Semilir angin Krueng Aceh menyapa kesunyian Hotel Rajawali, meniup ratusan guguran bunga Bougenville jingga dari pohon favorit pemiliknya.
Terpaan angin membentuk laguna gelombang melingkar tepat di depan miniatur Burung Rajawali, menampilkan ke-eksotisan tersendiri bagi hotel dengan belasan pilar yang menopangnya, sekilas meniru design bangunan semi Eropa kuno.
Suara canda tanda serta cekikikan terdengar sayup-sayup dari kodidor ujung lantai satu, kala itu sang Srikandi sedang sibuk membereskan barang-barang yang tertinggal milik JSC (Joint Security Comitte) GAM (Gerakan Aceh Merdeka).
Barang-barang itu tertinggal saat mereka mengadakan beberapa pertemuan di Hotel Rajawali. Barang yang tertinggal sangat banyak membuatnya kewalahan untuk merapikannya dan sangat menyita waktu. ia meminta beberapa orang anggota Srikandi untuk membantunya, saat itu ia ditemani oleh beberapa aktivis Rahmatan, Cut Asmaul Husna, Cut Linda, Nurul Salwa.
Keberadaan Srikandi kembali ke Aceh bukan tanpa alasan, 13 Januari 2003 Srikandi kembali ke tanah kelahirannya. Setelah setahun lamanya ia mengasingkan diri di Jakarta, ia kembali pulang karena kerinduan dan kesedihan mendalam akan perjuangan rakyat Aceh.
Nyawanya terancam tetapi tekadnya untuk kembali telah mengkristal. Terlebih ketika berita tertembaknya Ayah Lah (Abdullah Syafi’ie – Panglima Tertinggi GAM) di desa Jiem-Jiem, kab. Aceh Pidie sampai ke telinganya, langkahnya untuk pulang ke tanah Rencong tak terbendung. Tanpa pikir panjang ia langsung mengudara ke Aceh dan menuju ke Desa Cubo Aceh Pidie menuju ke peristirahatan terakhir Tengku Lah.
Baginya sosok Abdullah Syafi’ie sangat berarti baginya, sehingga keselamatannya pun diabaikan. Bukan karena jabatan yang diembannya, tetapi sosoknya yang sederhana, taat beragama, dan pemimpin yang bijaksana menorehkan tinta emas bukan hanya bagi anggota GAM, tetapi juga bagi seluruh Masyarakat Aceh ikut bersimpati padanya.
Ia menjadi inspirasi semangat Srikandi untuk berjuang membela kemanusiaan, Ayah Lah meninggal karena diberondong berkali-kali dengan timah panas bersama sang Istri Cut Fatimah yang juga ikut dihujani tembakan dalam keadaan sedang mengandung enam bulan, ini adalah pukulan telak dan kesedihan terbesar baginya dan seluruh rakyat Aceh.
Tertembakknya Abdullah Syafi’ie merupakan catatan buruk bagi perdamaian Aceh karena pada saat yang sama Aceh sedang melakukan Jeda Kemanusiaan melalui lembaga Internasional Hendry Dunant Centre sebagai mediator yang sudah diinisiasi sejak tahun 2000.
Kesepakatan perjanjian damai perdana berhasil digelar pada masa Presiden Abdurahman Wahid yang dikenal dengan istilah COHA (Cessation of Hostalities Agreement) di Jenewa – Swiss pada tanggal 9 Desember 2002.
Yang kemudian hasil dari perjanjian COHA terbentuklah JSC (Joint Security Comitte) sebagai sebuah Lembaga atau komite keamanan bersama yang berfungsi untuk mengontrol perjanjian damai dan menginventarisasi keamanan antara kedua belah pihak (RI dan GAM), dan untuk merealisasikan butir-butir perdamaian antara kedua belah pihak yang bertikai. Lembaga tersebut melibatkan unsur GAM, RI, dan LSM international sebagai mediator serta pihak dari Hendry Dunant Centre.
Barang-barang harus segera diamankan dengan segera, karena aparat selalu memata-matai dan mengendus setiap pergerakan para aktivis saat itu untuk mencari-cari kesalahan dan alasan penangkapan bagi siapapun yang mereka curigai.
Untuk melakukan hal yang terlihat sepele itupun tak semua orang bersedia, sehingga pilihan Srikandi jatuh kepada beberapa kerabat yang memiliki mental kuat untuk melakukan hal tersebut. Ya…kala itu aparat tidak segan-segan untuk menciduk siapa saja yang mereka curigai membantu pergerakan GAM, apalagi disertai “barang bukti” akan menjadi sasaran empuk penyerangan baik secara fisik maupun mental.
