posaceh.com, Jakarta- PT Pertamina Patra Niaga menjelaskan alasan harga keekonomian subsidi BBM Pertalite tercatat lebih mahal dibandingkan harga jual Pertamax.
Penjelasan itu disampaikan menyusul ramainya unggahan di media sosial yang menampilkan struk pembelian Pertalite dengan harga keekonomian mencapai Rp18.040 per liter, sementara konsumen hanya membayar Rp10 ribu per liter.
Sementara Pertamax saat ini dijual Rp16.250 per liter.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun membenarkan angka Rp18.040 per liter tersebut merupakan harga keekonomian Pertalite yang berlaku saat itu.
“Betul, ada unsur subsidinya makanya hanya dijual Rp10.000 per liter,” kata Roberth kepada CNNIndonesia.com, Senin (15/6/2026).
Menurut dia, kebijakan subsidi BBM merupakan kewenangan pemerintah, bukan Pertamina. Karena itu, Pertamina hanya menjalankan mandat sebagai operator dalam penyaluran BBM subsidi.
Roberth menjelaskan Pertalite sebagai Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan (JBKP) memperoleh subsidi untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendukung aktivitas ekonomi, khususnya kelompok masyarakat menengah ke bawah.
“Subsidi bertujuan untuk menjaga kestabilan nasional dari sisi menjaga daya beli dan roda perekonomian masyarakat. Subsidi diberikan untuk melindungi masyarakat menengah ke bawah supaya tetap bisa beraktivitas dan menjaga daya beli,” ujarnya.
Ia mengatakan selisih antara harga keekonomian dan harga jual Pertalite yang mencapai sekitar Rp8 ribu per liter merupakan beban subsidi yang ditanggung pemerintah.
“Benar, besaran Rp8.000-an itu adalah beban subsidi yang ditanggung pemerintah,” kata Roberth.
Di sisi lain, Roberth menegaskan harga Pertamax yang saat ini berlaku juga belum sepenuhnya mencerminkan harga keekonomian.
Menurut dia, pemerintah bersama Pertamina sempat menahan harga Pertamax agar tidak mengalami penyesuaian sejak April 2026, meskipun harga minyak dunia mengalami kenaikan.
Baru pada 10 Juni lalu Pertamina menaikkan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter.
“Harga Pertamax ditahan untuk tidak naik. Per 10 Juni dilakukan penyesuaian harga jual Pertamax dalam rangka mengamankan daya beli dan ekonomi serta menyesuaikan agar beban fiskal pemerintah dan badan usaha tetap kondusif,” ujarnya.
Roberth mengatakan harga Pertamax saat ini masih berada di bawah harga keekonomian.
Ia menyebut kenaikan harga yang dilakukan Pertamina baru mencerminkan sekitar separuh dari harga keekonomian yang seharusnya berlaku di pasar.
“Saat ini penyesuaian kenaikan harga Pertamax masih di level sekitar 50 persen dari harga keekonomian,” katanya.
Karena itu, menurut Roberth, apabila Pertamax dijual sepenuhnya berdasarkan harga pasar dan formula keekonomian, maka harganya akan lebih tinggi dibandingkan Pertalite tanpa subsidi.
“Apabila Pertamax mengacu harga keekonomian yang seharusnya, maka akan lebih mahal dari Pertalite tanpa subsidi,” ujarnya.
Roberth menegaskan terdapat peran pemerintah dan Pertamina dalam penetapan harga jual Pertamax yang berlaku saat ini.
“Poin penting saat ini adalah bahwa harga Pertamax saat ini ada peran pemerintah di dalamnya dan juga Pertamina,” katanya.(Muh/*)
