Di Banda Aceh yang kini ramai dengan baliho digital dan layar ponsel yang tak pernah padam, aroma tinta cetak seakan tinggal kenangan. Namun jauh sebelum itu, Aceh sudah mengenal dunia tulis dan cetak yang menjadi bagian penting dari peradabannya.
Awal mula: huruf Arab Melayu dan mesin kolonial
Sebelum mesin cetak datang, orang Aceh telah menulis dengan tangan—dalam hikayat, kitab, dan surat-surat diplomatik kesultanan—semuanya berhuruf Arab Melayu atau Arab Jawo. Namun sekitar tahun 1900, perubahan besar datang bersamaan dengan berdirinya Atjeh Drukkerij di Kutaraja (Banda Aceh). Percetakan modern ini dikelola oleh pihak kolonial Belanda dan menjadi yang pertama mencetak brosur, laporan, hingga koran berbahasa Belanda seperti Atjeh Nieuwsblad.
Bagi masyarakat Aceh masa itu, koran bukan sekadar benda asing—ia memperkenalkan dunia baru: berita, opini, dan wacana publik. Meskipun isi media kolonial sering menggambarkan Aceh dari kacamata penguasa, dari sinilah benih kesadaran jurnalistik mulai tumbuh.
Suara lokal dan kebangkitan pers Aceh
Memasuki awal abad ke-20, gelombang pergerakan nasional melahirkan media berbahasa Melayu di berbagai daerah, termasuk Aceh. Koran kecil dan buletin sekolah menjadi wadah bagi ide kemerdekaan dan pendidikan rakyat. Setelah proklamasi 1945, media cetak menjadi alat perjuangan, memuat kabar tentang rakyat, pembangunan, dan semangat kebangsaan.
Di masa-masa itu, percetakan lokal berkembang. Sekolah, organisasi, hingga tokoh agama mulai menerbitkan buletin mereka sendiri. Seiring waktu, dunia pers Aceh tumbuh menjadi bagian penting dari kesadaran sosial dan politik masyarakat.
Serambi tinta dan kisah yang tak padam
Tahun 1989 menandai babak baru ketika Serambi Indonesia hadir sebagai koran besar daerah. Ia membawa semangat profesionalisme dan menjadi saksi bagi berbagai peristiwa besar di Aceh—dari konflik hingga tsunami. Namun, di tengah perubahan zaman dan gempuran media digital, masih ada media cetak yang memilih bertahan, dengan napas lokal yang kuat dan idealisme yang jernih.
Media Pos Aceh, tiga belas tahun mengabdi
TIGA BELAS tahun lalu, tepatnya 20 Oktober 2012, Media Pos Aceh lahir di tengah publik Aceh yang haus akan informasi. Tidak ada ritual peusijuk atau seremonial peluncuran yang menandai kehadiran perdananya. Tak banyak yang tahu ketika sebuah tabloid berformat warna-warni itu pertama kali beredar di warung kopi dan ruang tunggu perkantoran.
Tidak ada promosi, tak ada “halo-halo.”
Namun begitulah watak Media Pos Aceh—tenang, tapi berisi. Dengan motto “informatif, kreatif, dan aspiratif,” media ini hadir untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa melalui informasi, pendidikan, hiburan, olahraga, dan fungsi sosial kontrol.
Dan siapa nyana, di tengah gempuran media online dan media sosial yang kian tak terbendung, Tabloid Media Pos Aceh masih setia mengunjungi pembacanya setiap pekan. Bertahan di dunia yang serba cepat bukan perkara mudah, tetapi Media Pos Aceh menjawabnya dengan konsistensi dan kredibilitas.
Kini, PT Media Pos Aceh, perusahaan pers yang menerbitkan Tabloid Media Pos Aceh dan Pos Aceh Online, telah Terverifikasi Faktual Dewan Pers (Sertifikat No. 810/DP-Verifikasi/K/X/2021, tertanggal 18 Oktober 2021) dan menjadi anggota Serikat Perusahaan Pers (SPS) (Sertifikat No. 697/2019/01/B/2022, tertanggal 16 Februari 2022).
Menjaga cahaya dari tinta yang mengering
Sejarah media cetak di Aceh bukan sekadar kisah tentang koran dan percetakan, melainkan tentang kesetiaan pada makna informasi. Dari Atjeh Drukkerij hingga Media Pos Aceh, dari huruf Arab Melayu hingga berita daring, semangatnya tetap sama: menjaga akal sehat publik dan menyalakan cahaya pengetahuan.
Karena di balik setiap lembar berita, tersimpan satu keyakinan yang tak berubah sejak dulu:
bahwa kata-kata yang dicetak bisa menjadi doa, bisa menjadi ingatan, dan bisa menjadi penuntun bagi masa depan Aceh yang lebih tercerahkan. (Hasnanda Putra)