Terkadang banyak di antara masyarakat yang ikut menderita karena sikap “asal tuduh” para aparat. Sehingga banyak dari masyarakat Aceh “korban salah tangkap” atau “murdered without any reason”. Mereka diseret paksa dari kediaman masing-masing tanpa surat penangkapan maupun peradilan yang berkeadilan.
Kegiatan bersih-bersih dimulai dari pukul 10 pagi sampai dengan senja hari itu, mereka harus melakukannya dengan hati-hati karena intel-intel memasang mata dan kuping di setiap tempat. Mereka harus lebih peka siapa “Chu’ak” (pengkhianat) yang memata-matai gerak- gerik mereka.
Selepas melepas penat, mereka duduk dan berbaring sejenak sembari bersantai tepatnya di kamar 01 sembari mengobrol-ngobrol tentang perjuangan dan kepedihan yang harus mereka lalui serta saling berbagi cerita tentang kebahagiaan yang terlucuti dari kehidupan pribadi masing-masing. Saling menguatkan dan men-support untuk mengukir semangat dalam sebuah cita yang mulia.
“Allahu Akbar…Allahu Akbar” suara merdu panggilan Ilahi menyela pembicaraan mereka, Cut Nur langsung berdiri dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan wajah dan mengambil air wudhu’.
Tetesan wudhu’ membasahi wajah paruh baya miliknya, kemudian ia langsung melaksanakan shalat ashar. Badannya berguncang disujud terakhirnya yang panjang. Selepas salam ia mengadahkan kedua tangannya ke atas dengan wajah penuh harap, dengan tersedu-sedu tak terasa bulir-bulir bening mengalir menemani kesyahduan untaian harapan dan do’anya pada sang Pencipta, seakan menjadi petanda bahwa waktunya tak lagi lama.
Kring…Kring…Kring….Suara telephone kabel memecahkan keheningan, “Assalamualaikum Rajawali Hotel ada yang bisa dibantu Pak? “sapa Maulana, recepsionist Hotel Rajawali dengan ramah. “Cut Nur Asyikinnya ada? “tanya suara barito di seberang telepon dengan nada membentak.
Recepsionist itu terdiam gugup dan penuh ketakutan, tenggorokkannya tercekat dengan pertanyaan tadi. Dengan gagap ia menjawab “tidak ada”, tapi jawabannya yang ragu-ragu tadi terendus oleh aparat yang menelpon.
Maulana sadar betul bahwa sang atasan menjadi daftar DPO (Daftar Pencarian Orang), dan sang penelfon pasti dari kalangan aparat yang memang mencari kesempatan untuk menangkap Ibu Cut Nur sehingga jawabannya menjadi penentu sekaligus “petunjuk” bagi mereka.
Setelah telephone ditutup, ia dengan tergopoh-gopoh menuju kamar 01, ia bergegas memberi tau Bu Cut bahwa baru saja ada yang menelphone dengan nada sedikit mengancam menanyakan keberadaannya.
Tak lama setelahnya, tiba–tiba dua buah mobil dengan kaca hitam pekat parkir di halaman depan hotel. Mobil Panther dan Kijang Kapsul hitam sudah bertengger di halaman depan Hotel Rajawali.
Braakk….suara hantaman pintu mobil dihempas dengan kencang, derap langkah sepatu pdl milik para intel mengusik keheningan di lobi Hotel, delapan orang personil intel dilengkapi senjata laras panjang M-16 turun dari mobil, kemudian mereka masuk ke Lobi, tanpa Ba…bi…bu…mereka bertanya seraya membentak untuk memberi tekanan pada lawan bicaranya “Mana Cut Nur Asyikin”? dengan gaya pongahnya mereka berteriak.
Mereka terus mengancam recepsionist yang ketakutan saat itu, kilauan kaca mata hitam menutupi guratan wajah bengis pemiliknya. Suara cek cok mengaung di Ballroom hotel memancing para tamu yang berada di kamar keluar. Demikian pula Srikandi, Mendengar keriuhan di luar memancingnya untuk mencari tau. Ia yang sedari tadi berada di kamar 01, yang letaknya dilantai dasar berdampingan dengan Lobi Hotel.
Tergopoh-gopoh ia keluar dengan keheranan, “Ada apa tanyanya? Pue na rioh-rioh?”, kemudian ia langsung di sergap oleh para intel yang sudah bersiaga. “Ibu harus ikut kami” sela salah satu dari mereka.
