Oleh Sheren Asyla Naqiyya Nasution*
LIHAT saja sekitar kita hari ini. Di kafe, ruangkelas, bahkan di rumah, pemandangan yang sama muncul di mana-mana: orang-orang menatap layar ponsel, menggulir video TikTok atau Reels tanpa henti. Sekali buka, waktu terasa menguap begitu saja. Semua cepat, lucu, penuh warna, dan gampang dicerna. Dunia digital memanjakan kita dengan hiburan tanpa batas, tapi di sisi lain, satu kebiasaan lama mulai menghilang perlahan yaitu membaca buku.
Buku kini seperti kalah dalam perlombaan perhatian. Di masa lalu, membaca dianggap tanda orang pintar dan haus pengetahuan. Sekarang, membaca sering dipandang sebagai kegiatan yang membosankan. Generasi muda lebih memilih menonton ringkasan, mendengarkan podcast, atau membaca postingan singkat yang bisa selesai dalam satu menit. Dunia sudah berubah, dan kita pun ikut di dalamnya. Tapi perubahan ini meninggalkan pertanyaan penting, apakah membaca masih relevan di zaman yang segalanya serba cepat dan instan?
Sebetulnya, bukan berarti anak muda kehilangan rasa ingin tahu. Mereka tetap ingin belajar banyak hal, hanya saja caranya berbeda. Mereka lebih nyaman dengan format visual, dinamis, dan interaktif. Mereka bisa memahami ide kompleks lewat video berdurasi 60 detik, atau belajar hal baru lewat konten singkat di media sosial. Jadi masalahnya bukan pada niat belajar, tapi pada bentuk dan gaya penyampaiannya. Dunia telah beradaptasi, tinggal kita yang perlu menyesuaikan cara memperkenalkan literasi.
Di sinilah peran sekolah, perpustakaan, dan lembaga pendidikan menjadi penting. Selama ini, membaca sering dianggap sebagai tugas. Padahal, membaca bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan kalau dikemas dengan cara yang menarik. Bayangkan kalau perpustakaan bukan hanya tempat sunyi dengan rak buku, tapi juga ruang kreatif tempat orang bisa berdiskusi, membuat ulasan, atau bahkan membuat video tentang buku yang mereka baca. Konsepnya sederhana, kita ubah membaca dari kewajiban menjadi pengalaman sosial.
Tetapi ada juga konten di TikTok yang menampilkan anak-anak muda merekomendasikan buku lewat aplikasi tersebut. Mereka membahas cerita, tokoh, bahkan mengekspresikan emosi setelah membaca. Aneh tapi nyata, banyak buku yang sempat tenggelam jadi laris lagi hanya karena viral di platform itu. Artinya, buku tidak benar-benar kalah; ia hanya belum menemukan cara baru untuk bicara dengan generasi sekarang.
Media sosial sebenarnya tidak sepenuhnya musuh buku. Ia bisa jadi jembatan menuju minat baca, asalkan digunakan dengan bijak. Tantangan kita bukan menolak dunia digital, tapi memanfaatkannya untuk mendekatkan kembali generasi muda pada literasi. Buku dan teknologi tidak harus saling meniadakan; keduanya bisa saling menguatkan. Misalnya, perpustakaan bisa membuat kampanye digital dengan konten ringan tapi bermakna, seperti kutipan inspiratif, tantangan membaca, atau ulasan buku singkat dalam format video.
Selain lembaga pendidikan, keluarga juga punya peran besar. Budaya membaca seharusnya tumbuh dari rumah, bukan hanya dari ruang kelas. Orang tua bisa menumbuhkan minat baca anak tanpa paksaan yakni cukup dengan memberi contoh sederhana. Misalnya, membaca beberapa halaman buku setiap malam, berbagi cerita menarik, atau sekadar menyediakan buku di ruangtamu.
Hal-hal kecil seperti itu perlahan membangun kebiasaan besar.
Namun, membaca bukan hanya tentang menambah pengetahuan, tapi juga tentang melatih fokus dan empati. Buku mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, berpikir lebih dalam, dan memahami sudut pandang yang berbeda. Di dunia yang serba cepat seperti sekarang, kemampuan itu semakin langka. Banyak orang tahu banyak hal, tapi sedikit yang benar-benar memahami. Membaca melatih kita untuk tidak sekadar tahu, tapi juga mengerti.
