Daerah

Kementerian LH Dan Kehutanan Ajak Warga Agara Jadikan TNGL Satelit Konservasi Dunia

2055
×

Kementerian LH Dan Kehutanan Ajak Warga Agara Jadikan TNGL Satelit Konservasi Dunia

Sebarkan artikel ini
Plt. Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Bambang Hendroyono, menanam pohon kunjungan kerja di kawasan hutan TNGL Ketambe, Aceh Tenggara, Senin lalu. FOTO/ PROKOPIM PEMKAB AGARA

 

posaceh.com, Kutacane – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, melalui Plt. Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Bambang Hendroyono, mengajak warga dan Pemkab Agara, menjadikan TNGL jadi satelit konservasi dunia.

Ajakan tersebut disampaikan, Bambang Hendroyono yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jendral Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, saat menjadi pemateri Bimtek Usaha Ekonomi Produktif yang dirangkai dengan kunjungan kerja di kawasan hutan TNGL Ketambe, Aceh Tenggara, Senin lalu.

Plt. Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Bambang Hendroyono, menjadi pemateri Bimtek Usaha Ekonomi Produktif di Kutacane, beberapa waktu lalu.
FOTO/ PROKOPIM PEMKAB AGARA

Dengan kekuatan Forkopimda, masyarakat dan Pemkab Aceh Tenggara, misi menjadikan TNGL sebagai Satelit Konservasi dunia, sangat lah memungkinkan, bahkan bisa menguatkan pihak BKSDAE, apalagi jika ditambah dengan partispasi dan kehadiran masyarakat untuk menjaga dan mengelola kawasan hutan.

Kemitraan dengan kelompok Tani hutan telah terjalin, tinggal bagaimana lagi konsep pemberdayaan masyarakat terutama di kawasan konservasi, apalagi saat ini kita sedang mendorong pemberdayaan masyarakat sesuai UU nomor 5 Tahun 1990, ditambah PP dan Peraturan Menteri.

Revisi Tata Ruang yang dilakukan 5 tahun sekali juga, ujar Bambang, harus diikuti agar menjamin akses legal Pemkab dan masyarakat dalam kawasan, termasuk penataan kembali terhadap gajah dan manusia agar tidak selalu menimbulkan konflik.

Keberadaan 4 spesies satwa langka seperti Harimau, Gajah, Badak dan Orang Utan dalam kawasan hutan TNGL, merupakan ikon di dunia Internasional, karena 4 spesies satwa langka dalam satu lokasi yang bersamaan, tidak ditemukan di hutan lain dan keberadaannya hanya ada di hutan TNGL Aceh Tenggara saja.
Kepada Jefri Susayapprianto dari BTNGL, Sekjen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutahan, Bambang Hendroyono mengingatkan agar mengemas perencanaan pariwisata dikemas dengan baik, karena saat ini telah dibuka untuk pemanfaatan jasa lingkungan dan telah memberikan kesempatan akses legal bagi swasta untuk ikut terlibat.

Pengelolaan kawasan hutan tersebut juga, harus ada zonasi pemanfaatan bagi kita bersama dan zonasi yang sudah ada juga harus dikuatkan seperti zona inti, zona rimba,zona rehabilitasi,tradisional dan zona khusus dimnafaatkan dengan sebaiknya dan jangan hanya di atas kertas saja.(Ilyas/Rel)