Di sebuah pagi yang berkabut tipis, jalanan menanjak menuju Kota Jantho terasa lengang. Hanya suara mesin kendaraan dan kicau burung yang sesekali terdengar dari balik pepohonan. Tak ada hiruk-pikuk lalu lintas, tak ada deretan toko-toko besar. Tapi justru di balik kesunyian itulah letak keistimewaan Jantho—sebuah kota kecil yang sunyi namun berarti.
Sebagai ibu kota Kabupaten Aceh Besar sejak tahun 1983, Jantho memang bukan kota tua dengan jejak kerajaan atau situs sejarah berabad-abad. Namun pemilihannya sebagai pusat pemerintahan menggambarkan sebuah langkah strategis: membawa pemerintahan lebih dekat ke pedalaman, dan pada saat yang sama melindungi kawasan hutan yang menjadi paru-paru wilayah ini.
Dulu, Jantho hanyalah daerah pertanian terpencil yang dikelilingi perbukitan dan hutan lebat. Masyarakatnya hidup dari hasil alam dan menjalin hubungan erat dengan lingkungan sekitar. Tapi sejak dipindahkannya pusat pemerintahan kabupaten dari Banda Aceh ke Jantho, wajah kota ini perlahan berubah. Gedung pemerintahan berdiri di tengah ketenangan hutan, jalan-jalan mulai diperbaiki, dan listrik masuk hingga ke pelosok.
Meski pembangunan berjalan, satu hal tak berubah: alam tetap menjadi nadi utama kota ini.
Hutan Lindung Jantho merupakan bagian dari Ekosistem Ulu Masen, yang terhubung dengan Hutan Lindung Panca dan Tangse. Kawasan ini juga bagian dari Kawasan Ekosistem Leuser, menjadi saksi bagaimana kota ini berdiri bukan dengan mengorbankan alam, tapi justru menjaganya. Sejak 2011, hutan ini menjadi lokasi reintroduksi orangutan Sumatera oleh Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP). Bayangkan, di era ketika banyak kota sibuk memperluas lahan beton, Jantho justru menjadi tempat bagi satwa langka untuk kembali ke habitatnya.
“Di sini, pembangunan harus sejalan dengan pelestarian,” ujar seorang warga yang mengenal hutan Jantho sejak kecil. “Kalau hutan rusak, bukan cuma orangutan yang hilang. Kita juga.”
Kehidupan di Jantho berjalan dengan irama yang lambat dan damai. Tak banyak suara klakson, tak banyak gedung tinggi. Yang terdengar adalah azan dari masjid-masjid kecil dan tawa anak-anak yang berlari di lapangan terbuka.
Kota Jantho, ibu kota Kabupaten Aceh Besar, saat ini makin menunjukkan geliat modernitasnya seiring kehadiran infrastruktur strategis seperti jalan tol Sigli–Banda Aceh yang mempercepat konektivitas ke pusat provinsi. Tak hanya itu, jalur tembus yang menghubungkan Jantho ke Lamno di barat dan Keumala–Tangse di selatan mempertegas perannya sebagai simpul perlintasan penting antarwilayah. Dengan topografi yang memesona dan akses yang kian terbuka, Jantho tidak hanya menjanjikan potensi ekonomi dan pemerintahan yang efisien, tetapi juga tumbuh sebagai kawasan simpul yang menggerakan kawasan lain di Aceh.
Kini, dengan akses yang semakin terbuka dan kesadaran akan pentingnya ekowisata, Jantho mulai dilirik sebagai destinasi wisata alternatif. Bukan untuk yang mencari gemerlap, melainkan untuk mereka yang rindu akan keteduhan, keaslian, dan kedamaian. Kota ini adalah pengingat bahwa di tengah dunia yang bergerak cepat, masih ada tempat yang memilih berjalan pelan—dan justru dari situ ia menemukan kekuatannya.
Jantho bukan hanya tentang hutan dan kantor pemerintahan. Ia adalah tentang keseimbangan. Tentang bagaimana manusia bisa hidup berdampingan dengan alam, menjaga warisan hijau untuk generasi yang belum lahir.
Dalam sunyi yang diberkahi, Jantho menjadi tempat di mana takdir negeri ditulis perlahan—dengan sabar, dengan doa. Tak semua kekuatan harus lantang—sebab Jantho mengajarkan, dalam senyap pun sebuah negeri bisa bergerak, berpikir, dan membangun masa depan. Selamat Ulang Tahun ke-41 Kota Jantho. (Hasnanda Putra)