Masalahnya, membaca butuh waktu. Butuh kesabaran, keheningan, dan perhatian penuh—tiga hal yang makin sulit kita miliki. Di era notifikasi dan distraksi tanpa henti, duduk membaca 10 halaman saja bisa terasa seperti perjuangan. Tapi justru di situlah nilai membaca. Ia menuntut kita untuk melambat di tengah dunia yang berlari. Untuk sejenak menutup layar, membuka halaman, dan memberi ruang bagi pikiran untuk bernapas.
Kita tidak perlu menolak perkembangan teknologi. Sebaliknya, kita bisa memanfaatkannya untuk menghidupkan kembali semangat literasi. Buku bisa hadir dalam bentuk e-book, audiobook, atau aplikasi interaktif. Banyak cara untuk membaca tanpa harus selalu memegang buku fisik. Dunia digital seharusnya tidak mematikan budaya membaca, tapi memperluas cara kita melakukannya. Yang penting adalah menjaga niat dan rasa ingin tahu tetap hidup.
Generasi muda hari ini sebenarnya memiliki kekuatan luar biasa. Mereka cepat beradap tasi, kreatif, dan terbuka terhadap hal baru. Jika semangat itu diarahkan dengan benar, mereka bisa menjadi generasi pembaca digital yang tidak kalah dengan pembaca buku konvensional. Misalnya, lewat komunitas baca daring, klub literasi virtual, atau forum diskusi buku yang dikemas santai. Platform seperti ini bisa menjembatani dua dunia — dunia buku dan dunia digital — tanpa harus mengorbankan salah satunya.
Selain itu, penting juga untuk mengajarkan literasi digital sejak dini. Membaca di era sekarang tidak hanya soal membuka buku, tapi juga memahami informasi yang tersebar di internet. Generasi muda perlu belajar membedakan mana informasi yang valid, mana yang sekadar opini atau bahkan hoaks. Membaca buku bisa menjadi latihan untuk berpikir kritis, sementara dunia digital menjadi tempat mengasah kemampuan memilah dan menganalisis. Dua hal ini bisa saling melengkapi jika kita mampu menyeimbangkannya.
Pertanyaan besar, “bisakah generasi muda kembali membaca?” seharusnya tidak ditujukan hanya kepada mereka, tetapi juga kepada kita semua—orang tua, guru, pustakawan, dan pembuat kebijakan. Karena minat baca bukan muncul begitu saja, tapi tumbuh dari lingkungan yang mendukungnya. Kalau kita ingin generasi muda mencintai buku, maka kita juga harus memberi ruang bagi buku untuk hidup di tengah kehidupan modern mereka.
Pemerintah dan lembaga pendidikan juga bisa berperan lebih aktif. Program literasi nasional seharusnya tidak berhenti di slogan atau lomba baca buku semata. Akan lebih efektif jika disertai kegiatan yang berkelanjutan, seperti festival buku, pelatihan literasi digital, atau kolaborasi antara penulis dan kreator konten muda. Dengan begitu, membaca bisa kembali dianggap keren, bukan kuno.
Pada akhirnya, membaca bukan soal kecepatan atau popularitas, tapi soal makna. TikTok bisa membuat kita tertawa, tapi buku membuat kita berpikir. Dunia digital bisa memberi hiburan cepat, tapi buku memberi kedalaman yang tidak tergantikan. Keduanya bisa hidup berdampingan, asalkan kita tidak lupa menyeimbangkan. Membaca adalah bentuk perlawanan kecil di dunia yang serba tergesa-gesa — cara sederhana untuk tetap waras di tengah kebisingan informasi.
Mungkin benar, hari ini buku tampak kalah dari TikTok. Tapi bukan berarti pertempuran sudah selesai. Buku hanya menunggu waktu untuk kembali bersinar, saat kita siap memperkenalkannya dengan cara yang baru. Karena selama masih ada satu orang yang membuka halaman, masih ada harapan bagi dunia untuk tetap berpikir. Dan mungkin, harapanituada di tangan generasi muda yang suatu hari nanti sadar bahwa kecepatan boleh penting, tapi kedalaman jauh lebih bermakna.
* Sheren Asyla Naqiyya Nasution, Mahasiswa Program Studi: Ilmu Perpustakaan, Fakultas: Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.











