Banghas

Ilalang Liar Ikrar Lamteh

6360
×

Ilalang Liar Ikrar Lamteh

Sebarkan artikel ini

Sejarah mencatat, Aceh pertama sekali memberi “teguran” pada pusat, pada paruh tahun 1953. Konflik yang kemudian dikenal dengan Darul Islam Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Aceh pecah dipimpin Tgk Daud Beureueh yang sebelumnya menjabat Gubernur Militer Aceh Langkat dan Tanah Karo.

Perjuangan sebagai awal konflik Aceh bisa diselesaikan dengan damai di Gampong Lamteh, Kecamatan Peukan Bada Aceh Besar.

Lamteh telah menoreh andil dalam sejarah Aceh, tempat perjanjian damai atau ikrar kembali bersatu ditandatangani.

Namun sebuah bangunan untuk mengenang perjanjian damai ini tidak terurus dan nyaris tumbuh subur semak belukar.

Bukan hanya sepi dari kunjungan, tapi tempat ini nyaris tidak ada yang mengurus dan menjaganya. Padahal sebagai sebuah situs penting yang mengabadikan perjanjian perdamaian antara Darul Islam Aceh (DI/TII) dengan Pemerintah Indonesia pada 1957, selayaknya menjadi museum sejarah perdamaian ‘merawat ingatan melawan lupa’.

Ikrar Lamteh sebagaimana ditulis di tugu, “Disinoe keuh keuseupakatan dame antara pihak Darul Islam Indonesia ngon Peumeurintah Indonesia bak thon 1957 M. Oeh lheuh Ikrar Lamteh, keuresidenan Aceh nyang watee nyan keuresidenan miyup Sumatera Utara jeut keu provinsi Aceh teuma.”

Nasib dilupakan dalam panggung zaman, membuat Tugu dan Balai Ikrar Lamteh di Gampong Lamteh Peukan Bada ini dipenuhi ilalang liar dengan pintu pagar tertutup rapat, serasa bangunan tua yang tak punya makna.

Sungguh, kita telah melupakan sesuatu yang penting untuk Aceh.(…)