Internasional

Iran Ancam Serang Energi Teluk Usai Ladang Gas Diserang

280
×

Iran Ancam Serang Energi Teluk Usai Ladang Gas Diserang

Sebarkan artikel ini
Ladang gas diserang, Iran dan serang energi di kawasan Teluk.FOTO/*

posaceh.com, Jakarta – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran menargetkan fasilitas energi di kawasan Teluk dan mengancam serangan lanjutan yang lebih destruktif. Situasi ini memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi global dan mengguncang pasar yang sudah tertekan.
Peringatan keras dari Teheran muncul setelah serangan terhadap ladang gas South Pars, salah satu fasilitas gas terbesar di dunia yang memicu respons keras dari pemerintah Iran. Garda Revolusi Iran menyebut serangan terhadap infrastruktur energi sebagai “kesalahan besar” dan memperingatkan bahwa balasan serangan tidak akan berhenti jika aksi serupa terulang

“Jika ini terulang kembali, serangan terhadap infrastruktur energi Anda dan sekutu Anda tidak akan berhenti hingga hancur sepenuhnya,” demikian pernyataan resmi yang dikutip media Iran, dilansir dari AFP .

Eskalasi ini terjadi di tengah meningkatnya serangan terhadap elite militer dan intelijen Iran. Israel melaporkan mengungkapkan kepala intelijen Iran, Esmail Khatib, yang menjadi bagian dari rangkaian serangan yang menambahkan struktur kepemimpinan negara tersebut sejak konflik pecah hampir tiga pekan lalu. Sebelumnya, pejabat senior keamanan Ali Larijani juga dilaporkan tewas.

Pemerintah Iran mengecam keras pembunuhan Khatib. Presiden Masoud Pezeshkian menyebutnya sebagai “pembunuhan membahayakan”, sementara pemimpin tertinggi baru, Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa setiap darah yang tertumpah akan dibayar mahal.

Di sisi lain, serangan juga berdampak pada negara-negara Teluk. Perusahaan energi milik negara Qatar melaporkan serangan rudal yang memicu kebakaran besar yang menyebabkan kerusakan luas di fasilitas gas utamanya. Doha merespons dengan mengusir dua diplomat Iran.

Arab Saudi juga mengklaim berhasil mencegat sejumlah drone yang menargetkan infrastruktur energi di wilayah timur. Sementara itu, puing rudal balistik dilaporkan jatuh di dekat kilang minyak di selatan Riyadh.

Kondisi ini berdampak langsung pada pasar energi global. Harga minyak melonjak tajam, dengan patokan utama Amerika Serikat naik lebih dari tiga persen pada hari Kamis, seiring terganggunya jalur distribusi di Selat Hormuz.

Seruan untuk menyelesaikan konflik datang dari sejumlah pemimpin dunia. Presiden Prancis Emmanuel Macron mendesak penghentian serangan terhadap infrastruktur sipil, setelah berbicara dengan Presiden AS Donald Trump dan Emir Qatar.

“Populasi sipil dan kebutuhan esensial mereka, serta keamanan pasokan energi, harus dilindungi dari eskalasi militer,” ujarnya.

Meski mengalami kerugian besar dalam struktur kepemimpinan, intelijen Amerika Serikat menilai pemerintahan Iran masih bertahan, meski dalam kondisi melemah. Kepala intelijen AS Tulsi Gabbard menyebut pemerintah Iran “masih utuh tetapi sebagian besar telah terdegradasi”.

Namun, Iran tetap menunjukkan kemampuan membalasnya. Serangan rudal Iran melaporkan seorang pekerja asing di Israel, menambah jumlah korban tewas menjadi 15 orang. Serangan juga terus terjadi di berbagai wilayah, termasuk Teheran.

Konflik kini meluas ke sejumlah negara di Timur Tengah. Di Lebanon, serangan Israel melanda Beirut dan memicu gelombang pengungsian besar-besaran. Jalan-jalan dipenuhi kendaraan warga yang melarikan diri menuju kota Sidon demi mencari perlindungan.

Seorang warga, Nidal Ahmad Chokr, mengaku akhirnya meninggalkan desanya setelah serangan udara semakin intens. Ia menggambarkan situasi yang mencekam, dengan korban jatuhan bahkan di tengah aktivitas sehari-hari.

“Para pembuat roti mati saat membuat roti, dan pekerja kota gugur saat menjalankan tugas,” ujarnya.

Di Irak, kelompok bersenjata pro-Iran, Kataeb Hezbollah, menyatakan akan menghentikan sementara serangan terhadap Kedutaan Besar AS selama lima hari, dengan syarat mengizinkan serangan Israel di Beirut dan wilayah sipil lainnya.

Konflik yang terus meluas ini telah menyebabkan ratusan orang dan memaksa jutaan lainnya mengungsi, mempertegas kekhawatiran bahwa krisis regional dapat berkembang menjadi gangguan global yang lebih besar, terutama pada sektor energi.(Muh/*)