posaceh.com, Bandung – Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81 di Kecamatan Cicalengka seharusnya menjadi ruang bersama untuk merawat persatuan, memperkuat rasa kebangsaan, sekaligus menampilkan kekayaan budaya masyarakat, Selasa (18/8/2026).
Namun, suasana perayaan justru tercoreng oleh ulah sejumlah oknum peserta karnaval yang diduga melakukan pengeroyokan terhadap Danramil Cicalengka dan Kapolsek Cicalengka saat kegiatan berlangsung.
Peristiwa tersebut mencoreng dan menjadi sorotan publik setelah videonya beredar luas serta viral di berbagai media sosial.
Di tengah kemeriahan karnaval yang setiap tahun menjadi salah satu agenda masyarakat Kecamatan Cicalengka, muncul ironi besar: karnaval yang membawa nama budaya justru dinodai tindakan yang jauh dari nilai-nilai budaya.
Jika karnaval dimaknai hanya sebagai parade massa, kendaraan, kostum dan kemeriahan, maka substansi peringatan kemerdekaan akan kehilangan ruhnya. Karnaval sejatinya bukan sekadar tontonan, melainkan bagian dari ekspresi kebangsaan yang semestinya mencerminkan kedewasaan, ketertiban, kreativitas dan penghormatan terhadap sesama.
Karena itu, dugaan pengeroyokan terhadap aparat keamanan tidak dapat dipandang sebagai persoalan sepele atau sekadar keributan spontan di tengah keramaian.
Aparat seperti Danramil dan Kapolsek hadir dalam kegiatan masyarakat bukan sebagai pihak yang harus dimusuhi.
Mereka merupakan bagian dari unsur pengamanan yang memiliki tanggung jawab menjaga kegiatan agar berlangsung tertib dan aman.
Ketika aparat yang sedang menjalankan tugas justru menjadi sasaran kekerasan, persoalannya telah bergeser dari sekadar persoalan antarindividu menjadi persoalan ketertiban publik dan penghormatan terhadap hukum.
Lebih jauh lagi, kejadian tersebut perlu menjadi bahan evaluasi serius bagi seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan massal.
Semua pihak harus duduk bersama mengevaluasi bagaimana sebuah kegiatan yang seharusnya menjadi pesta rakyat dapat berubah menjadi ruang konflik.
Pertanyaannya bukan hanya siapa yang melakukan, tetapi mengapa situasi tersebut bisa terjadi? Hal ini penting dijawab, untuk memastikan agar kejadian serupa tidak berulang kembali.
Karnaval boleh meriah. Budaya boleh tampil semarak. Tetapi akal sehat, etika, ketertiban dan hukum tidak boleh ikut dikarnavalkan.
Jika perayaan kemerdekaan ingin benar-benar mencerminkan Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur, maka semuanya harus dimulai dari hal paling mendasar: mampu merayakan perbedaan tanpa kekerasan dan mampu bergembira tanpa kehilangan kendali.
Karena kemerdekaan sejati tidak diukur dari seberapa gaduh perayaannya, tetapi dari seberapa dewasa masyarakat menjaganya.(Muh/*)