“Sebentar saya pake kaos kaki dulu” jawabnya “cepat..cepat” perintah intel tersebut. Ia berusaha menutup seluruh auratnya, seakan ia sudah bersiap menjemput ajalnya, sebagaimana banyak teman sejawatnya yang pergi dan tak pernah kembali.
Ia langsung dibawa menaiki Kijang Panther tersebut, “Ibu mau dibawa kemana?’’ Teriak Rahmatan, salah satu aktivis yang bersamanya kala itu.
Tetapi para intel tersebut tidak menggubrisnya, mereka meresponnya dengan diam dan langsung memerintahkan Srikandi untuk bergegas. Tapi usaha Rahmatan dan teman-teman aktivistnya tak sampai disitu, aktivis lainnya pun ikut memberontak seraya berteriak paksa “ibu mau dibawa kemana?” berulang-ulang jeritan itu menggema dengan mata nanar akibat kemarahan mereka yang membuncah yang juga diselingi ketakutan.
Akhirnya, usaha paksa para aktivis tersebut membuahkan hasil, dan berhasil memojokkan para intel untuk membuka mulut dan mereka menjawab dengan sekenanya “mau dibawa ke Polresta Banda Aceh”. “Baikklah kami akan ikut serta” jawab mereka.
Matanya tidak menunjukkan ketakutan maupun kesedihan, sorot matanya begitu tajam dan penuh optimism walaupun kesedihan tak bisa ditutupinya.
Ia menangkap gurat kesedihan dari para rekan sejawatnya, tak ingin penangkapannya melemahkan semangat perjuangan, dengan semangat meubura (membuncah) ia berkata “Tenang manteng awak droen siat Treuk Aceh merdeka” (Tenang saja kalian sebentar lagi Aceh merdeka) teriaknya di sela-sela proses penyergapannya.
Ketangguhannya menyiratkan bahwa Cut Nur Asyikin boleh ditangkap jasadnya tapi jiwanya akan tetap bebas.
Dalam proses penangkapan itu mereka juga menyita beberapa berkas yang mereka rapihkan sejak tadi, beberapa lembar Photo sang suami bersama Panglima GAM Teugku Abdullah Syafi’i dan satu buah VCD milik para tamu yang ikut memberatkan tuduhan sekaligus tuntutan terhadapnya.
Tak membuang waktu, Para aktivis bergegas menghidupkan kendaraan mereka untuk membuntuti mobil yang membawa Srikandi, sampai mereka tiba di Polresta Banda Aceh.
Mereka ingin memastikan bahwa benar ia dibawa kesana, dan di perlakukan dengan wajar. Kekhawatiran mereka bukan tanpa alasan, dengan kondisi konflik dan status Aceh sebagai DOM (Daerah Operasi Militer) para oknum aparat banyak menggunakan kekuasan mereka diluar kewenangan, sehingga nuansa “abbuse of power’’ selalu menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat sipil.
Mereka tetap berada di Polresta Banda Aceh, sampai diusir untuk kembali ke tempat masing-masing, mereka meminta kepastian keamanan jiwa Srikandi selama di Polresta dan melakukan konfrensi Press kepada awak media perihal penangkapan Cut Nur Asyikin.
Langkah ini diambil sebagai salah satu langkah preventif untuk membentengi tindakan refresif dari aparat dalam melakukan penyelidikan. Sehingga tindak-tanduk aparat saat itu termonitori dengan adanya media yang sekaligus menjadi corong bagi masyarakat Aceh.
Sehari setelah penangkapan para aktivis langsung melakukan advokasi ke komnas HAM dan PBHI serta teman-teman jejaring di Jakarta.
Pendampingan terus dilakukan sekitar tiga bulan lamanya selama di Polresta sampai dengan ke proses pengadilan Negeri Banda Aceh, yang kemudian ia diberikan hak untuk membela dirinya, serta didampingi pengacara.
“Kak Ipah” pengacara yang mendampinginya dalam proses peradilan di Pengadilan Negeri Banda Aceh, setelah mendapatkan pendampingan dan masuk proses peradilan ia dipindahkan ke penjara Lhokga sampai pada putusan inkrah2t.
Konfrensi pers pun selalu dilakukan untuk melaporkan pada masyarakat tahapan-tahapan peradilan yang dijalaninya.
Sejak awal persidangan ia selalu tampil dengan elegan serta yakin seraya berteriak “MERDEKA”, kenapa mamak ga takut mak? Tanyaku”, takut mamak hanya sama Allah bukan sama manusia’’, jawabnya pendek.
Jordania, 20 Juni 2020
Ruang Rindu
(Cut Endang, Putri ke-4 Alm. Ibunda Cut Nur Asyikin).
