Banghas

Kisah Beureunuen dan Abu Beureu’eh

7170
×

Kisah Beureunuen dan Abu Beureu’eh

Sebarkan artikel ini
FOTO/Asrus Shabri Kota Beureunuen dari Udara

Sebuah kota kecil di Kabupaten Pidie ini telah lama dikenal sebagai wajah dagang orang-orang Pidie. Sebagaimana diketahui jiwa dagang telah lama melekat di daerah ini hingga sebagian besar pedagang yang ada di Aceh berasal dari Pidie. Malahan beberapa pasar di Jakarta dominan berasal dari daerah ini.

Beureunuen Kota dagang ini nyaris tak pernah sepi, selalu saja hidup dalam banyak peristiwa waktu. Kehadiran masjid indah peninggalan Abu Beureueh ini melengkapi kelebihan sebuah pusat pasar terbesar di Pidie.

Masjid Baitul A’la Lil Mujahidin dibangun pada tahun 1951 atas prakarsa Teungku Muhammad Daud Beureueh dengan swadaya masyarakat Beureunuen. Bangunan bersejarah ini yang akrab disebut Masjid Abu Beureueh
telah tercatat sebagai situs cagar budaya dalam sistem registrasi nasional Kemendikbud, sebagai bangunan yang harus dilindungi.

Foto Kiriman Asrus Shabri

Masjid Abu Beureueh terlihat anggun seperti khas masjid lain di Aceh. Ciri khas kubah dengan arsitektur menawan menempatkan masjid ini sebagai bangunan masjid terindah di Aceh.

Di sini juga tempat dimakamkan Abu Beureueh yang dikenal pernah menjadi Gubernur Milter Aceh Langkat dan Tanah Karo. Abu Beureueh meninggal pada 10 Juni 1987.

Beureunuen, nama yang tenar biarpun dalam administrasi tak pernah tertulis. Ibarat kota “imajiner” ada tapi tak ada, Beureunuen lebih dikenal dari nama kecamatannya sendiri– Mutiara. Malahan gelar Kota Kerupuk Mulieng sebenarnya bukan lah untuk Kota Sigli, tetapi untuk kota kecil di utara ini.

Di Beureunuen setiap sabtu menjadi hari peukan, tempat berkumpulnya warga-warga dari kecamatan sekitar. Menarik, orang-orang di Tangse, Mane dan Geumpang menyebut tempat ini sebagai “Nanggroe”. Sebuah “pengakuan” hegemoni yang punya pengaruh besar dalam sosial politik dan ekonomi di Pidie.

Foto Kiriman Asrus Shabri

Bagaimana masa depan pusat dagang ini, sebagian orang-orang berseloroh Beureunuen layak menjadi sebuah “Kotamadya”, hingga sehari-hari di sini ada panggilan melekat pada seorang pengusaha tenar Haji Jamal Abadi, sang “Walikota Beureunuen”.

Beureunuen telah banyak melewati peristiwa zaman, ada banyak kesan dan kenangan yang tak terlupakan. James T Siegel, dalam The Rope of God sebagaimana dikutip sinarpidie, menuliskan akhir sebuah khutbah Teungku Muhammad Daud Beureueh suatu ketika di Masjid Abu, “Ingat, Anda orang Aceh, negeri bangsawan yang mewarisi semangat Teungku Tjihk di Tiro. Jangan khianati bangsamu tapi berbaktilah.”

Begitulah Beureunuen telah lama menjadi “Kota Istimewa”, tempat paling bersejarah di Pidie dan juga Aceh. Unik sekaligus membanggakan. (Hasnanda Putra)