Marzuki Ali Basyah, Jenderal bintang satu putra Aceh ini telah menjadi figur sentral dalam perang melawan narkoba di Aceh. Sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh, ia menunjukkan komitmen dan dedikasi luar biasa untuk membebaskan provinsi yang kaya akan nilai-nilai religius dan budaya ini dari ancaman narkoba. Melalui kepemimpinan yang tegas, inovatif, dan kolaboratif, Jenderal Marzuki membangun strategi menyeluruh untuk mengatasi salah satu masalah sosial terbesar di Aceh.
Komitmen dalam Perang Melawan Narkoba
Sejak dilantik sebagai Kepala BNNP Aceh, Jenderal Marzuki menegaskan bahwa narkoba adalah musuh bersama yang harus diberantas. Baginya, penyalahgunaan dan peredaran narkoba tidak hanya menghancurkan individu, tetapi juga mengancam masa depan generasi muda dan stabilitas sosial di Aceh. Dengan visi yang jelas, ia mencanangkan berbagai langkah untuk menekan angka penyalahgunaan narkoba dan memutus rantai peredaran di provinsi ini.
Cintai Makanan Khas Aceh
Jenderal Marzuki juga aktif mengkampanyekan sekaligus aksi nyata mencintai makanan khas Aceh, termasuk upayanya menciptakan citra makanan Aceh enak bukan karena ganja.
Di berbagai momen dan kesempatan, Jenderal bintang satu putra Aceh ini kerap mendorong pelaku usaha kuliner Aceh untuk terus menjaga kualitas masakan, kebersihan tempat usaha dan tentu saja bersih dari bumbu narkoba.
Penegakan Hukum yang Tegas dan Terukur
Di bawah kepemimpinannya, BNNP Aceh aktif dalam melakukan operasi besar untuk mengejar pengedar dan bandar narkoba, khususnya di wilayah pesisir yang sering menjadi jalur masuk narkoba dari luar negeri. Operasi ini melibatkan koordinasi dengan berbagai instansi, seperti Kepolisian, TNI, Bea Cukai dan Pemerintah Daerah.
Jenderal Marzuki juga melakukan monev secara rutin terhadap jalur tikus di wilayah pesisir yang rawan, dan melakukan berbagai pendekatan pemberdayaan masyarakat.
Pendekatan Preventif melalui Edukasi dan Sosialisasi
Selain penindakan, Jenderal Marzuki fokus pada upaya preventif melalui edukasi dan sosialisasi bahaya narkoba. Ia menggandeng ulama, tokoh adat, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat untuk menyebarkan pesan anti-narkoba. Program ini tidak hanya menyasar generasi muda, tetapi juga orang tua dan masyarakat luas agar tercipta kesadaran kolektif tentang pentingnya melawan narkoba.
Salah satu inovasi yang diterapkan adalah program “Gampong Bersih Narkoba,” di mana desa-desa tertentu dijadikan contoh dalam pemberantasan narkoba, mulai dari edukasi, pengawasan, hingga rehabilitasi. Program ini terbukti efektif meningkatkan partisipasi masyarakat dalam membentengi desa dari bahaya narkoba.
Program Rehabilitasi yang Berkelanjutan
Jenderal Marzuki juga menunjukkan kepedulian terhadap korban penyalahgunaan narkoba dengan memprioritaskan rehabilitasi. Ia percaya bahwa para pecandu narkoba harus diberikan kesempatan kedua untuk pulih dan kembali produktif. BNNP Aceh, di bawah arahannya, memperluas akses ke pusat-pusat rehabilitasi dengan fasilitas yang lebih baik dan pendekatan yang holistik.
Pendekatan ini melibatkan bimbingan psikologis, pelatihan keterampilan, dan pembinaan agama, sehingga para korban tidak hanya pulih secara fisik, tetapi juga siap menghadapi kehidupan dengan bekal moral dan keterampilan.
Kolaborasi dengan Ulama dan Tokoh Adat
Aceh, dengan statusnya sebagai daerah istimewa berbasis syariat Islam, memiliki modal sosial yang kuat untuk melawan narkoba. Jenderal Marzuki memanfaatkan ini dengan menggandeng ulama dan tokoh adat untuk memberikan pendekatan moral dan religius dalam kampanye anti-narkoba.
Jenderal Marzuki terus menanamkan pesan bahwa narkoba adalah ancaman besar terhadap akhlak dan masa depan Aceh. Sinergi ini menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam membangun benteng sosial melawan narkoba.
Dampak dan Warisan Kepemimpinan
Di bawah kepemimpinan Jenderal Marzuki, BNN Aceh terus bersinergi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak, dan tentu saja terus mendorong peran aktif masyarakat sebagai kunci utama pemberantasan narkoba.
Memutus jaringan narkoba merupakan upaya pemberantasan yang dipimpinnya. Dalam bidang Rehabilitasi, menjadikan mereka yang terpapar narkoba bisa sehat kembali dan pencegahan dengan edukasi dan daya tangkal diri dan lingkungan dari bahaya narkoba.
Ia telah menginspirasi banyak pihak untuk terus berkontribusi dalam menciptakan Aceh yang bersih dari narkoba, baik melalui penegakan hukum, edukasi, maupun rehabilitasi.
Kiprah Jenderal Marzuki Ali Basyah sebagai Kepala BNNP Aceh adalah contoh nyata dari kepemimpinan yang visioner dan penuh dedikasi. Dengan pendekatan yang tegas namun humanis, ia tidak hanya memerangi peredaran narkoba, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat untuk bersama-sama melawan ancaman ini. Jejaknya suatu hari akan selalu dikenang sebagai bagian penting dari perjuangan Aceh menuju masa depan yang cerah dan bersih narkoba. (Hasnanda Putra)











