posaceh.com, Banda Aceh-Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat (PB IKAKESMA) Universitas Muhammadiyah Aceh, Yulizar Kasma, menyebutkan Aceh darurat penyakit tidak menular (PTM). Pasalnya, angka PTM seperti diabetes, hipertensi, kanker dan lainnya di Aceh yang terus meningkat tersebut kini mulai mengancam kelompok usia produktif.
“PTM ini jadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Jika dulu, penyakit jenis ini biasanya dialami oleh kelompok usia lanjut, maka kini mulai mengancam kelompok usia produktif atau usia-usia muda, bahkan di usia 10-14 tahun bisa terpapar,” hal itu disampaikan oleh Yulizar selaku Ketum PB IKAKESMA kepada media posaceh.com, Banda Aceh, Senin (20/05/2024).
Merespon hal tersebut, PB IKAKESMA langsung menggelar dialog publik terkait penanganan penyakit tidak menular (PTM). Diskusi tersebut kemarin diadakan di Universitas Muhammadiyah Aceh.
“Karena ini penting sangat dilakukan melihat saat ini, Aceh dalam kondisi darurat sehingga perlu adanya gerakan massal secara berkelanjutan terkait pencegahan meningkatnya PTM di Aceh,” katanya.
Dalam diskusi tersebut, katanya, Dinas Kesehatan di Banda Aceh, Aceh Besar, dan Pidie Jaya menyampaikan beberapa keterbatasan terkait pencegahan PTM, mulai dari lemahnya koordinasi lintas sektor maupun kurangnya dukungan dari aparat desa.
“Untuk itu perlu ada gerakan advokasi dari pemerintah menggarap gerakan lintas dinas yang dapat mendukung kampanye pencegahan PTM ini. Di sisi lain pelibatan tokoh agama, adat perempuan, pemuda, perguruan tinggi dan berbagai komponen lain sangat dibutuhkan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Yulizar menyebutkan banyak masyarakat yang tidak sadar dengan ancaman penyakit tidak menular ini. Terlebih Aceh digadang-gadang sebagai wilayah dengan seribu satu warung kopi, masyarakat mulai kecanduan kopi, begadang, merokok dan kurang aktivitas fisik yang memperburuk angka PTM.
“Kita lihat saat ini banyak orang meninggal karena hipertensi, diabetes, kanker, dan lainnya. Banyak di antara kita yang belum sadar pentingnya menjaga makanan, berolahraga, tidak merokok, mengurangi begadang, dan menggunakan garam dengan tepat,” sebut Yulizar.
Ia mengungkapkan, apabila merujuk dari data, menunjukkan bahwa perkembangan PTM di Indonesia kian mengkhawatirkan, pasalnya peningkatan tren PTM diikuti oleh pergeseran pola penyakit. Jika dulu, penyakit jenis ini biasanya dialami oleh kelompok lanjut usia.
“Tapi, sekarang mulai mengancam kelompok usia produktif atau usia muda, bahkan di usia 10 – 14 tahun bisa terpapar,” ungkapnya.
Ia menambahkan, maka untuk itu PB IKAKESMA mendorong Pemerintah harus mampu melakukan pendekatan lintas sektor.
“Supaya masyarakat cepat sadar terhadap risiko PTM ini, karena sangat beresiko,” pungkas Yulizar. (Zul Fazli).











