Banghas

“Kereta Senja Padang Tiji – Seulimum”

990
×

“Kereta Senja Padang Tiji – Seulimum”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi kereta api senja jalur Padang Tiji - Seulimum (Meta AI)

Sore itu, langit Padang Tiji berwarna jingga keemasan. Di stasiun kecil yang tenang, seorang pemuda bernama Rizal menunggu kereta terakhir menuju Seulimum. Ia membawa sebuah koper kecil dan selembar surat yang sudah mulai lusuh—surat dari ayahnya yang sudah lama tinggal di Seulimum setelah pensiun sebagai masinis.

Rizal belum pernah naik kereta di jalur itu sejak jalur tersebut dibuka kembali. Ada rasa rindu dan penasaran yang bercampur dalam dadanya. Tak lama, suara peluit panjang memecah keheningan. Kereta tua bercat hijau tua melambat, lalu berhenti di hadapannya. Pintu terbuka dengan desis pelan. Ia melangkah masuk.

Di dalam gerbong, suasana temaram dan sepi. Hanya ada beberapa penumpang lain: seorang ibu tua yang duduk diam di dekat jendela, seorang pria muda dengan ransel besar, dan seorang anak kecil yang memandangi Rizal sambil tersenyum.

Perjalanan dimulai. Kereta meluncur melewati sawah-sawah yang membentang luas, bukit-bukit hijau, dan kampung-kampung kecil yang sunyi. Udara mulai dingin. Rizal membuka surat ayahnya lagi—di dalamnya ada permintaan sederhana: “Datanglah, Nak. Ada sesuatu yang ingin Ayah ceritakan.”

Saat kereta memasuki kawasan hutan kecil sebelum Seulimum, lampu gerbong tiba-tiba meredup. Rizal merasa ada sesuatu yang berbeda. Gerbong terasa lebih sunyi. Penumpang lain seperti menghilang. Hanya suara roda kereta di atas rel yang terdengar.

Tiba-tiba, seorang pria tua berseragam masinis muncul di ujung gerbong. Wajahnya samar dalam cahaya redup, tapi ada sesuatu yang membuat Rizal merasa familiar. Pria itu menatapnya dan berkata pelan, “Kau sudah sampai di waktumu sendiri, Rizal.”

Kereta berhenti. Pintu terbuka. Seulimum.

Rizal turun dengan perasaan campur aduk. Di peron, ia melihat sosok ayahnya—tersenyum lebar, seolah sudah tahu semua yang akan terjadi.

Dan saat ia menoleh ke belakang, kereta itu sudah tidak ada.

Rizal berdiri mematung. Udara Seulimum terasa lebih dingin dari yang ia bayangkan, meski matahari belum sepenuhnya tenggelam. Di peron tua yang dipenuhi lumut dan cat terkelupas itu, ayahnya mendekat perlahan.

“Sudah lama kamu tak kembali,” kata ayahnya sambil menepuk bahu Rizal. Suaranya berat, namun hangat.

“Ayah… itu tadi siapa di kereta?” tanya Rizal pelan.

Ayahnya tak langsung menjawab. Ia hanya memberi isyarat untuk ikut berjalan meninggalkan stasiun. Di sepanjang jalan kecil menuju rumah kayu tua tempat ayahnya tinggal, mereka diam. Sampai akhirnya mereka duduk di beranda rumah, ditemani segelas kopi hitam dan suara jangkrik dari kejauhan.

“Ayah dulu masinis terakhir sebelum jalur Padang Tiji–Seulimum ditutup tahun 1976,” ujar sang ayah, membuka percakapan. “Kecelakaan kereta waktu itu… bukan kecelakaan biasa. Ada hal yang lebih besar, lebih tua, yang menjaga jalur itu.”

Rizal menatap ayahnya. “Hal… apa?”

“Ada legenda lama, cerita orang-orang kampung tentang ‘Kereta Bayangan’. Hanya muncul bagi orang yang punya urusan yang belum selesai. Biasanya, penumpangnya bukan orang biasa.”

Rizal mengingat kembali suasana gerbong tadi. Penumpang yang sepi, suara roda yang seperti berbisik, dan… masinis tua itu. “Jadi… siapa dia?”

Ayahnya menghela napas panjang. “Itu pamanku. Masinis handal di jalur itu. Hilang bersama kereta di tahun 1942, waktu Jepang. Sejak saat itu, kadang kereta itu muncul—membawa penumpang dengan beban yang belum tuntas.”

Rizal menggenggam surat di sakunya. “Lalu… kenapa aku bisa naik?”

Ayah menatapnya dalam-dalam. “Karena kamu juga punya urusan. Bukan cuma denganku… tapi dengan siapa kamu, dari mana kamu datang. Kamu pikir kamu datang untuk mendengar cerita, tapi sebenarnya—kamu bagian dari cerita itu sendiri.”

Langit malam Seulimum kini gelap sepenuhnya. Dari kejauhan, terdengar lagi suara peluit kereta, padahal rel di belakang rumah itu sudah lama ditutup dan tertutup tanah.

Dan malam itu, Rizal menyadari—perjalanan kereta itu belum selesai.

Kisah kereta api Aceh adalah romantisme sejarah, terkubur dalam ruang waktu dan lintas zaman.

Jalur tol telah menghubungkan kembali kedua kecamatan “kembar masa lalu” ini sebelum dipisahkan oleh Saree.

Rizal dan mungkin anak muda lainnya, hanya mendengar cerita tentang bagaimana orang-orang Aceh zaman itu menjalani hari-hari di stasiun menunggu kereta.

Tidak semua kisah terungkap dan akan terus jadi misteri, ketika kereta membelah jalur paling “menyeramkan” antara Padang Tiji dan Seulimum sebelum tiba di Kutaraja. (Hasnanda Putra)