Banghas

Ketika Perempuan Lhoong Meludahi Para Perwira Belanda

36
×

Ketika Perempuan Lhoong Meludahi Para Perwira Belanda

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Perempuan Lhoong dengan berani meludahi para perwira Belanda (Ai)

Perlawanan perempuan Lhoong, Aceh Besar, memiliki keunikan tersendiri. Jauh sebelum peristiwa yang menggemparkan pada 1933, keberanian yang sama telah diperlihatkan pada 1897. Saat itu, pasukan kolonial Belanda menjadikan perampasan harta benda sebagai bentuk hukuman terhadap penduduk. Sapi-sapi milik rakyat diangkut, rumah tangga kehilangan sumber penghidupan, dan ketakutan menyelimuti kampung-kampung di sepanjang Lhoong.

Dalam bukunya Atjeh, H.C. Zentgraaff mencatat sebuah pemandangan yang menurutnya sulit dilupakan. Kaum lelaki terkadang mengeluhkan ketika satu-satunya sapi yang mereka miliki dirampas atau ditembak mati. Namun perempuan-perempuan Lhoong memilih jalan yang berbeda. Sebagai penjaga harta keluarga, mereka memendam kehilangan itu dalam diam. Duka tidak mereka tangisi dengan ratapan, melainkan mereka ubah menjadi dendam yang membara terhadap penjajah.

Dendam itu kemudian menemukan bentuk yang sederhana, tetapi sarat makna. Mereka berjalan melewati serdadu-serdadu Belanda yang berjaga dengan senapan terisi, lalu meludahkan penghinaan di depan kaki mereka. Bagi perempuan-perempuan Lhoong, ludah bukan sekadar luapan emosi. Ia adalah pernyataan penghinaan sebagai bentuk perlawanan.

Keberanian itu bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Sejak meletusnya Perang Aceh pada 1873, perempuan Aceh telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjuangan. Mereka mengurus logistik, menyembunyikan pejuang, menjadi penghubung antarkelompok gerilya, merawat korban perang, bahkan tidak sedikit yang mengangkat senjata ketika suami atau keluarganya gugur.

Zentgraaff menunjukkan bahwa semangat itu tetap hidup sekalipun perang besar telah mereda. Di Lhoong, luka akibat pembakaran kampung, penyitaan harta, dan operasi militer diwariskan sebagai ingatan kolektif. Karena itu, tindakan meludah di hadapan serdadu Belanda bukanlah ledakan emosi sesaat, melainkan simbol penolakan terhadap kekuasaan kolonial yang selama puluhan tahun menindas kehidupan mereka.

Kenangan itu kembali muncul puluhan tahun kemudian. Pada 1933, ketika perlawanan baru berkobar di Lhoong dan dipelopori oleh sebelas janda serta dua puluh anak yatim, perempuan-perempuan itu kembali melakukan tindakan yang sama. Di hadapan Gubernur dan Komandan Militer Belanda, mereka meludahkan penghinaan sebagai bentuk penolakan terhadap kekuasaan kolonial. Bagi pemerintah Hindia Belanda, tindakan itu mungkin tampak kecil. Namun bagi rakyat Aceh, itulah pernyataan bahwa penjajahan tidak pernah berhasil menundukkan kehormatan mereka. Bara perlawanan itu pun belum padam, sebab pada 1935 pergolakan kembali berkobar.

Zentgraaff juga melukiskan betapa mencekamnya suasana di Lhoong pada masa itu. Setiap patroli Belanda bergerak dengan kewaspadaan tinggi. Serdadu-serdadu berpakaian hijau abu-abu tidak pernah melepaskan tangan dari karaben dan kelewang. Sedikit saja ada isyarat dari komandan, rentetan tembakan segera memecah kesunyian, sementara pedang-pedang terhunus siap menebas siapa pun yang dicurigai.

Di tengah intimidasi yang demikian kuat, perempuan-perempuan Lhoong tampil tanpa senjata. Mereka tidak membawa rencong ataupun senapan. Namun, keberanian mereka justru lahir dari keyakinan bahwa harga diri tidak dapat dirampas oleh kekuatan militer sebesar apa pun. Dengan satu ludah yang jatuh di depan kaki penjajah, mereka mengirimkan pesan yang jauh lebih tajam daripada peluru: Aceh boleh diduduki, tetapi kehormatan rakyatnya tidak pernah berhasil ditaklukkan.

Lebih dari seabad telah berlalu. Namun, kisah perempuan-perempuan Lhoong tetap hidup sebagai pengingat bahwa sejarah Aceh tidak hanya ditulis oleh mereka yang mengangkat senjata di medan perang. Sejarah juga diukir oleh perempuan-perempuan biasa yang memilih mempertahankan kehormatan bangsanya dengan keberanian yang tampak sederhana, tetapi sarat makna: meludah ke wajah para perwira Belanda sebagai bentuk penolakan terhadap penjajahan dan penghinaan terhadap martabat mereka.
(Hasnanda Putra)