Banghas

Intel Cantik dan Indekos

2096
×

Intel Cantik dan Indekos

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

Sebuah Rumah tua tampak tak terawat. Lusuh dan pengap. Bangunan kayu berpanggung ini berdiri tepat di tengah perkampungan pendatang yang sudah beranak-pinak ini. Sebuah kisah di Simpang Surabaya pertengahan tahun 1998, kampung kecil beragam suku di Koetaradja Banda Aceh.

Antonio (maklum kisah ini bicara tentang kerahasiaan maka seluruh orang-orang di dalamnya bukan nama sebenarnya) dan beberapa sejawat “hidup” di sini belasan bulan. Meraih cita mengejar toga, hijrah ke kota dari kampung tercinta.

Terdapat sekitar 6, 7 kamar membentang dari rumah atas sampai rumah bawah. Satu kamar didiami sampai 5, 6 orang. Jumlah penghuni bisa mencapai 30 orang.

Satu sumur untuk semua, tak ada bilik- semua terbuka lebar. Bila mandi maka semua laki-laki di sini hanya pakai celana dalam, kecuali satu dua menutup dengan kain itupun lusuh tak pernah diganti.

Tak ada ruang tamu, kecuali ruang depan yang di tepi dinding ditempeli papan lusuh sekedar saja untuk menutup. Tak ada meja tamu, kursi pun hanya satu. Kondisi ini membuat siapapun tamu terpaksa dibawa masuk ke kamar, termasuk teman perempuan.

*
Hari itu di 1998, Antonio kedatangan tamu. Seorang perempuan cantik, Antonio telah mengenal sebelumnya karena pernah ketemu dalam sebuah aksi demonstrasi di lintasan Daud Beureueh dan berlanjut di terminal Beurawe ujung jembatan Simpang Surabaya.

Dia ingat betul waktu itu seorang teman pernah ingatin: “Hati-hati itu intel, jangan terlalu dekat,”.

Namun pagi ini hanya ada Antonio dan perempuan “intel” itu, tidak mungkin dia tidak menyapa menanyakan keperluannya.

“Apa kabar, mau kemana?” Tanya Antonio sambil memasang kewaspadaan.

“Mau ketemu abang,” katanya sambil memainkan mata ke kiri ke kanan- sesekali menggigit pelan bibir bawahnya. Terus terang ini godaan terbesar dalam perjuangan Antonio.

“Waduh maaf ya di ruang depan ini tak ada kursi, kita berdiri aja ya,?” Kata Antonio.

Perempuan ini tersenyum sambil berujar “Gak perlu repot-repot, di kamar aja kita duduk,” Sorot matanya mengarah ke kamar Antonio, ruangan lusuh yang tak ada kursi apapun- hanya ada kasur.

Bau mengepul dari jemuran yang tak terperas langsung ditumpuk di kamar, mengucur ke arah pintu. Rupa-rupa bau bercampur mendekap. Perempuan ini seperti tak terpengaruh aroma kos sama sekali.

Jantung Pria aktivis tolak militer ini mulai berdegup, benar kata teman itu bahwa perjuangan paling berat laki-laki aktivis bukanlah lari dari ancaman penculikan namun menolak ajakan perempuan.

“Ya mbak, boleh saja. Lagian pintu bisa kita buka kok,” Kata Antonio.

“Namanya juga pintu kayu bang, kalau diterpa angin kan tertutup sendiri nanti,” Katanya sambil berdehem kecil.

Keringat Antonio mulai berjatuhan, kembali teringat warning teman tentang intel perempuan yang kadang bisa lebih menakutkan.

“Kalau intel itu suka pasang tato di tubuh bagian dalam, baik laki atau perempuan. Mereka ada kode tersendiri,” Sebut kawan Antonio itu suatu hari.

Namun, kondisi hari itu tidak mungkin dia tahu banyak apakah perempuan ini punya tato atau tidak. Tentu selama dia masih berpakaian lengkap.

**
Tiba-tiba perempuan ini menghentakkan Antonio yang terus saja terawang-awang tidak menentu.

“Bang, halo bang. Kipas angin tak hidup ya, panas sekali ni. Saya buka baju aja.” Katanya santai.

Belum sempat Antonio merespon, tiba-tiba angin bertiup, dan pintu mendadak tertutup. Brum…hmmmm.

Bagaimana nasib Antonio dan benarkah perempuan itu seorang intel? Entahlah. (Hasnanda Putra)