terukur kepada Presiden RI.
Selain pertemuan dengan alumni pekerja BRR, Michael Angelo Langie juga mengadakan pertemuan dengan jurnalis di bawah PWI, Kadin Aceh, Inkindo Aceh, DPD I KNPI Aceh, akademisi, tokoh-tokoh Gen Z, dan beberapa pemuka Aceh lainnya.
Michael Angelo Langie memiliki komitmen kuat dalam percepatan pembangunan kembali Aceh dari banjir Siklon Senyar 2025.
“Presiden Prabowo menginginkan proses pembangunan Aceh yang cepat sehingga rakyat dapat bangkit kembali. Untuk itu, ego sektoral harus dihentikan,” katanya.(Mar)











