posaceh.com, Banda Aceh — Cape Verde mengajarkan bahwa sepak bola adalah tentang keberanian dan tekad. Negara kecil seperti Cape Verde bisa membuat frustrasi Spanyol, sang juara Eropa. Penonton yang ingin melihat hujan gol di laga Grup H Piala Dunia 2026 Spanyol vs Cape Verde di Stadion Atlanta, harus dibuat kecewa.
Dalam pertandingan yang digelar pada Senin (15/6/22026) atau Selasa (16/6/2026) dini hari WIB itu, tak ada satu gol pun tercipta. Skor Spanyol vs Cape Verde 0-0. Sebanyak hujan 27 tembakan Spanyol berakhir sia-sia. Di sisi lain, Cape Verde, negara dengan jumlah penduduk terkecil ketiga yang pernah mentas di Piala Dunia, berhasil mengamankan satu angka.
Aksi heroik sang kiper berusia 40 tahun, Vozinha, membuat Spanyol terus mengalami kebuntuan. Vozinha seperti tembok dengan melakukan tujuh penyelamatan.
Cape Verde terus bertahan dari gempuran La Furia Roja dan sukses mengukir sebuah kisah bersejarah di Piala Dunia.
“Kita harus mengucapkan selamat kepada tim-tim yang disebut tim kecil atas organisasi dan ketangguhan mereka,” tutur pelatih Cape Verde, Bubista, dilansir dari The Athletic.
Keajaiban yang dituliskan oleh Cape Verde datang setelah komentar kontroversial dari Presiden UEFA, Aleksander Ceferin.
Ceferin pada intinya mengkritik format baru Piala Dunia 2026 yang menghadirkan 48 negara. Di mata Ceferin, membengkaknya jumlah kontestan, dari sebelumnya cuma 32, membuat sejumlah laga jadi tak penting. Pernyataan bersama pun dibuat oleh 13 negara dari Afrika, Karibia, dan Asia Tengah. Cape Verde termasuk di dalamnya.
Bagi 13 negara ini, tidak ada pertandingan Piala Dunia yang tidak bermakna. Lolos ke Piala Dunia saja sudah jadi sebuah pencapaian sejarah dan perwujudan mimpi mereka. “Ini adalah dunia yang lebih terbuka di mana tim-tim kecil lebih berhak untuk menghadapi tim-tim tingkat yang lebih tinggi,” ujar Bubista usai laga melawan Spanyol.
Cape Verde memang tak punya skuad semewah Spanyol. Tapi, satu hal yang pasti mereka membawa nyali.
“Sepak bola adalah tentang keberanian dan tekad. Tim-tim kecil menjadikan itu sebagai lambang mereka saat melawan tim-tim besar. Kita bisa mengatakan bahwa Spanyol menguasai bola hampir sepanjang waktu, tetapi mengendalikan pertandingan bukan hanya tentang penguasaan bola,” ujar Bubinha mengomentari dominasi Spanyol.
“Kami ingin memiliki lebih banyak momen transisi, tetapi tim Spanyol sangat bagus. Kami senang dengan hasil imbang ini,” ucap Bubista menjelaskan.(Rnld)
