Opini

Menyelami Krisis Literasi di Era Serba Instan

679
×

Menyelami Krisis Literasi di Era Serba Instan

Sebarkan artikel ini
Nabila Sipinte (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh Nabila Sipinte*

BUKU-BUKU masih berdiri rapi di rak perpustakaan, beberapa sudah menguning, sebagian lagi berdebu. Mereka menunggu disentuh, dibuka, dan dibaca.Tapi hari ini, tangan-tangan yang dulu akrab menyapanya, semakin jarang datang. Buku memang belum mati, tapi pembacanya perlahan mulai hilang.

Kita hidup di zaman yang serba cepat. Segalanya ingin instan dari makanan, berita, sampai pengetahuan. Kita terbiasa dengan video berdurasi lima belas detik, dengan ringkasan kilat di layar ponsel, dengan jawaban singkat yang muncul di mesin pencarian. Orang tidak lagi sabar membaca panjang-panjang, padahal di situlah letak pemahaman yang sebenarnya.

Kini, yang penting bukan lagi “mengerti”, tapi “tahu sekilas”. Fenomena ini terasa di mana-mana. Perpustakaan sepi, toko buku perlahan tutup, dan buku hanya dipajang sebagai hiasan.

Di tengah derasnya arus informasi digital, membaca buku menjadi hal yang kalah pamor. Padahal, membaca bukan sekadar mengisi waktu — membaca adalah cara berpikir, cara memahami hidup, bahkan cara menjaga kewarasan.

Sayangnya, banyak dari kita terjebak dalam ilusi pengetahuan instan.Kita merasa tahu banyak karena seringmelihatkonten, padahal yang kitadapathanyapotongan-potongankecil.

Akibatnya, kemampuan berpikir kritis menurun. Banyak orang mudah percaya pada berita palsu, sulit membedakan opini dan fakta. Di sinilah akar krisis literasi — bukan karena kita tak bisa membaca, tapi karena kita tak lagi ingin membaca dengan sungguh-sungguh.

Ironinya, informasi kini berlimpah, tapi makna semakin langka. Kita disuguhi kata-kata setiap hari di layar ponsel, tapi hanya sedikit yang benar-benar kita cerna.

Membaca buku mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, menenangkan pikiran, lalu menyelami isi cerita dengan perlahan. Sementara budaya “scroll cepat” membuat otak kita terbiasa melompat, bukan mendalami.

Bahkan di lingkungan pendidikan, budaya membaca mulai memudar. Mahasiswa sering kali mencari ringkasan di internet ketimbang membaca buku utuh. Tugas-tugas disusun dari salinan daring tanpa pemahaman mendalam. Padahal, pendidikan tanpa kebiasaan membaca hanyalah rutinitas formal — menghasilkan gelar, tapi tidak membentuk pemikiran. Namun, meski banyak yang meninggalkannya, buku tetap punya daya hidup yang kuat.

Ada sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh layar: keheningan dan kedekatan personal. Ketika membuka halaman buku, kita bukan hanya membaca, tapi berinteraksi dengan pikiran penulisnya. Bau kertas, suara halaman yang dibalik, catatan kecil di pinggir — semua itu adalah pengalaman yang tidak bisa diunduh.

Membaca buku juga mengajarkan kesabaran. Tidakada yang instan dalam memahami isi buku. Butuh waktu, butuh konsentrasi, dan kadang butuh keheningan.Tapi justru di sanalah letak kenikmatannya. Dalam setiap buku, ada perjalanan yang membawa kita memahami dunia, dan diam-diam juga memahami diri sendiri.

Mengapa kita semakin menjauh dari buku? Salah satunya karena gaya hidup modern. Waktu kita banyak tersita oleh layar: bekerja dengan laptop, bersantai dengan ponsel, berkomunikasi lewat pesan singkat. Buku, yang menuntut perhatian penuh, sering kali kalah dengan notifikasi yang terus berdenting.

Selain itu, sistem pendidikan kita masih belum banyak mengajarkan pentingnya membaca dengan cinta. Membaca sering dipaksa, dijadikan tugas, bukan kebiasaan yang tumbuh karena rasa ingin tahu.

Akibatnya, banyak orang menganggap membaca sebagai beban, bukan kebutuhan. Namun, krisis literasi ini tidak harus kita terima begitu saja.

Kebiasaan membaca bisa tumbuh lagi, asal dimulai dari hal kecil. Misalnya, dari rumah. Anak-anak akan mencintai buku jika melihat orang tuanya juga suka membaca. Sekolah pun perlu mengubah pendekatan, bukan sekadar memberi tugas membaca, tapi juga ruang untuk berdiskusi dan menceritakan kembali isi buku dengan cara menyenangkan.

Pemerintah, komunitas, dan masyarakat juga punya peran besar. Akses terhadap buku harus lebih mudah, perpustakaan harus hidup dan menarik, dan kegiatan literasi jangan hanya dijadikan formalitas. Di era digital, teknologi seharusnya bisa menjadi jembatan, bukan penghalang lewat buku digital, klub baca daring, atau kampanye literasi yang kreatif. Yang paling penting adalah mengubah cara pandang.

Membaca bukan kegiatan kuno. Justru di zaman yang serba cepat ini, membaca adalah bentuk perlawanan paling tenang terhadap kebisingan dunia. Membaca bukan soal ingin terlihat pintar, tapi tentang ingin menjadi manusia yang lebih dalam yang mau memahami, bukan sekadar tahu.

Pada akhirnya, buku tidak pernah benar-benar hilang. Yang hilang hanyalah kebiasaan membuka dan menyelaminya. Dunia mungkin berubah, teknologi mungkin terus berkembang, tapi makna kata di halaman buku selalu punya tempat di hati manusia.

Maka, di tengah derasnya notifikasi dan video pendek, mungkin kita perlu berhenti sejenak. Ambil satu buku, buka halamannya, dan biarkan diri kita tenggelam di dalamnya. Karena di balik setiap kalimat yang kita baca, ada kehidupan yang menunggu untuk dipahami — dan di sanalah, sesungguhnya, literasi menemukan napasnya kembali.

* Nabila Sipinte, Mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.