Daerah

Kemenag Aceh Selatan Dorong Guru PAI Adaptif Hadapi Gelombang Artificial Intelligence

19
Guru PAI Aceh Selatan Didorong Manfaatkan AI dalam Pembelajaran. FOTO/KEMENAG ACEH

posaceh.com, Tapaktuan – Perkembangan Artificial Intelligence (AI) mulai membawa perubahan dalam dunia pendidikan, termasuk dalam cara guru merancang pembelajaran dan peserta didik memperoleh informasi.

Kondisi ini menjadi salah satu perhatian dalam Kegiatan Pembinaan Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) Tahun 2026 yang diselenggarakan Bidang PAI Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Selatan, Kamis (3/9/2026).

Mengangkat tema “Implementasi Artificial Intelligence sebagai Tools dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam”, kegiatan tersebut diikuti 50 guru PAI jenjang SD, SMP, dan SMA se-Kabupaten Aceh Selatan.

Kegiatan menghadirkan Ketua Tim PAI Jenjang SMP Kanwil Kemenag Aceh, Wahyudi SHI, sebagai pemateri yang memberikan penguatan mengenai pemanfaatan AI sebagai sarana pendukung dalam pembelajaran PAI.

Dalam laporannya, Plt. Kasi PAI Kankemenag Aceh Selatan, Rekiadi SPdI, menyampaikan bahwa perkembangan AI merupakan perubahan yang tidak mungkin dihindari.

Karena itu, guru perlu memiliki kemampuan untuk memanfaatkannya secara bijak sekaligus mengedukasi peserta didik dalam penggunaannya.

Ia menggambarkan perkembangan AI seperti tsunami atau gelombang besar.

Gelombang tersebut tidak mungkin dihentikan, tetapi dapat dimanfaatkan untuk membawa seseorang bergerak lebih cepat.

“Perkembangan AI saat ini memang tidak bisa dibendung. Jangan sampai kita dikalahkan oleh media tersebut. Ini bagaikan tsunami, gelombang besar. Manfaatkan gelombang besar itu untuk melaju dengan cepat,” ungkapnya.

Bagi guru PAI, pemanfaatan AI tidak hanya berkaitan dengan kemudahan dalam memperoleh dan mengolah informasi.

Guru tetap memiliki tanggung jawab dalam membentuk karakter, akhlak, moral, dan cara pandang peserta didik dalam menghadapi perubahan zaman.

Hal tersebut turut ditekankan Kepala Kankemenag Aceh Selatan, Khairul Huda SHI MSi, saat membuka kegiatan.

Ia menegaskan bahwa guru PAI memiliki peran strategis dalam menjaga moral dan karakter generasi muda di Aceh Selatan.

“Inilah guru-guru yang menjaga moral di Aceh Selatan, para guru agama ini. Termasuk dalam menghadapi berbagai tantangan sosial, salah satunya isu LGBT.

Tentu ini membutuhkan pendampingan yang bijak, dialog yang edukatif, serta penguatan nilai-nilai agama dan karakter,” tegasnya.

Khairul Huda juga mengajak para peserta mengikuti pembinaan dengan hati dan pikiran terbuka.

Menurutnya, guru perlu terus belajar mengikuti perkembangan zaman, termasuk memanfaatkan AI sebagai alat bantu dalam pembelajaran tanpa mengesampingkan nilai-nilai agama dan karakter peserta didik.

“Mari sama-sama ikuti dengan hati dan pikiran terbuka. Kita sebagai guru harus terus belajar, karena perkembangan zaman terus berubah. AI kita manfaatkan sebagai alat untuk membantu pembelajaran, tetapi nilai agama, akhlak, dan karakter anak-anak tetap harus menjadi yang utama,” pesannya.(Muh/*)

Exit mobile version