Banghas

Jejak Kecil Tiro

5422
×

Jejak Kecil Tiro

Sebarkan artikel ini

Suatu waktu Hasan Tiro berpidato dengan begitu semangat, nyala revolusi seakan belum sirna sampai-sampai lupa kalau kita sedang berada di negara merdeka. Siang hari di 1976 setelah gelegar pidato itu Hasan kemudian duduk bersimpuh dekat kuburan tua itu sambil mengangkat kedua tangan berdoa. Jasad para syuhada pelanjut akhir Mujahidin Tiro terkubur di kuburan itu, Gampong Pulo Masjid 1 di Tangse, Pidie.

Hasan Di Tiro tahu betul bagaimana kisah hidup penuh liku para wali yang terkubur itu, narasi cerita terus mengalir bagai Krueng Inong Tangse.

Hasan dikenal sangat cerdas, selain kemampuan mengingatnya yang cemerlang. Hampir semua peristiwa waktu diingatnya, dan sejarah begitu dipahaminya sehingga yang mendengar seakan berada dalam kisah tersebut.

“Gagah sekali beliau dan pidatonya sangat enak didengar serta mudah dipahami,” kata seorang tua yang pernah melihatnya di tahun 1976 tersebut.

Hasan Tiro tahu betul, ada kerinduan sejarah yang terus menggelora di setiap pikiran anak negerinya, hingga sentuhan itu membuat banyak orang tersentuh dan menderu semangat nasionalisme Aceh.

Mungkin karena kemampuan berbicara yang luar biasa ini, pengaruh nya begitu cepat menyebar. Tidak hanya keluarga besar Tiro yang bergabung di periode pertama itu namun sampai ke dataran Gayo pengaruhnya begitu cepat membius.

“Beliau tokoh luar biasa, tiada tanding di masanya, mungkin sampai kini,” sebut bakhtiar, seorang tokoh pemuda di Tangse.

Keturunan Pahlawan Tiro

Hasan Tiro adalah keturunan ketiga Tengku Syeh Muhammad Saman di Tiro. Ia adalah anak kedua pasangan Tengku Pocut Fatimah dan Tengku Muhammad Hasan. Tengku Pocut adalah cucu perempuan Tengku Muhammad Saman di Tiro.

Sebuah kisah kecil menarik ditulis Hasan Tiro sendiri dalam catatan hariannya, The Prince of Freedom: The Unfinished Diary of Tengku Hasan di Tiro.

Suatu hari Hasan Tiro kecil mengeluh pada bunda nya sambil menangis. Ia mengaku setiap hari selalu terlambat sampai di sekolah karena orang-orang yang ditemuinya di jalan selalu mencium tangannya. “Bila saya lewat, orang-orang yang duduk akan berdiri dan yang naik sepeda akan turun dari sepedanya untuk mencium tangan saya,” sebutnya pada Bunda.

“Itu karena mereka menghormati kita,” kata sang Ibu dengan sabar menyampaikan bahwa mereka bukan mengganggunya namun justru sangat menghormati keturunan Tiro.

Dalam Unfinished Diary, sebagaimana ditulis Tempo, Tiro menggambarkan betapa hangat sambutan itu dan betapa dielu-elukannya dia sebagai pemimpin yang ditunggu-tunggu. “Ketika melintasi sungai, mereka bahkan tidak mengizinkan kaki saya basah oleh air. Mereka selalu membopong saya saat pasukan kami melintasi sungai,” ujar Tiro.

Hari pertama kembali

Sabtu pagi, 30 Oktober 1976, Perahu Hasan Tiro mendarat di di pantai Aceh, tepatnya di Pasi Lhok Pidie, pada Sabtu pagi, 30 Oktober 1976, sekitar pukul 08.30 wib.

Sebelumnya deklarator GAM ini 25 tahun lebih hidup dan berkeluarga di Amerika Serikat.

“Malam itu juga menjadi malam pertamaku di tanah air. Tidak ada yang tahu kedatangan saya ke Kuala Tari yang dikelilingi oleh rawa-rawa,” tulis Hasan Tiro.

Selanjutnya Hasan Tiro bersama Daud Paneuk dan pasukannya berangkat.

Sejak tiba, Hasan Tiro memimpin perjalanan dengan penuh strategi gerilya. Ia meminta pasukan berjalan dalam gelap, diam dan tanpa menggunakan senter untuk menghindari pendeteksian musuh.

Dengan penuh liku dan rintangan Hasan Tiro melalui perjalanan dalam rimba. Namun masih misteri bagaimana cara sang deklarator ini tiba di Pulo Masjid Tangse, perkampungan tua yang dekat dengan pusat kecamatan.

Hasan Tiro seakan belum sempurna memimpin perjuangan sebelum tiba di gampong di lembah Singgah Mata ini. Ada banyak semangat dan harapan yang terkubur bersama para ‘indatunya’ yang memimpin perlawanan terhadap Belanda tanpa pernah mengenal kata lelah dan menyerah. Sejarah mencatat, keluarga Tgk Chik Di Tiro menjadi para syuhada terbaik di Aceh. Teungku Chik di Tiro, mempunyai lima orang putra, yang kesemuanya gugur di medan perang.

Seorang penulis Belanda, Zentgraaff mencatat dengan kalimat penuh haru dan terhormat kepada keluarga Tiro. “Secara jujur harus dicatat mereka gugur sebagai pahlawan,” tulis Zentgraaff.

Begitulah rekam kisah para syuhada yang melatarbelakangi semangat perlawanan Hasan Tiro, sebuah episode panjang dalam sejarah Aceh menuju perdamaian. (Hasnanda Putra)