posaceh.com, Jakarta – Kekeringan saat musim kemarau panjang mengancam lahan pertanian hingga berpotensi membuat petani gagal panen.
BMKG merekomendasikan agar jadwal atau pola tanam padi disesuaikan sebagai langkah adaptasi di tengah kondisi yang dipicu fenomena El Nino tersebut.
“Kita perlu menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang memiliki siklus tanam yang lebih pendek serta mengendalikan organisme pengganggu tanaman,” kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan saat konferensi pers di Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Ardhasena menuturkan, langkah adaptasi ini sudah mulai dilakukan di sejumlah daerah. Kementerian Pertanian sebagai leading sector dinilai sudah berupaya mengantisipasi kekeringan panjang akibat mundurnya musim hujan.
“Mitra kami di Kementerian Pertanian dan sektor pertanian pada umumnya juga sudah familiar. Input berapa lama mundurnya itu kemudian digunakan oleh mereka untuk menentukan jadwal tanamnya,” tuturnya.
“Lalu kemudian jenis varietas apa yang ditanam yang istilahnya varietas genjah. Jadi bisa dipanen dalam waktu musim yang lebih pendek, itu mereka yang lebih memiliki exspertise-nya,” tambah Ardhasena.
BMKG pun mengimbau pemangku kebijakan untuk menjadikan informasi peringatan iklim dalam mengambil kebijakan dan merencanakan kegiatan. Dia lantas menyebut salah satu daerah yang dinilai berhasil beradaptasi di tengah kondisi kekeringan.
“Untuk kasus di Sulawesi Selatan, di Pangkep. Jadi ini sebagai salah satu contohnya kegunaan dari informasi iklim ini ketika stakeholder setempat mengetahui tentang lebih majunya awal musim kemarau di sana,” imbuh Ardhasena.
Peringatan dini BMKG dijadikan landasan dalam menyesuaikan pola tanam dan menentukan varietas yang ditanam. Langkah itu berhasil menyelamatkan ribuan hektare lahan pertanian dari ancaman gagal panen.
“Mereka berhasil mencegah gagal panen untuk luas daerah yang cukup signifikan yaitu sekitar 7.067 hektare. Ini hanya salah satu contoh dari ketika informasi iklim digunakan untuk langkah adaptasi, maka potensi dari ancaman atau bahaya itu dapat disesuaikan,” paparnya.
Ardhasena mengatakan, ancaman kekeringan ini sudah diinformasikan beberapa bulan sebelumnya. Pihaknya berharap agar masyarakat dan pemangku kebijakan selanjutnya mengantisipasi musim hujan ke depan.
“Prediksi musim hujan di Indonesia menunjukkan bahwa awal musim hujan sebagian besar terjadi pada bulan November dan Desember dan secara umum diprediksi mundur atau lebih lambat daripada normalnya,” ucap Ardhasena.
Musim Hujan Mundur Imbas El Nino
Sementara itu, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, awal musim hujan mengalami kemunduran imbas fenomena El Nino yang menyebabkan kekeringan berkepanjangan. Kondisi ini juga diperparah Indian Ocean Dipole (IOD) yang terjadi bersamaan.
“Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” ujar Faisal.
BMKG memprediksi di 529 Zona Musim (ZOM) atau 61,08% luas daratan di Indonesia awal musim hujan periode 2026-2027 akan datang lebih lambat atau mundur. Teuku menyebut, El Niño dengan intensitas sangat kuat dan IOD di samudera sekitar Indonesia berdampak berkurangnya curah hujan.
“Awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi datang lebih lambat atau mundur, yaitu di 529 zona musim (ZOM) atau 61,08% luas daratan Indonesia,” ungkap Faisal.(Muh/*)











